Belanja

Medium Seni Kini Lebih Fleksibel

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiga orang seniman yakni Faisal Habibi, Octora, dan Budi Adi Nugroho menggelar pameran seni kontemporer yang bertemakan Kait Kelindan.

Karya yang dipamerkan dalam Kait Kelindan ini membicarakan manusia dan sekitarnya.

Kait Kelindan memiliki arti keterkaitan antar waktu dulu, sekarang, hingga masa depan. Keterkaitan dalam melihat sebuah perubahan dan perkembangan.

"Kait kelindan itu menggambarkan kaitan antara karya yang dibuat oleh para seniman waktu dulu, sekarang, dan nanti pada masa depan. Dalam pameran ini para senimannya berusaha mengeksplorasi medium dan ide pada karyanya," ujar Asikin Hasan, kurator pameran Kait Kelindan, ditemui di Salihara, Jakarta, Sabtu (16/4/2016).

Dalam pameran ini, para seniman yang terlibat yakni Faisal Habibi, Octora, dan Budi Adi Nugroho mencoba mengangkat hubungan antar manusia dengan keadaan sekitarnya.

Budi Adi Nugroho menjelaskan dalam karyanya mencoba untuk lebih membicarakan tentang hubungan antara publik dengan seni. Menurutnya, karya seni seharusnya tidak sulit untuk diakses dan juga tidak begitu sulit untuk dimengerti.

"Karya seni yang saya buat itu berhubungan dengan publik. Seni itu harusnya enggak sulit dimengerti. Maka, dalam karya yang saya buat ini saya menggabungkan perihal tokoh populer dan agama. Ada dua hal yang biasa muncul dalam publik di karya saya," jelas Budi Adi Nugroho.

Dalam pameran Kait Kelindan ini, salah satu karya Budi Adi Nugroho yang paling mencolok adalah sebuah patung berwarna emas yang merupakan gabungan dari sosok Budha yang sedang duduk dengan kepala Ultraman. Penggabungan antar agama dan tokoh populer.


(Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Seniman lainnya yakni Faisal Habibi mengkonsepkan berbicara tentang manusia dengan benda di sekitarnya melalui karya yang dia buat.

Menurutnya, hidup manusia sering kali didikte oleh fungsi benda. Seperti kursi untuk duduk, gelas untuk minum, dan segala macamnya.

Maka dari itu melalui karyanya, Faisal Habibi mencoba untuk merekonstruksi bentuk benda tanpa mempedulikan fungsi. Fungsi bukan satu-satunya alasan untuk mengapresiasi suatu benda.

"Benda sering kali mendominasi melalui fungsi yang dibutuhkan, namun fungsi bukan satu-satunya apresiasi terhadap benda. Banyak kan orang belanja, terus beli sesuatu hanya karena lucu atau bagus, tapi sebenarnya tidak butuh-butuh amat," jelas Faisal.

Hal serupa pernah dilakukan Faisal dalam merekonstruksi bentuk bangku taman yang diletakkan di Taman Komplek ZKU (Zentrum fur Kunst and Urbanistik) di Berlin, Jerman. Kursi-kursi tersebut berubah bentuk. Ada kursi yang hanya ada sanderan, tapi tidak ada dudukan. Atau memiliki dudukan berbentuk lingkaran seperti pipa.


(Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Ini menunjukkan, rekonstruksi suatu bentuk dari benda yang umum bisa memunculkan after effect kepada publik sekitarnya. Ada efek rekreatif di mana benda tersebut justru jadi alat bermain. Juga ada efek kreatif di mana orang bisa memfungsikan benda tersebut sesukanya.

Perkembangan dunia seni yang memasuki perkembangan seni kontemporer kian mencairkan keberadaan medium. Kini, apapun bisa menjadi medium untuk karya seni hingga barang sehari-hari. Hal tersebut membuat seniman kebanjiran medium.

"Kontemporer itu mencairkan keberadaan medium. Apa saja bisa jadi medium untuk membuat karya seni. Tidak seperti zaman dahulu, mau bikin patung harus pakai batu atau kayu, kemudian dipahat. Sekarang alat sehari-hari juga sudah bisa menjadi medium karya seni," kata Asikin Hasan.


(ROS)

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.