Belanja

Cablaka: Menguak Tubuh Panggung “Pinggiran”

Oleh: Michael HB Raditya

 

Seorang perempuan berbusana merah muda terus menggoyangkan pinggulnya membelakangi penonton secara cepat dan berirama. Perlahan, ia mengarahkan pandangannya ke arah penonton dengan menggenggam sebuah pisang. Lantas pisang tersebut menjamah ruas demi ruas tubuhnya, mulai dari kepala, leher, dada hingga bagian perut. Kesan erotis tak terhindarkan. Setelahnya ia kembali membelakangi penonton dan menggerakkan pinggulnya tanpa henti. Alih-alih berulang, perempuan tersebut kembali menghadap penonton, namun ia menatap penonton dengan tajam laiknya tengah murka. Kemudian ia menggenggam pisang tersebut dengan kuat dan mematahkannya seketika. Persis dengan pisang yang terbelah, kesan erotis pun turut—sekaligus harus—dipatahkan.

Sebuah pertunjukan bertajuk Cablaka karya koreografer muda, Otniel Tasman tampil di luar dugaan. Secara artikulatif, Otniel memaparkan pelbagai hasil temuannya berdasarkan perkawinan dua kesenian pinggiran—sekaligus yang terpinggirkan, yakni kesenian lengger dan dangdut koplo yang berkembang di Banyumas. Otniel melihat perkelindanan tersebut sebagai salah satu cara dari mereka untuk bertahan hidup. Alih-alih hanya menampilkan semata, Otniel menelisik narasi dan tubuh—performer dan kesenian—sebagai artikulasi dari kompleksitas kedua kesenian tertaut. Dari amatan tersebut, Otniel menerjemahkannya selama 60 menit dalam pentas “perdana dunia” di Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018, Teater Salihara, Jakarta pada 8 dan 9 Agustus 2018.

Di dalam karya terbarunya, Otniel menyisipkan gerak dan irama dangdut guna menstimulasi kesan erotis. Namun yang menarik, ia tidak menanggalkan struktur dari kesenian lenggeran, musik calung, cengkok dan karakteristik vokal kesenian Banyumasan. Dalam pengejawantahannya, Otniel selaku koreografer bekerja bersama empat penari lainnya, yakni Mekratingrum Hapsari, Sutrianingsih, Aditiar, dan Ahmad Saroji. Sedangkan untuk musik, Otniel bekerja sama dengan Gondrong Gunarto (komposer), Deny Kumoro (asisten komposer), Yenny Arama dan Jungkung (pemusik). Tidak hanya itu, dalam mendukung karyanya, Otniel mempercayakan Yunianto Dwi Nugroho (penata cahaya), Suprapto Hadi Winata (penata busana), serta Sekar Handayani, Dany Wulansari dan Rizki (manajemen). Karya yang dipentaskan bersamaan dengan peringatan 10 Tahun Komunitas Salihara ini kiranya memberikan ruang pemahaman atas kemungkinan narasi-narasi liyan yang terjadi namun (sengaja) tak disentuh. 

 

Menggoyang Mitos Tubuh

Cahaya teram temaram mulai menyala, lima orang tersebar di arena panggung laiknya tengah berpose. Diam tanpa suara, mereka menggenggam pisang dengan gaya yang beraneka, semisal berpose menyanyi, duduk bersandar, hingga tidur bersantai. Perlahan mereka mulai membuka pisang yang mereka genggam. Alih-alih dimakan, pisang tersebut dikulum terlebih dahulu sebelum mereka santap beberapa gigitan. Kemudian mereka melempar pisang tersebut secara acak ke luar panggung. Lalu mereka menghembuskan nafas secara perlahan dan cepat secara bergantian, hingga membentuk satu alur suara dari pernafasan yang terdengar ambigu.

Setelahnya mereka mulai berkumpul di tengah panggung dan bergerak secara serentak, membuat pola gerak menarik dari etude gerak kesenian lengger dan geol pinggul dari dangdut. Formasi dan pola lantai yang mereka lakukan pun cukup variatif ke pelbagai sisi depan panggung. Tak lama berselang, tiga penari melangkah mundur ke pinggir panggung bagian belakang, sementara dua lainnya, Otniel dan Tria tengah berhadapan dan mulai bergerak secara serentak. Sambil bertelut, mereka bergerak membentuk lingkaran yang tidak terputus sembari menyisipi gerakan kontak tubuh di antaranya.

Alih-alih berlangsung dengan pola yang seragam, Otniel tidak segan untuk “bermain-main” dengan jumlah penari di panggung (on stage). Hal ini terwujud pada bagian tengah pertunjukan di mana penari di panggung tidak selalu berjumlah lima orang—terkadang empat, tiga, hingga dua saja. Semisal ketika penari di panggung hanya berjumlah empat, sedangkan satu penari lainnya kembali memasuki panggung sebagai bagian yang lain dan menyematkan sebuah benda yang dikenakan di salah satu kepala penari. Di sini, seberapa banyak jumlah penari on stage turut ditautkan dengan narasi apa yang tengah dibangun.

Secara lebih lanjut, Otniel menautkan pelbagai kompleksitas dangdut dan lengger di dalam karyanya. Rangkaian kompleksitas yang diartikulasikan Otniel menyusun narasi atas persoalan tubuh performer dan tubuh kesenianbaik lengger ataupun dangdut. Sebut saja soal narasi tubuh dan imajinasi seksual yang coba dihadirkan dengan visual yang berbeda. Semisal ketika empat penari tersebar di hadapan penonton dan mengucap “telembuk” dan “silitmu miring”. Kontak tubuh antara satu dengan yang lain pun cukup berani, misalnya gerakan berpelukan dan maju mundur di bagian pinggul secara serentak, penari perempuan merayap di antara kaki penari laki-laki dan sebagainya.

Selain itu, Cablaka turut menautkan praktik dangdut secara langsung. Di mana Tria mulai menyapa penonton dengan mengatakan “Jakarta digoyang”, dengan nada yang khas Banyumas. Setelahnya ia menyusun percakapan laiknya ia adalah seorang biduanita. Tidak hanya menyanyi, ia turut berjoget bahkan hingga di tengah area penonton. Tentu hal ini menarik, pasalnya Tria membawa entitas Banyumas ke atas panggung dengan gerakan ngebor ala penyanyi dangdut. Atas kejadian ini, banyak penonton yang menanggapi dengan tawa. Kendati jenaka, namun dengan menautkan dangdut an sich ke atas panggung, kiranya Otniel tidak hanya mengurai saling sengkarutnya kompleksitas tetapi juga memaparkan persoalan yang berlapis pada kedua kesenian tersebut.

Dari karya ini, Otniel telah berhasil membawa kompleksitas tersebut ke dalam pertunjukan. Kompleksitas-kompleksitas tersebut disusun dan ditandai dengan satu perubahan artistik, khususnya pada penataan lampu yang bertaut dengan gerak para penari. Gerakan mereka yang berbeda dari satu kompleksitas ke kompleksitas lain membuat satu pesona tersendiri. Namun kiranya, kompleksitas yang dibawa terasa sangat tebal. Alhasil perlu adanya satu klimaks di dalam pertunjukan yang dapat menjawab luapan-luapan persoalan. Di mana Otniel kiranya dapat selektif dalam mempertimbangkan kompleksitas yang diangkat secara tepat. Sedangkan di pertunjukan, momen klimaks terjadi ketika Tria menggoyangkan pinggulnya sambil menyanyi dangdut sembari membelakangi penonton. Lalu ketika menghadap penonton ia menggenggam sebuah pisang yang selanjutnya ia rentangkan ke tubuhnya, dengan adegan puncak ketika ia menatap tajam dan mematahkan pisang menjadi dua. Momentum inilah yang kiranya dibuat untuk “menyerang balik” segala kompleksitas tubuh dan erotisme yang diangkat sebelumnya.

Setelahnya, di bagian akhir Otniel mengenakan kain berwarna cokelat polos yang menutup tubuh bagian bawahnya. Otniel tengah meratap di dinding belakang panggung dengan pancaran cahaya keemasan dari atas. Empat penari lain mulai memasuki panggung. Tria bernyanyi dangdut, satu putaran refrein dan selanjutnya diikuti penari lain. Otniel di bagian belakang menari dengan tenang dengan arah condong ke bagian atas—laiknya representasi akan transendental. Berlangsung tiga putaran refrein, lampu perlahan padam. Dalam hal ini, mereka laiknya ingin menunjukkan bahwa kesenian bukanlah media pelengkap nafsu tubuh melainkan pemuas hasrat jiwa.

 

Yang Terjadi dan Tak Tersentuh  

Karya-karya Otniel memang menarik perhatian, sebut saja beberapa karya sebelumnya, seperti I will Survive (2016), Sintren (2016), Stand Go Go (2017), Nosheheorit (2017) dan Lengger (2018). Dalam hal ini, Otniel selalu membawa renungan dari narasi lokal yang kerap tidak diindahkan oleh sebagian banyak orang. Dan karya Cablaka kiranya turut bekerja pada ranah tersebut. Di mana Otniel menyingkap praktik lengger dan dangdut koplo yang renta dengan persoalan tubuh dan ihwal-ihwal alienasi (baca: keterasingan) atasnya.

Sebut saja kesenian lengger, ia adalah kesenian daerah Banyumas yang kerap dipertunjukkan guna “syarat” pada perayaan siklus hidup, seperti perayaan panen, tolak bala, ruwatan dan sebagainya. Intinya, lengger digunakan sebagai ucapan syukur kepada sang empunya kehidupan. Namun yang cukup disayangkan, kesenian lengger kerap dianggap sebelah mata oleh masyarakat karena soal tubuh.

Hal ini kiranya tidak jauh berbeda dengan praktik dangdut koplo. Kesenian yang muncul tahun 1990-an ini muncul sebagai interpretasi masyarakat lokal atas dangdut dominan—sekaligus medium perlawanan atas narasi tunggal dangdut ala Rhoma Irama. Hal yang cukup mengenaskan, masyarakat banyak mengenal dangdut koplo karena persoalan goyang pinggul yang terlalu berani. Namun jika kita pergi ke Jawa Timur, kesenian inilah yang kiranya berperan besar sebagai media masyarakat dalam merayakan sebuah fase atau siklus hidup masyarakat di daerah Pantura dan sekitarnya. Tiada perayaan tanpa dangdut koplo.

Lantas, apakah citra goyang dan erotis masih terjadi pada dangdut koplo? Terlebih dengan kehadiran Via Vallen, Nella Kharisma, Ratna Antika, Jihan Audy dan biduanita lainnya yang telah mengubah citra tersebut. Dalam hal ini, Otniel menyingkap apa yang terjadi namun kerap tidak diindahkan atas dangdut koplo. Otniel mengajak kita melihat praksis dari dangdut koplo daerah yang lain, di mana praktik tubuh biduanita sebagai komoditas masih terus langgeng. Hal ini kiranya benar, di mana masih banyak praktik kopi pangku yang masih terjadi di daerah-daerah kecil. Kopi pangku kerap menggunakan dangdut dalam praktiknya sehari-hari. Dan kiranya masih banyak lainnya praktik penggunaan dangdut koplo untuk hal-hal yang negatif.

Bertolak dari hal tersebut, Otniel mencoba mengupas praktik tubuh yang terjadi pada bingkai kesenian namun (sengaja) tidak disentuh. Di mana masyarakat hanya membiarkannya menjadi rahasia umum tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan melalui Cablaka—yang berarti satu karakter Banyumasan yang bermakna tanpa basa-basi dan blak-blakan—Otniel melihatnya sebagai satu kejanggalan yang tidak hanya ia uraikan secara jujur, namun coba ia selesaikan. Dari karya ini, kita dapat meresapi bahwa kesenian tidak semurah komoditas yang diperdagangkan, tidak sesederhana penampilan tubuh yang bergoyang. Ia, kesenian pinggiran, lengger atau dangdut koplo adalah kesenian yang lebih dari itu, di mana mereka dapat mempersatukan perbedaan dari gundah yang ada. Di mana menyadarkan bahwa kita memiliki tubuh yang sama dan seyogianya dapat diperlakukan secara pantas.[] 

 

Michael HB Raditya adalah peneliti, pengamat seni pertunjukan, kritikus dan penulis partikelir. Ia menamatkan pendidikan sarjana di Antropologi Budaya dan Pascasarjana di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, keduanya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia turut menyunting beberapa buku, di antaranya Daya Seni (2017), Prof. Dr. Mikcey Mouse dan Human Error: Percikan Kebijaksanaan (2017), Sal Murgiyanto Membaca Jawa (2018), Estetika Musik: Sebuah Pengantar (2018) dan Kembara Seni I Wayan Dibia (2018).

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.