Tentang Salihara

Tentang Komunitas Salihara

profil/gedung-salihara.jpg

Komunitas Salihara adalah sebuah kantong budaya yang berkiprah sejak 08 Agustus 2008, dan pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia.

Berlokasi di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kompleks Komunitas Salihara terdiri atas tiga unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, dan ruang perkantoran. Saat ini, Teater blackbox Salihara adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Pada saat ini kompleks Komunitas Salihara sedang diperluas dengan tambahan fasilitas untuk studio latihan, wisma seni dan amfiteater.

Komunitas Salihara dibentuk oleh sejumlah sastrawan, seniman, jurnalis, dan peminat seni. Sejak berdiri, Komunitas Salihara telah menampilkan berbagai macam acara seni dan pemikiran; sebagian datang dari mancanegara, dan berkelas dunia pula.

Pernah didapuk sebagai “The Best Art Space” (2010) oleh majalah Time Out Jakarta dan sebagai satu dari “10 Tempat Terunik di Jakarta” (2010) versi Metro TV, arsitektur Komunitas Salihara juga dinobatkan sebagai “Karya arsitektur yang menerapkan aspek ramah lingkungan” oleh Green Design Award 2009.

Saat ini Komunitas Salihara banyak dikunjungi oleh masyarakat yang ingin menikmati program-program kesenian dan pemikiran, klasik dan mutakhir, dan bermutu tinggi. Di samping itu, Komunitas Salihara menjadi tempat berkumpul bagi berbagai kelompok minat—misalnya sastrawan, pembuat film, koreografer, arsitek muda, peminat filsafat, penerjemah, pencinta buku, dan lain-lain.

Komunitas Salihara dapat juga disebut pusat kebudayaan alternatif: ia tidak dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, ataupun kedutaan asing.

Visi Komunitas Salihara adalah memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual. Kami perlu menegaskan visi ini, karena di Indonesia saat ini, yang sudah menjalankan demokrasi elektoral dalam dua dasawarsa terakhir, kebebasan berpikir dan berekspresi masih sering terancam dari atas (dari aparat Negara) maupun dari samping (dari sektor masyarakat sendiri, khususnya sejumlah kelompok yang mengatasnamakan agama dan suku).

Dalam pemrograman, Komunitas Salihara memprioritaskan kesenian-kesenian baru. Kebaruan ini adalah, bagi kami, bukan hanya menandakan masyarakat pendukung kesenian yang dinamis, tapi juga sikap kreatif terhadap berbagai warisan kesenian Indonesia dan dunia. Komunitas Salihara mengajak penonton untuk mendukung kebaruan ini. Namun diperlukan proses yang agak panjang untuk mencapai situasi ideal ini. Karena itu, Komunitas Salihara masih menampilkan kesenian yang bersifat “biasa”, yang kami anggap bisa menjadi jembatan bagi penonton umum untuk menuju kesenian baru yang kami maksud. Dengan demikian, kami berharap, pada tahun-tahun mendatang, Komunitas Salihara dapat mementaskan lebih banyak lagi kesenian baru dan memperluas lingkaran penonton yang berwawasan baru pula.

Dalam menjalankan program-programnya, Komunitas Salihara dibantu oleh berbagai lembaga, terutama lembaga-lembaga swasta maupun perorangan. Di samping itu Komunitas Salihara selalu berusaha bekerjasama dengan sejumlah lembaga asing—misalnya pusat-pusat kebudayaan asing yang ada di Jakarta—untuk mendatangkan sejumlah kelompok ke Indonesia.

 

Program Komunitas Salihara

Dalam satu tahun, Komunitas Salihara menampilkan sekitar 100 mata acara pentas tari dan teater, konser musik, pembacaan dan diskusi sastra, pameran seni rupa, pemutaran film, dan bengkel kerja tari, sastra, dan musik. Di samping itu, Komunitas Salihara juga menyelenggarakan diskusi dan ceramah, untuk menggiatkan perbincangan publik yang saat ini belum banyak ruangnya; baik tentang isu yang sedang hangat, maupun pemikiran tokoh dari bidang humaniora tertentu. Relatif dirancang secara jangka panjang, seluruh program disusun oleh Dewan Kurator yang beranggotakan sastrawan dan seniman terkemuka Indonesia.

Di samping program seni dan pemikiran yang berlangsung tiap bulan secara reguler, saat ini Komunitas Salihara memiliki beberapa program khusus sebagai berikut:

FESTIVAL SALIHARA
Festival Salihara adalah peristiwa internasional. Festival dua tahunan ini menampilkan puncak-puncak seni pertunjukan, yaitu karya-karya pentas yang dalam keseluruhan dan kombinasinya satu sama lain merupakan pilihan ideal Dewan Kurator Komunitas Salihara. Termasuk di dalamnya adalah kreasi seniman Indonesia yang dianggap layak-sejajar dengan karya kelas dunia, serta sejumlah pentas perdana (premiere) karya seniman internasional papan atas. Festival Salihara adalah sebuah bunga rampai dari karya-karya tari, teater dan musik dari aneka jenis dan aneka latar belakang.

Festival Salihara adalah persembahan Komunitas Salihara untuk Indonesia, agar negeri ini hadir secara bermartabat di dunia internasional. Secara khusus Festival Salihara juga merupakan persembahan bagi kota Jakarta tempat kita tinggal; sajian rangkaian seni pertunjukan terbaik ini diharapkan dapat memeriahkan Jakarta yang penuh dengan konflik politik ekonomi, kemacetan lalu lintas, serta hiburan industri televisi dan mal.

Diadakan pertama kali pada 2008, Festival Salihara telah menjadi semacam pesta tontonan khalayak luas. Setiap hari selama satu bulan festival, para pemirsa dapat menyaksikan serangkai pementasan di Teater blackbox Salihara dan Galeri Salihara, yang memperluas cakrawala apresiasi mereka. Sementara itu pula, di kompleks Salihara akan berlangsung sejumlah program pendamping yang keseluruhannya akan memperkaya bunga rampai Festival Salihara.

BIENAL SASTRA SALIHARA
Diadakan pertama kali pada 2001, festival sastra internasional dua tahunan ini mempertunjukkan perkembangan sastra kontemporer Indonesia dan dunia, selain juga kekayaan karya-karya klasik dan tradisional. Dengan festival internasional ini kami mencoba menampilkan sastrawan dan karya sastra terbaik yang kami anggap bisa memberikan sumbangan penting bagi perkembangan sastra Indonesia hari ini dan masa akan datang.

Festival ini, sejak 2011 berlangsung selama 1 bulan penuh, terdiri dari program-program seperti: pentas baca sastra, diskusi buku, lokakarya penulisan dan baca sastra, serta  kunjungan sekolah/kampus demi perluasan wawasan sastra di kalangan pelajar/mahasiswa. Bahkan karya pesanan (commission work) berupa penciptaan komposisi musik atau seni rupa berdasarkan puisi-puisi Indonesia yang dipilih oleh Dewan Kurator, hasilnya dipentaskan atau dipamerkan selama berlangsungnya Bienal Sastra. Saat ini Bienal Sastra Salihara adalah peristiwa sastra dua tahunan yang relatif ajek penyelenggarannya di Indonesia.

FORUM SENIMAN PEREMPUAN SALIHARA
Menyertai Hari Perempuan Sedunia 8 Maret dan Hari Kartini 21 April, tiap tahunnya Komunitas Salihara menyelenggarakan rangkaian program bertema perempuan dan oleh seniman perempuan. Dengan program ini, Komunitas Salihara bermaksud secara konsisten memberi tempat bagi para seniman perempuan yang keberadaannya di Indonesia masih terbilang langka, serta memperluas cakrawala apresiasi publik mengenai daya kreasi perempuan, karya-karya para seniman perempuan. 

Tampilnya para seniman-perempuan dalam Forum Seniman Perempuan tidak hanya sebagai alternatif terhadap seniman laki-laki yang masih menjadi mayoritas dalam dunia kesenian Indonesia, tetapi juga untuk memperlihatkan keberagaman dan keseimbangan ekspresi kesenian. Dewan kurator Komunitas Salihara telah memilih sejumlah seniman-perempuan yang pencapaiannya di dunia kesenian Indonesia layak dirayakan karena telah menginspirasi banyak pihak, baik seniman-seniman baru, maupun khalayak awam.

FORUM TEATER SALIHARA
Merupakan rangkaian acara pertunjukan teater realisme, Forum Teater Salihara adalah suatu ikhtiar dalam mendorong potensi keaktoran yang terjadi di panggung teater Indonesia. Dengan motto “kembali pada kekuatan akting”, program ini mencoba merangsang kembali seni bercerita dan seni peran di Indonesia yang saat ini cenderung semakin terabaikan akibat kelangkaan seni peran dan meningkatnya tren genre teater-tubuh.

Pertunjukan teater realis dapat menawarkan refleksi dan proyeksi kehidupan sehari-hari; penonton diajak untuk melakukan rekonstruksi perilaku dan peristiwa, yang dapat mengasah penghayatan dan empati sosial. Dalam hal ini, seni akting/seni bercerita menjadi penting, terlebih lagi karena mayoritas penonton Indonesia masa kini baru terbiasa dengan cerita dalam bentuk film, dan belum memberikan fokus pada penokohan yang hidup di atas panggung.

SALIHARA JAZZ BUZZ
Salihara Jazz Buzz adalah rangkaian konser musik jazz yang menghadirkan komposisi-komposisi terbaru yang eksploratif, cerdas, penuh inovasi, dan segar, yang tidak ditemui di panggung jazz pada umumnya. Untuk forum ini, para komponis-musisi jazz terkemuka menghadirkan formasi dan himpunan karya terbaru.

Salihara Jazz Buzz bertujuan untuk menawarkan pada khalayak suatu standar mutu dalam khazanah musik jazz. Dengan menonton rangkaian konser jazz yang terjaga mutunya, masyarakat akan memperluas apresiasi sekaligus turut mendorong perkembangan khazanah jazz di tanah air.

DISKUSI BULANAN SALIHARA
Diskusi Bulanan Salihara mencoba merangsang pemikiran dan latihan intelektual di seputar tema yang hangat dari berbagai bidang. Dirancang 12 kali dalam setahun, diskusi bulanan menampilkan berbagai tokoh yang kami anggap memiliki ketajaman dan keseriusan dalam menelaah persoalan yang diajukan. Dengan format dua pembicara dan satu moderator diskusi bulanan menawarkan diskusi yang serius penelaahannya tetapi santai penyajiannya.

Berbagai kalangan telah menghadiri Diskusi Bulanan Salihara. Terutama mereka yang tertarik pada perdebatan yang hangat dan mendalam pada tema-tema tertentu yang tengah menjadi bahan pembicaraan. Mulai dari seniman, akademisi, mahasiswa, penikmat seni hingga anak sekolah. Berlangsung di Serambi Salihara Diskusi Bulanan Salihara mencoba menjawab kegelisahan sementara orang tentang masih kurangnya kegiatan diskusi yang mendalam di tengah kehidupan warga Jakarta yang serba-cepat dan kering.

SERI KULIAH UMUM SALIHARA
Seri Kuliah Umum Salihara adalah rangkaian ceramah tentang tema-tema menarik dengan cara yang jauh dari kesan kaku dan formal, mulai dari filsafat, erotika, agama,  hingga sastra. Kerap dirancang dalam empat pekan berturut-turut, dalam setiap serinya Kuliah Umum menampilkan tema-tema khusus yang berbeda satu sama lain tetapi saling berkaitan dan merupakan turunan dari tema besar yang mengikatnya. Ceramah berlangsung di Teater Salihara dengan penceramah yang berasal dari kalangan akademisi dan kaum intelektual yang kami anggap mumpuni dengan retorika yang baik dan komunikatif.

Seri Kuliah Umum mencoba ikut menumbuhkan kegiatan transformasi pengetahuan yang selama ini sudah dijalankan oleh lembaga pendidikan, tetapi dirasakan masih kurang tersebar dan terikat pada syarat akademis tertentu. Dalam Seri Kuliah Umum khalayak mana pun yang haus pengetahuan bisa menjadi pesertanya. Makalah dari masing-masing penceramah bisa didapatkan sebagai bahan rujukan selama mengikuti Kuliah Umum.

 

Dari Utan Kayu ke Komunitas Salihara
Komunitas Salihara berdiri pada 2008, tetapi sejarahnya telah dimulai sejak 1994.

Sekitar setahun setelah majalah Tempo diberedel pemerintah Orde Baru pada 1994, sebagian pengasuh majalah tersebut, bersama sejumlah wartawan, sastrawan, intelektual dan seniman mendirikan Komunitas Utan Kayu. Berbentuk sebuah kantong budaya di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta Timur, Komunitas Utan Kayu terdiri atas Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Galeri Lontar, Teater Utan Kayu (TUK), Kantor Berita Radio 68H, dan Jaringan Islam Liberal.

Tiga di antaranya yang bergerak di lapangan kesenian—Galeri Lontar, Teater Utan Kayu, dan Jurnal Kebudayaan Kalam (jurnal ini terbit sejak awal 1994, dengan dukungan penuh majalah Tempo)—secara terus-menerus berupaya menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual, baik melalui pertunjukan kesenian, pameran seni rupa, ceramah dan diskusi tentang beragam topik, maupun lewat tulisan yang diterbitkan Kalam.

Galeri Lontar memamerkan karya para seniman dalam dan luar negeri berupa gambar, lukisan, karya grafis, foto, patung, atau instalasi—terutama berdasarkan kualitas dan semangat inovatifnya. Galeri ini telah memperkenalkan para seniman yang kini menempati posisi terdepan dalam khazanah seni rupa Indonesia.

Teater Utan Kayu secara berkala menyelenggarakan pementasan lakon, musik, tari, pemutaran film, serta ceramah dan diskusi tentang kebudayaan, seni, dan filsafat. Teater ini memberi ruang seluas-luasnya bagi seniman dari khazanah tradisi maupun seniman mutakhir yang ingin bereksperimen dan menawarkan kebaruan.

Komunitas Utan Kayu pun sudah biasa mengelola kegiatan berskala internasional, di antaranya Jakarta International Puppetry Festival (2006), Slingshort Film Festival (2006), dan International Literary Biennale yang berlangsung tiap dua tahun sejak 2001.

Setelah berusia sekitar satu dekade, sayap kesenian Komunitas Utan Kayu bertekad meneruskan dan mengembangkan apa yang telah dicapai. Demi menampung perluasan aktivitas itu, para pendiri dan pengelolanya lantas mengambil prakarsa membangun kompleks Komunitas Salihara.

Dari segi rancang bangun, kompleks Komunitas Salihara dapat dipandang sebagai sebuah percobaan arsitektur yang unik. Ia karya tiga arsitek dengan kecenderungan masing-masing—gedung teater dirancang oleh Adi Purnomo, gedung galeri oleh Marco Kusumawijaya, dan gedung perkantoran oleh Isandra Matin Ahmad. Ketiganya kemudian duduk bersama untuk memadukan rancangan ke dalam visi yang sama: membangun rumah baru bagi kesenian dan pemikiran yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Berdiri sejak 2008, Komunitas Salihara tumbuh bersama khalayak yang makin cerdas, terbuka, dan demokratis. Para pengelolanya percaya bahwa kepiawaian di bidang seni adalah investasi yang tak ternilai bagi pertumbuhan masyarakat Indonesia sejak hari ini. Khalayak adalah bagian sangat penting dalam menyuburkan kepiawaian tersebut.

Dokumentasi foto ruang komunitas salihara

(0 views)

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.