Belanja

Jungkir Balik Sosok Konyol Pahlawan Kesiangan

Sebagai narator, Landung menyebut cerita Miguel de Cervantes tentang Don Quixote sudah diakrabinya sejak masih duduk sebagai pelajar tingkat sekolah dasar. Kisah Don Quixote sebagai seorang petualang, pahlawan kesiangan, lazim jadi bahan tertawaan, sekaligus simbol kekonyolan begitu kental pada naskah Miguel de Cervantes. Hal itu tak muncul dalam Don Quixote karangan Goenawan Mohamad. Sebaliknya, justru banyak refleksi tentang beragam hal di sekitar kehidupan dalam kumpulan sajak itu.

“Ini adalah Don Quixote yang diserap GM. Don Quixote dia gunakan untuk merefleksikan banyak hal di sana-sini dan sangat personal,” kata Landung Simatupang, di sela-sela acara Pertunjukan Puisi Don Quixote di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu. Menurut dia, Don Quixote versi GM justru sarat renungan yang berbeda. Ada rasa liris, sedih dan percaya bahwa di balik sosok serta tingkah kekonyolan Don Quixote ada ketulusan. Landung menangkap sentilan refektif bagi siapa saja untuk melihat diri sendiri sebagai seorang Don Quixote. Bagi Landung, Don Quixote adalah adalah romantisasi yang dibutuhkan kehidupan manusia. Tanpa romantisasi hidup menjadi datar dan biasa-biasa saja.

Tidak ada jurus tertentu yang digunakan Landung untuk menghadapi naskah kumpulan sajak Don Quixote karya GM. “Saya tidak pernah punya kategorisasi naskah apa dan dihadapi dengan cara apa. Bagaimana teks itu berbicara kepada saya saja. Sejauh yang saya tangkap dan hayati,” kata dia. Secara garis besar, Landung menyebut perekaman pembacaan sajak Don Quixote menjadi sebuah rangkaian puisi naratif yang kontemplatif bagi pendengarnya.

Hal senada diungkapkan Niniek L. Karim. “Saya mengenal Don Quixote sejak masih SD lewat buku-buku bacaan,” katanya. Niniek mendapati sosok manusia yang menyedihkan di dalam diri Don Quixote. Menurutnya, sosok manusia yang ingin menjadi berguna namun gagal lalu ditertawakan dan hidup dalam impian seperti tampak pada sosok Don Quixote adalah sebuah ironi. Niniek menangkap ironi dan kesedihan yang dialami oleh Don Quixote tersebut, bukan Don Quixote semata-mata sosok konyol pahlawan kesiangan. Selama sebulan penuh, tiap subuh dan menjelang tidur, Niniek membaca lalu menghafal semua teks puisi yang mesti dia bacakan.

Bagi GM, naskah Don Quixote asli adalah bentuk cemooh bagi sebagian kalangan yang ingin mengembalikan kelas-kelas ksatria bersama keperwiraannya pada zaman yang sudah berganti. “Saya merasa kasihan. Itu cerita sedih. Tentang orang yang setia dengan angan-angannya walau dia gagal,” kata dia. Menurut GM, tidak sedikit orang yang membela tokoh Don Quixote dengan melawan pengarangnya lewat karya.

GM menyebut dalam kumpulan sajaknya dia melakukan jungkir balik sosok dan cerita Don Quixote. Dalam kumpulan puisi tersebut kemudian hadir Don Quixote yang pembacanya menjadi memiliki empati kepadanya, bukan larut ikut mencemooh. Jungkir balik semacam ini disebut GM sebagai salah satu dari kebisaannya. “Saya mungkin adalah seorang yang punya spesialisasi menjungkirbalikkan,” kata GM. Dia tak menolak bila kumpulan sajak Don Quixote disebut sebagai bentuk adaptasi atas Don Quixote karya Miguel de Cervantes. (Hendromasto Prasetyo)

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.