Belanja

Dialog Tubuh Dalam Der Bau

Pada sebuah cahaya yang temaram, seorang penari perempuan tengah membungkuk. Perlahan ia gerakan bahunya secara bersamaan, hingga ia meraih ruas-ruas kakinya secara cepat. Setelah itu, ia menarik selembar kain hitam panjang. Kain tersebut ia kibaskan ke tubuh serta wajahnya, secara berulang. Kembali dilakukan hingga kali keempat, eksplorasi pola gerak dengan kain sangat beragam. Beberapa saat kemudian, kain tersebut telah tersusun rapi dengan penari yang tengah tertelungkup di atasnya. Ia mulai bergerak dan menarik tiap lembar kain, hingga kain tersebut tergulung bersama dirinya. Tidak terpisah, ke mana pun ia pergi.

Di atas adalah cuplikan pertunjukan tari kontemporer bertajuk Der Bau dari seorang koreografer Jerman, Isabelle Schad yang berkolaborasi dengan seniman visual Perancis, Laurent Goldring. Pertunjukan yang diselenggarakan oleh Goethe Institut di Black Box, Komunitas Salihara dalam dua hari pertunjukan di penghujung September (29-30) ini menyita perhatian. Pasalnya pertunjukan ini terinspirasi dari karya sastra Franz Kafka tentang sarang yang terbentuk pada tubuh. Alih-alih terpisah, sarang tersebut menjadi bagian dari tubuhnya dengan mengakomodasi kompleksitas, mulai dari bentuk, jejak, bau, harapan, ataupun keraguan.

Karya sastra yang tidak selesai ini akhirnya menjadi metafora sekaligus logika awal dari Isabelle dan Laurent dalam menyoal tubuh dan ruang. Selanjutnya interpretasi dari dua seniman tersebut terwujud pada bentuk yang berbeda, Isabelle dengan gerak tari dan Laurent dengan logika visualnya. Kekayaan interpretasi dari dua seniman inilah yang lantas membuat eksplorasi artistik menjadi kuat sebagai sebuah pertunjukan. Secara lebih lanjut, Isabelle dan Laurent memilih kain sebagai perpanjangan tubuh di dalam/antara ruang.

Karya Der Bau yang mempunyai kedalaman interpretasi ini lantas memutuskan Isabelle Schad menari tanpa sehelai benang yang dikenakan di tubuhnya (baca: telanjang). Tubuh telanjang ini lantas menyiratkan satu interaksi tubuh dan ruang yang lebih jujur dan eksplisit. Sebuah gambaran tubuh personal yang sensitif dan intens. Yang lebih menarik, eksplorasi tubuh dan beragam kain tadi menggiring kita pada satu pemahaman akan tubuh dan sarang yang dimaksud Franz Kafka.

Sebuah pertunjukan yang menstimulasi kesadaran atas intensitas tubuh dengan ruang yang lebih mendalam. Kesadaran personal yang kerap kita alami, namun lazim tidak diindahkan, bahkan tidak disadari. Dalam hal ini Isabelle kerap menautkan dengan ruang pertama dalam tubuh kita, yakni rahim.

 

Der Bau dan Kedalamannya

 Jika merujuk pada ide penciptaan karya, Der Bau tidak dapat diragukan lagi kedalamannya. Atas narasi yang diangkat akan tubuh dan ruang, landasan hingga implementasi dari karya ini terbilang kuat. Namun kedalaman ide dalam tari dapat mulai diresepsi atau dimaknai lebih lanjut oleh audiens hanya melalui visual. Dalam hal ini perwujudan ide ke dalam gerak adalah satu keniscayaan pada tari.

Di awal karya, Isabelle telah memberikan satu impresi ketelanjangan dengan cepat. Ia tidak memulai dengan busana yang selanjutnya ia tanggalkan satu per satu untuk menunjukkan ‘tubuh’. Dari sinilah Isabelle telah menyita perhatian, namun selanjutnya Isabelle justru ‘mematahkan’ ekspektasi penonton akan gerakan-gerakan yang indah. Isabelle terkadang melakukan gerakan dasar, namun eksploratif. Semisal pada gerakan bahu yang dimulai perlahan dan statis, hingga ia bergerak dengan tempo yang lebih cepat; mengibaskan kain ke tubuh dengan teknik yang beragam di tiap pergantian kain; dan sebagainya.

Jika merujuk ke karya, gerakan Isabelle pun tidak bersifat improvisasi. Gerakannya tidak ‘liar’ dan bebas. Karyanya justru menunjukan kerja koreografi yang terstruktur. Gerakan yang ia buat pun beragam, namun kerap terulang (baca: repetisi) dengan porsi yang sesuai untuk memberikan impresi kedalaman. Kendati terlihat mudah jika dilihat, namun gerakan-gerakan Isabelle menyiratkan kerja penelusuran teknik yang mendalam. Hal ini tampak dari warna lengan dan punggungnya yang memerah, dengan otot yang lebih terlihat dan peluh keringat yang tercecer. 

Sedangkan dalam struktur pertunjukan, karya Der Bau mempunyai dua bagian yang berbeda namun menjadi utuh ketika dipentaskan. Pertama adalah fase di mana eksplorasi Isabelle dengan ruang dan perpanjangan tubuhnya, yakni kain. Eksplorasi kain yang berbeda-beda—baik dari warna, hingga respon tubuh—yang dilakukan secara berurutan dan gerak tubuh yang semakin ‘ramai’. Tampak pada eksplorasi kain pertama dengan gerak memutar bahu semata, dan kain terakhir dengan gerak tangan dan lompatan di tempat. Kendati berbeda antara satu kain dengan kain lainnya, hanya saja pengulangan hingga kali kelima terasa tidak terlalu ‘efisien’.

Kedua adalah fase di mana kain telah tersusun rapi dan Isabelle menjadikan kain tersebut menjadi sarang—laiknya yang dimaksud Franz Kafka. Dalam fase ini, Isabelle menggulung kain tersebut bersama tubuhnya. Tubuh telanjangnya tidak lagi terlihat, hanya tumpukan kain berbeda warna teronggok pada satu sisi ruang. Kemudian Isabelle menggelinding secara arbitrer (baca: semena-mena). Di sinilah, sarang yang terbentuk dan menyatu dengan tubuh tertangkap dengan utuh. Hanya saja, catatan kecil dari fase ini tertuju bukan pada Isabelle, namun pada proses penyusunan kain yang dilakukan oleh dua orang berbadan besar berjalan tegap. Kedua orang tersebut sungguh mengganggu pandangan walau tata cahaya telah sedikit diredupkan.

Selain ide, bentuk, hingga struktur, karya Der Bau turut diperkuat dengan kerja pencahayaan dan latar suara yang baik. Dalam pencahayaan, Emma Juliard menggunakan pencahayaan yang tidak lazim. Di mana cahaya hanya berasal dari persegi dengan kain yang diletakan di langit-langit panggung. Cahaya yang muncul temaram memberikan impresi yang terkadang suram dan terkadang mendalam—sangat erat dengan konsepsi rahim. Sedangkan pada tata suara, Peter Böhm memberikan impresi aural yang begitu utuh. Tata letak dari suara seakan mengelilingi penonton (baca: surrond) membantu kerja tari semakin mendalam. Walau suara yang diproduksi bukan rangkaian nada, melainkan lebih rangkaian bunyi, seperti suara kapur di papan tulis, suara deburan ombak, hingga suara echo besi yang berbunyi dan sebagainya.

 

Menyadari Ruang dan Tubuh Melalui Tari

Sebagai sebuah ‘tontonan’, pertunjukan tersebut tentu tidak menghibur, bahkan banyak penonton yang mengerinyatkan dahi, tidak sedikit yang menguap, atau ada saja yang berbisik mengomentari ketika pertunjukan. Namun respon penonton yang beragam tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Pasalnya pertunjukan tari kontemporer semacam ini memang tidak diperuntukan sebagai keagungan visual dengan gerakan akrobat yang spektakuler, melainkan mengantarkan kita pada satu gagasan tertentu melalui visual tubuh tari.

Atas dasar ini, pertunjukan Der Bau telah berhasil menyampaikan gagasan dengan sangat baik. Karya ini telah menstimulasi penonton untuk menyadari beberapa hal. Pertama, tubuh tidak dapat diartikan pada satu sudut pandang saja. Dalam hal ini tubuh telanjang tidak dapat diartikan sebagai tubuh erotis, tubuh mempunyai pelbagai perspektif, mulai dari anatomis, biologis, historis, sosial, kultural dan sebagainya. Kedua, karya ini telah memberikan kesadaran atas tubuh melalui ruang, serta menyadari ruang melalui tubuh. Dan itu semua dimulai dari hal yang paling personal, rahim, hingga pada komunal ruang terwujud ataupun nirwujud.

Bertolak dari itu semua, karya Der Bau telah memberikan upaya refleksi atas posisi tubuh, ruang, juga kehidupan pada penonton di mana pun berada. Niscaya hal ini tidak sulit diterima, pasalnya Der Bau tidak merujuk pada satu kultur tertentu sebagai basis gerak ataupun satu konstruksi sosial tertentu sebagai tujuan di dalam karyanya. Der Bau berangkat dari persoalan tubuh dengan menggunakan bahasa ungkap yang universal, yakni gerak tubuh. Hal ini kiranya yang membuat karya sembilan tahun silam tersebut, masih aktual hingga sekarang.

 

Ditulis Oleh: Michael HB Raditya

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.