Belanja

Di Balik Sekala Niskala

Di sebuah tempat di Bali, Tantri menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki banyak waktu dengan Tantra, saudara kembarnya yang telah hilang kesadaran dan hanya terbaring di rumah sakit sepanjang waktu. Menghadapi kenyataan duka tersebut, Tantri mencari pelampiasan untuk menghibur dirinya. Di kedalaman dan kegelapan malam, di bawah pancaran bulan purnama, Tantri yang mengenakan kostum unik kemudian menari. Ia menemukan Tantra di antara kenyataan dan imajinasi, kehilangan dan harapan.

Tantri mengalami perjalanan magis nan emosional melalui ekspresi tubuh dan tari. Di dalam filosofi masyarakat Bali, ada istilah “Sekala Niskala” yang berarti adanya kesetaraan dan keseimbangan antara apa yang bisa dan tidak terlihat di dunia ini. Tantra mungkin sudah tidak ada lagi di depan kenyataan Tantri, tapi dalam The Seen and Unseen, mereka bisa bertemu di sebuah dimensi yang lain.

Di atas adalah cerita film The Seen and Unseen (Sekala Niskala) yang disutradarai oleh Kamila Andini. Film tersebut ditayangkan pertama kali di Toronto International Film Festival pada 2017 dan mendapat sambutan baik dari pemerhati film luar negeri. “A truly singular film,” dilansir dari Cinema Scope (cinema-scope.com). Sementara Variety (variety.com) memberi komentar “a haunting and hypnotic interpretation. . .rooted in Balinese arts and culture.”

The Seen and Unseen meraih sejumlah penghargaan di luar negeri, antara lain Best Youth Feature Film Award dari Asia Pacific Screen Awards dan Grand Prize dari Tokyo FILMeX International Film Festival, keduanya pada 2017. Penghargaan paling prestisius yaitu Generation Kplus Grand Prix dari Berlin International Film Festival (Berlinale) pada 2018. The Seen and Unseen adalah satu-satunya film Indonesia pada tahun perhelatan tersebut, sekaligus menjadi film panjang pertama Indonesia yang pernah meraih kemenangan di salah satu festival film bergengsi dunia itu.

The Seen and Unseen yang digarap hampir selama enam tahun tersebut adalah pencapaian apik tersendiri bagi Kamila Andini, sineas muda kelahiran Jakarta, 1986, yang tumbuh dan besar di keluarga seniman. Anak Garin Nugroho ini menekuni film sejak SMA dan pernah pula mempelajari bidang-bidang seni lain seperti tari Minangkabau dan Jawa, piano dan organ, melukis hingga fotografi. Hal itu membuat dirinya sebagai seniman lintas disiplin.

Ia pernah mengalami fase menghindari dunia film karena bayang-bayang sang ayah, tapi ia kembali memantapkan diri sebagai sineas karena baginya film adalah suatu medium tempat ia bisa bicara tentang semua hal yang ia suka.Misalnya, saya bisa bicara soal tarian tanpa saya harus bisa menari, saya bisa bicara soal musik tanpa saya harus bisa bermain piano,” ia menegaskan dalam sebuah wawancara dengan Whiteboard Journal.

Keunikan karya Kamila Andini adalah visi sinematik tanpa batas. Dalam karyanya kita bisa menemukan budaya lokal Indonesia, isu-isu sosial, gender dan lingkungan. Hal tersebut melahirkan cerita yang kaya perspektif, sekaligus menjadi pembeda antara Kamila dengan para sutradara muda lainnya. Keunikan tersebut juga menegaskan Kamila sebagai sineas di Indonesia yang selama ini didominasi oleh laki-laki.

Sebelum pencapaiannya di ajang Berlinale 2018, lulusan Sosiologi di Deakin University, Melbourne (Australia) ini mulai merilis film pertamanya pada 2011 yaitu The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang ditayangkan di lebih dari 30 festival di mancanegara. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian itu mengambil latar kehidupan suku Bajo di kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Meskipun merupakan film pertama, Laut Bercermin langsung diganjar tujuh nominasi dalam Festival Film Indonesia 2011 dan tiga belas nominasi dalam Festival Film Bandung 2012.

Selain film panjang, dua film pendek Diana Sendiri Diana dan Memoria juga perlu diapresiasi. Dua film tersebut berhasil mengeksplorasi sudut pandang perempuan dewasa baik di Jakarta maupun di daerah pedesaan di Timor Leste.

Kini, dalam Helatari Salihara 2019, film The Seen and Unseen digubah, murni, menjadi karya panggung. Kamila Andini berkolaborasi dengan seniman dan tim kreatif lintas negara dan budaya. Ia melibatkan Komunitas Bumi Bajra dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani dari Indonesia, serta Yasuhiro Morinaga, komposer asal Jepang. Ada pula tim kreatif dari Australia yaitu Eugyeene Teh (desainer), Jenny Hector (penata cahaya) dan Adena Jacobs, sutradara teater dan direktur artistik Fraught Outfit.

The Seen and Unseen dalam versi karya panggung ini menggabungkan tarian, musik langsung dan skor elektronik. Pertunjukan ini akan memadukan gerakan tarian tradisional Bali dengan pendekatan kontemporer ke teater tanpa menghilangkan apa yang telah menjadi substansi di dalam film tersebut, tentang kesedihan dan kematian yang harus dihadapi oleh seorang anak kecil.

Kamila Andini melihat bahwa setiap budaya memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi kematian. Bagi masyarakat Bali, kematian juga adalah bagian dari kehidupan. Dalam The Seen and Unseen Kamila Andini menegaskan bahwa “kematian itu menyedihkan, tapi kamu akan melihat sesuatu dari sudut pandang lain jika kamu mampu melihat dan merasakan sesuatu itu lebih dekat dengan kamu.”

Penasaran tentang karya ini? Beli tiket The Seen and Unseen sebelum habis. ***

 

 

Tulisan ini dilansir dari berbagai sumber oleh Alpha Hambally

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.