Belanja

Cinta Yang Sulit Bagi "Mereka"

Penulis: Pradhany Widityan

Cinta adalah anugerah paling besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Anugerah yang rasanya semua Tuhan dari semua agama sepakat tanpa perdebatan bahwa untuk bisa menemui-Nya di surga nanti, rasa cinta kepada-Nya-lah yang akan mengantarkan kita. Tuhan itu Maha Mencinta. Tapi cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya tentu tidak sesulit realitas cinta kasih di dunia manusia. Karena cinta Tuhan tidak memiliki faktor-faktor yang bisa melunturkan. Sedangkan di dunia manusia banyak kerikil dan tiang-tiang beton besar yang bisa menghadang cinta.

 Dalam arti sempit, cinta diartikan sebagai hubungan kasih antara dua manusia. Dengan lingkup sesempit itu saja, hambatan bercinta masih sangat banyak. Itulah yang diangkat menjadi topik pementasan Sakti Actor Studio pada 22–23 Maret 2016 lalu. Lebih menarik lagi karena bukan naskah-naskah cinta macam Romeo dan Juliet, Trisnan-Isolde, atau Ramayana yang diangkat. Dengan berani Eka D. Sitorus sebagai sutradara menyajikan kisah cinta kaum homoseksual atau gay. The Many Taboos of Being Gay judulnya. Dari judulnya, secara ekplisit pentas teater ini mengangkat cerita soal kesulitan menjadi kaum homoseksual. Tidak hanya gay, termasuk juga lesbian, biseksual dan transgender (LGBT). Namun dalam pentas berdurasi sekitar 90 menit ini, mereka diwakili kaum gay yang diperankan oleh enam lelaki dalam empat naskah pendek.

Gay memang menjadi salah satu perdebatan yang panas di negeri ini. Dan akan selalu menjadi isu yang tabu untuk diperbincangkan di negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak ini. Sebagian orang dengan ilmu agama dan pengetahuan yang cetek, hanya akan menganggap itu dosa. Karena tidak tahu, mana yang lebih dipilih Tuhan jika jatah masuk surga hanya tersisa untuk satu golongan. Dan pilihan yang tersisa adalah kaum gay dan kaum yang menuhankan uang demi urusan perut pribadi. Siapa yang tahu.

Dari sekian banyak kesulitan yang hadir dari berbagai aspek kajian, baik ilmiah maupun non-ilmiah, keempat naskah yang dimainkan mewakili empat masalah berbeda yang dihadapai oleh para gay. Sweet Hunk O’Trash karya Eric Lane[1] yang mengangkat masalah sosial. Tiga naskah selanjutnya adalah karya Joe Pintauro[2] yaitu Twenty Dollars Drinks, Frozen Dog dan Uncle Chick yang mengangkat politik atau persaingan, moral atau agama, dan psikologi. Yang terakhir bahkan lebih ekstrem karena menampilkan hubungan inses dan homoseksual. Menarik.

 

Sosial

Lampu gedung Teater Salihara yang temaram mulai padam. Penonton hening. Suara musik opera mengalun lembut. Selepas itu panggung teater dibuka bersamaan dengan house music yang bising. Di suasana pesta itulah dua orang pria, Gene dan Rob, bertemu. Gene dengan aktif mengajak Rob yang tampaknya sedikit pemalu atau malu-malu kucing untuk berdansa. Pesta dansa menurut sang sutradara adalah salah satu media untuk bersosialisasi. Dan berdansa menandakan hubungan yang “akrab” antar-pelakunya. Namun, apa jadinya jika sepasang lelaki yang berdansa. Tanda tanya dan tanda seru besar tentunya bagi dunia luas kaum heteroseksual.

Dialog yang awalnya terkesan satu arah mulai hidup saat mereka sama-sama tertarik untuk merawat seorang bayi yang mengidap HIV/AIDS. Bayi malang yang bahkan penjaga panti pun enggan menyentuhnya. Stigma buruk kaum LGBT dan pengidap HIV/AIDS menjadi tantangan sosial bagi mereka untuk bersentuhan dengan dunia. Stigma yang akan menjadi diskriminasi sosial. Di akhir cerita, usaha Gene membuahkan hasil. Kedua lelaki itu pun berdansa di tengah pesta. Sweet Hunk O’Trash, jika diterjemahkan, artinya "bongkahan manis dari seonggok sampah".

 

Politik

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan. Dalam percintaan, persaingan juga sering terjadi. Twenty Dollars Drinks adalah harga minuman di restoran tempat Star dan Bete bertemu sebagai kawan lama yang pernah menjalin hubungan. Namun nasib berkata lain, mereka sebenarnya bersaing dalam hal kesuksesan. Star, seorang bintang film yang baru saja mendapat Piala Citra melawan Bete, teman bercinta Star yang telah menikah dengan lelaki lain yang hidupnya tak cukup mapan.

Sepanjang adegan, mereka sejatinya hanya mempermasalahkan soal kesuksesan yang membuat mereka lupa hubungan masa lalu. Ya, bagi hubungan sesama jenis yang artinya keduanya seorang lelaki atau wanita, tentu punya ego gender yang bisa sama. Mereka tak bisa menetukan siapa yang dituruti dan siapa yang menuruti. Mereka sesama, dan bisa jadi antar-mereka berdua sama-sama ingin berkuasa dalam hubungan. Tapi pentas ditutup oleh Star dan Gene yang berdamai dengan urusan persaingan, karena mereka sesungguhnya punya cinta.

 

Moral

Begitu layar terbuka kembali, cerita dimulai dengan tokoh Vinny yang tidak sengaja melemparkan gelas ke kepala Kevin di atas ranjang. Cerita ketiga ini berjudul Frozen Dog. Berlatar di sebuah rumah atau asrama bagi para pastur peserta seminari. Ini cerita yang menarik, karena moral dan agama selama ini menjadi hambatan paling berat bagi kaum gay. Dan dalam cerita ini, kedua pasangan gay itu seorang pastur. Mereka menentang dua hal sekaligus.

Awalnya Vinny memungkiri akan “cintanya” kepada Kevin. Mereka berdebat panjang. Vinny menghina Kevin sebagai kaum gay yang hina. Vinny tidak terima disebut gay. Namun perdebatan panjang dan kasar itu berakhir dengan happy ending. Vinny tak kuasa menahan perasaanya bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Kevin. Walaupun harus menentang moral sebagai pastor dan kehidupan beragama bahwa menjadi pastor artinya “menyendiri”, tapi cinta yang sudah terbentuk tak bisa lagi dibendung oleh mereka berdua.

 

Psikologi

Paman Chick sedang membereskan buku saat Brian, keponakannya, berkunjung. Namun sayang, Brian bertamu di waktu yang tidak umum, pukul 12 malam. Paman Chick tentu menaruh curiga. Dan benar, ternyata Brian baru saja bertemu dengan mantan pacar Paman Chick. Seorang arsitek. Dialah seorang lelaki yang selama ini tinggal satu apartemen dengan Paman Chick. Brian menceritakan ulang bagaimana si arsitek bercerita tentang kehidupan bersama Paman Chick yang menyenangkan. Paman Chick hanya diam, gugup, salah tingkah dan berusaha memungkiri.

Namun, Brian merasa bahwa naluri gaynya akhirnya bisa mendapatkan penyaluran yang aman. Brian sebagai seorang bocah merasa bahwa dengan bersama pamannya yang pencinta sesama jenis, dia bisa mendapat kenyamanan dan mungkin kesempurnaan cinta. Pernyataan Brian yang takut berhubungan dengan orang sembarangan menunjukkan bahwa ketakutan berhubungan seks tidak sehat juga menjadi hambatan. Brian seolah mendapat dorongan psikis yang baik kala dekat dengan Paman Chick. Panggung pun ditutup dengan satu kisah cinta yang “unik”. Inses antara paman dan keponakan yang keduanya lelaki.

Seniman Sujiwo Tejo sering berkata kalau cinta adalah takdir dan menikah adalah nasib. Kita bisa menentukan menikah dengan siapa saja namun tidak tahu akan mencintai siapa. Jika benar bahwa cinta semata-mata tidak bisa dijelaskan secara logis dan merupakan pemberian Tuhan, salahkah "mereka" yang saling mencintai? Apa pun alasannya, cinta mereka akan menjadi cinta yang sulit dan tabu. Setidaknya di sini.

Di luar tema yang berani, Sakti Actor Studio tidak hanya menyuguhkan cerita. Ada beragam teknik di sana yang membuat cerita menjadi menarik. Ada tata panggung, tata suara, dan yang paling penting yaitu seni peran keenam aktor yang memukau. Mereka begitu mendalami peran masing-masing. Setelah tersihir peran mereka, mungkinkah anda berpikir mereka benar-benar seorang gay?

 

[1] http://www.ericlanewrites.com/bio.html

[2] http://www.joepintauro.net/bio.html

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.