Belanja

Buai Tak Selalu Menimang

Helatari Salihara 2015 dibuka oleh Indra Zubir’s Dance dengan karya berjudul Buai (Udara). Indra Zubir yang menjadi koreografer karya ini memadukan bentuk tari Buai-Buai khas Minangkabau dengan kosagerak tarian modern, di antaranya tarian pop Suffle. Indra merajut paduan antara gerak berbasis tari tradisi dengan modern itu dalam karya yang berarti “ayunan seorang ibu kepada anaknya”.

“Tari Buai-Buai saat ini bisa disebut sudah hampir punah. Semakin sedikit yang menarikannya di Padang,” kata Indra. Menurutnya, popularitas Buai-Buai sebagai tarian tradisional kalah bila dibanding dengan tari Piring dan lainnya. Di Padang, Buai-Buai lazim ditarikan pada masa panen. Berbeda dari kebanyakan tari Minangkabau yang pekat dengan gerak silat, Buai-Buai justru tidak. Menurut Indra, Buai-Buai didominasi gerakan mengayun dan cenderung monoton karena motif gerak yang tak banyak bentuknya.

Motif gerak Buai-Buai berupa ayunan tangan dan gerak rentak kaki sebenarnya juga lazim muncul dalam tarian lain khas Minangkabau. Di tangan Indra, Buai-Buai yang berkelindan dengan Shuffle dijahit dalam narasi buai kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dibuka dengan gerak menimang anak, karya ini kemudian berlanjut dengan kosagerak yang tak selalu menunjukkan timang tangan. Motif gerak yang tak berhenti pada timangan ibu kepada anak seturut dengan narasi yang diperdengarkan di panggung. Narasi itu menceritakan laki-laki yang lahir di ranah Minang lalu besar dalam perantauan dan segala lakon hidupnya. Anak yang merantau itu tetap terjamah oleh kasih sayang ibu lewat kemunculan sosok penari perempuan di sekitar penari pria pemeran anak yang telah dewasa.

Buai (Udara) menampilkan lakon hidup manusia dari lahir, tumbuh dewasa, merantau hingga mereguk sukses besar. Karya ini diakhiri dengan sosok penari pemeran sang anak yang harus dilucuti kebesarannya karena tak lagi amanah. Indra mengakui ada banyak interpretasi pada karya ini. “Penonton bisa saja memberikan interpretasinya sendiri,” katanya. Menurut Indra, ia bersama para pendukung pertunjukan ini membutuhkan waktu selama dua bulan untuk mematangkan karya. Ada banyak perubahan dan penyesuaian pada proses latihan Buai (Udara) sebelum naik panggung membuka Helatari Salihara tahun ini.

Indra Zubir’s Dance didirikan pada 1999 dengan nama INZ Dance Production di Teater Utan Kayu kala menyelenggarakan pementasan tunggal 3 karya: Insan, Sansai dan Saat yang diprakarsai oleh mahasiswa Manajemen Seni Pertunjukan IKJ. Bersama Indra Zubir’s Dance, Indra tekun pada pementasan karya-karya tari kontemporer eksperimental yang bertolak dari genre tari tradisi Indonesia, teknik tari modern dan tarian populer masa kini. Karya kereografinya, tak kurang dari 25 karya, kerap mengabungkan tari dengan unsur-unsur teatrikal dan musikalisasi bunyi. Di produksinya kali ini, Indra Zubir didukung oleh Syahrial Tando sebagai penata musik dan M. Aidil Usman pada tata panggung. Rizki Alma'u Filbahri, Novia Hadi Putri dan Putri Jingga Aura menjadi penari yang membawakan Buai (Udara). (Hendromasto Prasetyo)

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.