Suara Sahabat

Untuk mendapatkan kekedapan yang baik di gedung teater, saya menggunakan batu bata untuk melapis dinding beton. Bata sangat responsif terhadap pemantulan dan penyerapan bunyi. Saya mau coba hadirkan profil rongga dan profil solid dengan bata. Ada sifat bunyi yang butuh pantulan, ada sifat bunyi yang butuh diserap. Untuk menghadirkan profil rongga dan solid itu, dinding bata saya susun dengan bentuk merotasi. Di bagian bawah masih datar, untuk benar-benar memantulkan suara. Menaik, susunan bata dirotasi 5 derajat, untuk menangkap arah suara yang dari mana pun bisa terpantul dan terserap. Dengan ini saya bisa menghadirkan bukan hanya bangunan, tapi juga rasa dan energi. Selain pendekatan material, saya juga menggunakan pendekatan dari semangat ruangnya sendiri, semangat kegiatan yang terjadi di ruang tersebut. Saya pikir, teater itu bisa diadakan di mana pun. Tanpa ada bangunan juga tidak apa-apa. Jadi saya juga mengusulkan agar atap bangunan teater itu dipakai sebagai teater terbuka sekalian. Jadi sekali membangun kita mendapat dua jenis teater. Karena ruang itu sebetulnya ada di mana-mana.
 
Adi Purnomo, Arsitek Teater Salihara
 
Teater Salihara akan menjadi fasilitas bagi berbagai bentuk seni dengan eksplorasi bunyi dan suara yang beragam. Maka masalah akustik menjadi penting. Perencanaan akustik meliputi akustik ruangan dan pengendalian bising untuk mendapatkan suara yang jelas, tidak berdengung, cukup merata, tanpa cacat akustik seperti gema dan konsentrasi suara. Letak gedung Teater Salihara yang terlindung oleh bangunan lain juga sangat menguntungkan, karena bising dari luar akan tereduksi. Pencahayaan alami dari atap (skylight) dapat memberikan efek visual yang baik bagi Galeri Salihara sebagai ruang pameran. Agar terjadi ventilasi gaya termal, aliran udara masuk dari lubang yang berada di lantai dan keluar dari bukaan ventilasi di dinding bagian atas. Dan demi efek akustik yang optimal, dirancang langit-langit yang terbuat dari bahan yang menyerap suara. Soal akustik dan pencahayaan pada bangunan kantor Komunitas Salihara diatasi dengan langit-langit yang menyerap suara, juga bukaan ventilasi yang cukup berupa jendela-jendela yang sesuai untuk memasukkan cahaya alami. Perancangan akustik, ventilasi, dan pencahayaan tidak berdasarkan mazhab tertentu, melainkan menggunakan hukum fisika yang berlaku universal. Khusus untuk ventilasi dan pencahayaan alami, diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik bahan-bahan lokal, serta kondisi iklim di Indonesia yang tropis lembab dengan cahaya alami yang melimpah.

Soegijanto, Guru Besar Fisika Teknik ITB, Konsultan Fisika Bangunan dan Akustik Ruangan Komunitas Salihara

Teater Salihara itu black box, jadi letak dan ukuran panggungnya fleksibel, sehingga alat-alat juga harus begitu. Portabilitas harus tinggi. Artinya, peralatan gampang dipindah ke sana-ke mari sesuai kebutuhan. Untuk itu, kabel audio yang diperlukan luar biasa panjang, sekitar 8.000 meter. Kita harus lakukan ini, sebab wireless punya banyak kendala, misalnya akan terinduksi oleh pemakaian ponsel. Di luar soal teknis tata suara, saya berharap agar Salihara menjadi bukan hanya tempat pertunjukan, tapi juga tempat studi dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan begitu orang teknik itu bekerja dengan cara menjemput bola. Dia ramah dan fleksibel, sanggup memahami aspirasi seniman, memiliki keinginan mengembangkan diri. Dia paham, walaupun kemampuan teknisnya tinggi, bahwa puncak pertunjukan adalah sajian karya seni itu sendiri.

Totom Kodrat, Konsultan Tata Suara Komunitas Salihara

Dinding Galeri Salihara yang berbentuk oval tidak punya ujung tidak punya pangkal. Dengan tidak adanya batas pada sudut, seniman dapat leluasa memajang karyanya.
Yang penting dari sebuah galeri adalah bagian dalamnya, yaitu karya-karya yang akan dipamerkan, bukan gedungnya. Tugas sebuah gedung galeri hanya memberikan suatu ruang yang optimal untuk memamerkan karya seni dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, yang penting adalah cahaya dan pengudaraan. Ruang dalam perlu diberi cahaya alami semaksimal mungkin.

Karya-karya yang peka terhadap kelembaban dan suhu tetap harus ber-AC. Kalau hanya untuk kenyamanan orang, tidak perlu AC karena jendela di atas bisa dibuka, kemudian di lantai bawah ada lubang angin. Jadi ada arus udara yang bisa bergerak dari bawah ke atas.

Dari luar, bidang melengkung itu juga membuat ruang-ruang di antara galeri dan dua bangunan lainnya terasa lebih leluasa. Keleluasaan itu menegaskan pembentukan ruang yang melebar dan menyempit menjadi lebih hidup. Secara visual hubungannya menjadi lebih kuat, karena bentuk oval itu berinteraksi dengan bidang-bidang bangunan lainnya yang berbentuk kotak. Jadi galeri oval itu membedakan sekaligus membentuk kesatuan dengan cara yang berbeda, yang lebih dinamis.

Marco Kusumawijaya, Arsitek Galeri Salihara

Bangunan kantor Komunitas Salihara memberi kesan melayang, agar terasa lebih ringan. Untuk menciptakan efek lepas di bagian bawahnya, seluruh sisi diberi dinding kaca. Bagian depan diberi tembok untuk menyerap suara yang berasal dari Jalan Salihara, dan untuk menghindari cahaya matahari barat yang memberi panas.
Bagian yang terbuka adalah sisi yang ke arah utara dan selatan, dengan menggunakan kerawang agar cahaya masuk secukupnya untuk meminimalkan penggunaan AC, serta agar Salihara dan permukiman sekitar tidak saling menelanjangi. Lampu juga tidak perlu dipakai di siang hari karena bangunan menggunakan sistem void dan sistem skylight dari atas.

Kantor itu terdiri sekitar empat lantai. Dua lantai pertama diperuntukkan bagi kurator dan manajemen. Di bawahnya adalah perpustakaan, toko cinderamata, dan WC untuk seluruh kompleks.

Di basement ada tempat menginap buat para seniman. Jalan masuk ke Wisma Seniman dirancang sedemikian rupa sehingga seniman bisa bebas tanpa harus terlihat, tetapi tetap mendapatkan terang sinar matahari. Desain perpustakaan tidak flat, saya buat seperti dua lantai. Langit-langit dibuat tinggi supaya bisa ada semacam mezanin. Jadi, secara keseluruhan, kompleks Komunitas Salihara terdiri dari bangunan-bangunan yang punya karakter dan permainan ruang yang khas.

Isandra Matin Ahmad, Arsitek Bangunan Perkantoran Komunitas Salihara
 
Teater black box Salihara adalah harapan untuk kita semua, untuk komunitas seni pertunjukan sekarang, terutama untuk orang lighting. Karena gedung-gedung pertunjukan di Jakarta ini hanya memiliki sistem pencahayaan sekadarnya. Teater Salihara akan menantang setiap lighting designer di Indonesia karena ia dapat menampung sebanyak mungkin ide desain pencahayaan. Ia memberikan peluang akan penempatan titik cahaya dan distribusi cahaya yang maksimal.

Iskandar K. Loedin, Konsultan Tata Cahaya Komunitas Salihara

(0 views)

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.