Manajemen Salihara

Dian Ina

management/dian-ina-2.jpgLulus dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, namun menemukan panggilan hidupnya melalui seni dan kebudayaan. Dia sempat menjadi manajer sebuah kelompok musik independen dan eksperimental bernama Melancholic Bitch sebelum menjadi penyiar radio, pekerjaan yang membuatnya berjaringan dan berpengalaman dalam menyelenggarakan berbagai acara, festival dan proyek seni di Yogyakarta dan Malang. Pada tahun 2009 dia memenangkan sebuah kompetisi membuat blog yang memberinya kesempatan mengikuti Summer Course “Kebudayaan dan Identitas Eropa” di Universiteit Utrecht, Belanda. Setelah lebih dari lima tahun mengelola Komaneka Fine Art Gallery di Ubud-Bali, dia bergabung dengan Komunitas Salihara dan bekerja sebagai manajer Galeri Salihara.

Ening Nurjanah

Ening Nurjanah

Pernah kuliah di Insitut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa Prancis. Ia mengawali karier sebagai reporter di Djakarta City Life Magazine pada tahun 2000,  dan pada akhir 2003 bergabung dengan Oktagon, sebuah galeri seni dan fotografi kontemporer. Ening pernah bekerja sebagai project manager untuk beberapa acara fotografi, antara lain: seminar, lokakarya, dan pameran fotografi “Fashion Artwork” karya Geoff Ang (Singapura), 2003; lokakarya dan pameran fotografi “The Master Class Klavdij Sluban” (Prancis), 2004; dan “Pelangi di Serambi Aceh”, sebuah pameran fotografi yang dipersembahkan untuk korban bencana tsunami di Aceh, 2005. Ia menjadi project officer untuk Festival Fotografi dalam rangka memperingati 60 Tahun Indonesia Merdeka di Museum Nasional Jakarta dengan kurator M. Firman Ichsan, 2005. Sejak 2004  ia bergabung dengan Qmunity menyelenggarakan Q Film Festival yang berbasis pada wawasan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT)  dan menjadi Anggota Dewan Qmunity periode 2007-2010. Terhitung mulai Juni 2008 Ening bekerja di Komunitas Salihara sebagai manajer program, dan bersama teman-teman dari gerakan perempuan menyelenggarakan V Film Festival (Women Film Festival) serta menjadi direktur V Film Festival 2009.

Irma Chantily 

IrmaMerupakan penikmat fotografi, meski sama sekali bukan fotografer. Ia beberapa kali menulis tentang fotografi di media massa cetak dan online serta sering terlibat dalam produksi pameran foto atau seni rupa—baik sebagai kepala proyek, asisten kurator, penulis atau pun editor. Walau belum cukup sering atau pun mahir, Irma juga gemar melibatkan diri pada beberapa proyek penelitian fotografi Indonesia.

Irma bergabung dengan Komunitas Salihara sejak 2011. Satu tahun kemudian ia menjadi Manajer Arsip dan Dokumentasi--sambil terkadang tetap memenuhi panggilan menjadi pengajar lepas di Departemen Fotografi, Institut Kesenian Jakarta.

Zen Hae

 Zen HaePenulis puisi, cerita, dan esai sastra. Telah menghasilkan dua buku: kumpulan cerita Rumah Kawin (KataKita, 2004) dan buku puisi Paus Merah Jambu (Akar Indonesia, 2007)—yang terakhir ini mendapatkan predikat “Karya Sastra Terbaik 2007” dari majalah Tempo.

Menamatkan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada 1994. Pernah menjadi wartawan, pekerja  LSM, penulis naskah infotainmen dan dosen paruh waktu. Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2006—2012) dan Ketua Bidang Kajian dan Kritik DKJ (2011—2012).

(0 views)

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.