Belanja

Energi Berlebih Manusia Senja

Usia senja manusia identik dengan tubuh yang melemah. Namun demikian, tubuh renta tak membuat kenangan, kehendak, kegelisahan, keinginan dan perasaan-perasaan lain ikut pupus. Sering mereka yang berada di usia senja justru memiliki energi besar karena hal-hal di dalam diri mereka. Koreografi berjudul Menuai Senja karya Benny Krinawardi bersama Sigma Dance Theatre menunjukkan hal-hal di sekitar manusia pada masa tua semacam itu.

Menuai Senja naik panggung pada Sabtu, 06 Juni lalu. Karya ini terdiri atas empat bagian yang dirangkai dalam satu pertunjukan utuh. Pada bagian pertama, muncul kosa gerak yang terinspirasi dari manusia di awal masa tuanya. Tentang kehendak dan keinginan yang tak sesuai keadaan dan memantik kegelisahan. Bagian ini disusul dengan koreografi tentang keterbatasan diri akibat melemahnya tubuh hingga rasa takut yang menghinggapi para orang tua.

Tentang kerinduan tak sampai kepada yang dicintai namun hanya berhenti pada angan-angan akibat pemantik rindu telah tiada menjadi bagian berikutnya. Menuai Senja diakhiri dengan kesepian dan ketidakberdayaan manusia atas keadaan yang menggiring pada kepasrahan hidup. Karya ini sejatinya adalah materi yang diajukan Benny saat mengikuti ujian kelulusan di IKJ. “Awalnya dari karya ujian. Tapi dikembangkan di banyak bagian hingga menjadi benar-benar berbeda dari awalnya,” kata Benny.

Mengangkat tema tentang usia lanjut bukan berarti Menuai Senja berisi kosa gerak lemah dan terbata-bata. Sebaliknya, justru gerak para penari mewujud pada liat dan liuk tubuh penuh tenaga. Di sepanjang pertunjukan, gerak lemah lembut lagi pelan seperti keterbatasan para pemilik usia senja justru tak dominan. “Memang demikian konsepnya. Saya ingin menghadirkan energi yang sebenarya sangat besar di balik keterbatasan usia senja,” kata Benny memberi alasan.

Kedekatan Benny dengan tradisi Minangkabau tidak menjadikan Menuai Senja penuh dengan idiom gerak ranah Sumatra Barat. “Sangat sedikit sekali bentuk-bentuk gerak dari tari tradisi Minang yang muncul pada karya ini. Saya lebih banyak menggunakan olah tubuh tari modern,” kata dia. Benny menyebut, karya ini secara intensif disiapkan selama tiga bulan melalui serangkaian latihan bersama para penari Sigma Dance Theatre yang sebagian besar baru pertama kali naik panggung.

Komunitas Seni Sigma Dance Theatre adalah kelompok tari yang berlatar belakang budaya Indonesia khususnya dari tradisi Minangkabau. Di samping terus menggelar program-program latihan berkesinambungan untuk para penari-penari pemula, Sigma Dance Theatre sudah melahirkan banyak karya yang telah tampil di berbagai forum festival nasional maupun internasional. Sampai sekarang Sigma Dance Theatre terus melakukan berbagai eksplorasi studio maupun luar studio untuk dapat melahirkan karya-karya bermutu di masa yang akan datang.

Benny Krisnawardi adalah koreografer lulusan IKJ. Selain aktif menjadi koreografer sejak 1990, Benny adalah penari yang kerap berkolaborasi dengan sejumlah kelompok tari seperti Gumarang Sakti Dance Company, Institut Kesenian Jakarta Dance Company, Pos Indonesia Dance Company (PIDC), Batavia Dance dan Dedi Luthan Dance Company. Benny juga pernah bekerja sama dengan Sukardji Sriman dan sejumlah koreografer seperti Piter Chin (Kanada), Kota Yamazaki (Jepang), Gerard Mosterd (Belanda), dan Ong Keng Sen (Singapura). (Hendromasto Prasetyo)

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.