Dian Ina
Lulus dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, namun menemukan panggilan hidupnya melalui seni dan kebudayaan. Dia sempat menjadi manajer sebuah kelompok musik independen dan eksperimental bernama Melancholic Bitch sebelum menjadi penyiar radio, pekerjaan yang membuatnya berjaringan dan berpengalaman dalam menyelenggarakan berbagai acara, festival dan proyek seni di Yogyakarta dan Malang. Pada tahun 2009 dia memenangkan sebuah kompetisi membuat blog yang memberinya kesempatan mengikuti Summer Course “Kebudayaan dan Identitas Eropa” di Universiteit Utrecht, Belanda. Setelah lebih dari lima tahun mengelola Komaneka Fine Art Gallery di Ubud-Bali, dia bergabung dengan Komunitas Salihara dan bekerja sebagai manajer Galeri Salihara.
Rama Thaharani
Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini mengawali kiprahnya di bidang manajemen seni dengan menjadi wakil sekjen Jeunesses Musicales Indonesia, serta manajer National Youth Orchestra Indonesia di tahun 2001. Setelah itu ia menangani sejumlah produksi seni pertunjukan. Beberapa di antaranya adalah konser multimedia L’Histoire du Babar (2005) bersama pianis Iswargia Sudarno, opera Samson et Dalila (2004) dan konser Mozart’s Coronation Mass (2006) bersama Batavia Madrigal Singers dan Jakarta Chamber Orchestra pimpinan Avip Priatna, konser paduan suara Asiaccatura (2007), konser Tianjin Symphony Orchestra (2007), Jakarta New Year’s Concert 2006-2007 bersama Ananda Sukarlan, pentas Je.ja.l.an (2008) bersama Teater Garasi, serta opera Sang FX (2008) bersama Remy Sylado. Keterlibatannya dengan Komunitas Utan Kayu (kemudian Komunitas Salihara) diawali saat menangani opera The King’s Witch (2006) karya Tony Prabowo dan Goenawan Mohamad, dan kemudian Utan Kayu Literary Biennale 2007, serta pameran fotografi Another Asia: Jakarta Edition (2008). Rama adalah manajer hubungan masyarakat Komunitas Salihara.
Ening Nurjanah
Pernah kuliah di Insitut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa Prancis. Ia mengawali karier sebagai reporter di Djakarta City Life Magazine pada tahun 2000, dan pada akhir 2003 bergabung dengan Oktagon, sebuah galeri seni dan fotografi kontemporer. Ening pernah bekerja sebagai project manager untuk beberapa acara fotografi, antara lain: seminar, lokakarya, dan pameran fotografi “Fashion Artwork” karya Geoff Ang (Singapura), 2003; lokakarya dan pameran fotografi “The Master Class Klavdij Sluban” (Prancis), 2004; dan “Pelangi di Serambi Aceh”, sebuah pameran fotografi yang dipersembahkan untuk korban bencana tsunami di Aceh, 2005. Ia menjadi project officer untuk Festival Fotografi dalam rangka memperingati 60 Tahun Indonesia Merdeka di Museum Nasional Jakarta dengan kurator M. Firman Ichsan, 2005. Sejak 2004 ia bergabung dengan Qmunity menyelenggarakan Q Film Festival yang berbasis pada wawasan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) dan menjadi Anggota Dewan Qmunity periode 2007-2010. Terhitung mulai Juni 2008 Ening bekerja di Komunitas Salihara sebagai manajer program, dan bersama teman-teman dari gerakan perempuan menyelenggarakan V Film Festival (Women Film Festival) serta menjadi direktur V Film Festival 2009.
Surya Bantrang Jenar
Surya Bantrang Jenar biasa dipanggil Jadug lahir di Purwokerto, Jawa Tengah. Ia bergabung dengan Komunitas Salihara sejak Juli 2009 sebagai staf teater di bidang tata cahaya. Mengenyam pendidikan formal di ISI Surakarta, ia lulus sebagai sarjana muda bidang studi Tata Rupa Pentas pada 2002. Mengikuti program lokakarya tata cahaya dan tata panggung dengan tutor Soga Masaru (Jepang), Bert Neuman (Jerman), Clyfton Taylor (AS), Iskandar K. Loedin dan Sony Sumarsono (Indonesia), Marcus Dhosi (AS). Jadug pernah bekerja di Ajang Gelar ISI Surakarta sebagai tenaga teknis tata cahaya gedung Teater Kecil dan Teater Besar sejak 1998 hingga 2000, serta di Taman Budaya Surakarta. Selain itu ia membantu penyelenggaraan sejumlah acara kesenian, misalnya BSF (Bengawan Solo Festival) dan pementasan I La Galigo. Sejak 1998 hingga 2008 ia banyak bekerja dengan seniman tari, musik, dan teater di Surakarta baik dalam pementasan ujian akhir akademik, festival, maupun pentas tunggal di berbagai kota di Indonesia.
English






