Belanja

Musik Rasa Bali Hingga Melayu Di Salihara

Komunitas Salihara menggelar Forum World Music Salihara 2015 yang menghadirkan serangkaian karya musik baru dari yang berangkat dari khazanah tradisi Nusantara dan dunia. I Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Sinta Wullur, Suarasama, Malacca Ensemble dan Trisutji Kamal menjadi penampil dalam forum yang berlangsung sepanjang Rabu-Minggu (05-09/08) lalu. Khusus Trisutji Kamal, karya-karyanya dimainkan oleh sekelompok pemusik.

Tony Prabowo, kurator Komunitas Salihara, menyebut Forum World Music yang baru pertama kali digelar di Komunitas Salihara ini diharapkan mampu menjadi ruang untuk kemunculan inovasi baru di dunia musik Indonesia. “Program ini juga dibuat untuk mendorong apresiasi masyarakat dan membuktikan masih banyaknya materi dan nilai yang bisa digali dari seni musik serta memberikan perspektif baru pada para pelaku dan penonton musik,” katanya.

I Wayan Balawan bersama Batuan Ethnic Fusion menjadi pembuka forum ini pada Rabu (05/08) malam dua pekan lalu. Pada malam berikutnya, Iswargia R. Sudarno, Hazim Suhadi, Rachman Noor, I Ketut Budiasa dan Jro Mangku T. Jimbarwana memainkan sepilihan komposisi karya Trisutji Kamal dalam konser bertajuk Tribute to Trisutji Kamal. Sinta Wullur menjadi penampil berikutnya pada Jumat malam disusul Swarasama pada Sabtu (09/08) malam dan Malacca Ensemble pada Minggu (09/08) malam.

Sesuai judulnya, Forum World Music menjadi arena pertemuan aneka jenis musik berbeda, dari tradisional hingga modern, dari Barat hingga Timur dan belahan dunia lainnya. Sebagai pembuka, I Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fussion sengaja memasukkan drama sebagai bagian penting pada pertunjukkan. Sepanjang dua jam Balawan dan para personel Batuan Ethnic Fusion berakting sebagai musisi tradisional Bali yang berjumpa dengan dua turis asing. Kehidupan sehari-hari para musisi tradisional Bali menjadi inti cerita drama konser Balawan yang bertabur komedi tersebut.

Balawan sengaja memadukan drama dan musik dalam penampilannya di Teater Salihara. Bentuk pertunjukan yang sama pernah dia tampilkan di Salihara tahun lalu dengan perbedaan cerita walau sama-sama berkisah tentang musisi. “Konser saya sebelumnya bercerita tentang kehiduan sehari-hari musisi jazz. Kali ini tentang musisi tradisional di Bali,” kata Balawan. Menurut dia, drama yang muncul dalam sebuah konser menjadi cara untuk menghindarkan penonton dari kebosanan sekaligus menyampaikan realita di sekitar kehidupan musisi kepada pengunjung.

Cerita pada drama komedi Balawan dan kawan-kawan sejatinya mengandung kritik sekaligus menyuguhkan potret kontras kehidupan musisi tradisional Bali di tengah hingar-bingar pariwisata Bali. Para musisi tradisional Bali harus bertahan hidup akibat penghasilan yang kecil, juga kehadiran mereka yang kerap hanya berhenti sebagai “pemanis” pariwisata. “Realitasnya memang begitu. Kehidupan para musisi tradisional di Bali tak seindah yang terlihat,” kata Balawan.

Pada pertunjukannya di Komunitas Salihara, Balawan mengajak serta Aria Baron dan Dion Subiyakto naik panggung. Dion yang ahli menabuh drum didapuk menjadi seorang turis asal Belanda dan gitaris Aria Baron berperan sebagai musisi tradisional dengan pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi, sedangkan Balawan memerankan tokoh pengamen jalanan. 

Menurut Balawan, seluruh komposisi yang dia hadirkan di Komunitas Salihara tersebut belum direkam. Di Salihara, Balawan menunjukkan pertemuan antara musik Barat dan Timur yang diwakili oleh sejumlah instrumen tradisional Bali seperti kendang, seruling, ceng-ceng hingga gangsa. “Saya mengaduk musik Barat dan musik tradisional Bali. Cara itu menjadikan elemen musik tradisional bisa hadir sebagai satu kesatuan, bukan tempelan,” katanya.

Tidak mudah untuk meramu musik seperti yang dilakukan Balawan. Gamelan Bali yang bila didekati dengan idiom musik Barat hanya dapat dimainkan lewat nada dasar A, mau tak mau harus disiasati agar tak berujung pada komposisi monoton. Memindah-mindah bilah gangsa yang mirip dengan saron dalam gamelan Jawa menjadi jurus Balawan demi mendapatkan variasi nada dasar. Cara tersebut menghasilkan lima variasi nada dasar yang dapat hadir pada sebuah komposisi.

Hari kedua Forum World Music menampilkan Iswargia R. Sudarno, Hazim Suhadi, Rachman Noor, I Ketut Budiasa, dan Jro Mangku T. Jimbarwana yang menyuguhkan delapan nomor pilihan komposisi karya Trisutji Kamal. Trisutji yang kini berusia 79 tahun tampak hadir menyaksikan pentas itu. “Pada setiap mencipta komposisi yang memadukan idiom-idiom Barat dan Timur, saya selalu mempertahankan ciri khas masing-masing,” kata Trisutji.

Cara tersebut dengan sendirinya menghindarkan Trisutji menggunakan pendekatan Barat untuk memainkan instrumen Timur atau sebaliknya. Menurut dia, menjaga ciri khas masing-masing unsur musik dari tradisi tersebut dengan sendirinya akan menghadirkan keaslian yang semestinya memang harus tetap ada. Tantangannya adalah bagaimana memadukan yang Barat dan Timur, yang modern dan yang tradisional, menjadi satu karya utuh tanpa ada saling dominasi satu sama lain.

Iswargia yang tampil sebagai pembuka pertunjukan ini menyebut komposisi-komposisi karya Trisutji punya keunikan. “Komposisi ciptaannya ekspresif dan jujur, bukan berasal dari konsep-konsep yang rumit,” katanya. Menurut Iswargia, keunikan tersebut menjadi pembeda karya Trisutji dari komposisi ciptaan komposer lain. Pada konser ini hadir pula salah satu bagian komposisi legendaris Trisutji berjudul Gunung Agung. Komposisi ini diciptakan Trisutji saat ia masih di Amsterdam pada 1963 yang didesain sebagai musik untuk tari bersama Farida Oetoyo tersebut sejatinya terdiri dari tiga bagian. Malam itu, “Takdir”,  bagian kedua dari komposisi Gunung Agung, dimainkan.

Gunung Agung saya ciptakan terinsprasi dari meletusnya gunung tersebut saat saya masih di Belanda,” kata Trisutji. Pada proses penciptaannya, Trisutji berkorespondensi dengan Farida yang masih berada di Rusia untuk menekuni balet di Akademi Balet Bolshoi, Moskow. Mereka sepakat untuk mencipta karya bersama, Farida menjadi koreografer dan Trisutji mencipta musiknya. Karya tersebut baru naik pentas tujuh tahun kemudian di Taman Ismail Marzuki setelah mereka berdua pulang ke Indonesia.

Trisutji Djuliati Kamal atau lebih dikenal dengan nama Trisutji Kamal dilahirkan di Jakarta, 28 November 1936. Dia adalah komponis untuk piano, flute, vokal dan telah dimainkan oleh sejumlah pianis kelas dunia di beberapa negara. Komposisi ciptannya ada lebih dari 200 karya. Dia belajar piano klasik di Binjai, Sumatra Utara, dan mulai menciptakan karya musik yang lebih serius untuk piano sejak berusia 14 tahun.

Pada 1955 dia berangkat ke Amsterdam untuk belajar piano dan komposisi. Di Belanda Trisutji berguru kepada seorang tokoh musik Belanda abad ke-20, Henk Badings. Dari Amsterdam Trisutji melanjutkan pelajaran musiknya ke Ecole Normale de Musique di Paris dan kemudian Santa Cecilia Conservatory di Roma. Pada 1967 Trisutji kembali ke Indonesia. Bersama Frans Haryadi dan Iravati Soediarso yang juga sama-sama baru pulang menimba ilmu musik di luar negeri, Trisutji ikut berperan penting mendirikan Taman Ismail Marzuki pada 1968.

Sinta Wullur menjadi penampil ketiga Forum World Music Salihara 2015. Berbeda dari penampil sebelumnya, Sinta tidak hanya naik panggung. Sore sebelum tampil Sinta memberikan lokakarya yang dibingkai dalam lecture concert di Anjung Salihara. Pada lecture concert tersebut Sinta menyampaikan materi ceramahnya kepada para peserta dilengkapi dengan teknik olah vokal. Ia juga berceramah tentang apa itu komposisi dan bagaimana proses penyusunannya.

Malam harinya karya-karya Sinta dimainkan oleh Aisha Pletscher (piano), Andika Candra (flute), Maya Hasan (harpa) dan Angelica Liviana (piano). Di setiap jeda Sinta naik panggung menjelaskan masing-masing karyanya. Sejatinya, karya-karya Sinta Wullur berusaha mengintegrasikan musik Barat dan Timur. Pertemuan kedua anasir ini terjadi tanpa saling mendominasi. Pada komposisi untuk instrumen musik Barat, misalnya, gamelan atau musik India tetap hadir sebagai unsur tak terpisahkan.

Sinta Wullur dilahirkan di Bandung dan tinggal di Belanda sejak 1968. Dia besar bersama repertoar-repertoar piano klasik dari jemari ibunya. Meskipun begitu, ia juga menekuni gamelan Bali, gamelan Jawa, hingga lagu-lagu India sejak 1983. Pada tahun yang sama ia mulai menulis komposisi musik. Mulanya adalah komposisi musik untuk teater, lalu berlanjut kepada komposisi musik modern. Sinta belajar komposisi di Sweelinck Conservatory dengan pembimbing Ton de Leeuw. Pada 1988 ia belajar di Royal Conservatory di Den Haag. Dia juga menggeluti penciptaan komposisi bersama Theo Loevendie dan Louis Adriessen hingga 1991. 

Karya-karyanya telah dipanggungkan oleh banyak kelompok orkestra, ansambel, maupun solis. Misalnya, The Netherlands Ballet Orchestra, Percussion Group Den Haag, Asko Choir, Ensemble Gending, Ananda Sukarlan, Eleonore Pameijer, Aurelia Saxophone Quartet, Ensemble Multifoon, Lavinia Meijer, Esther Apituley dan Duo Mares. Karya-karyanya juga pernah hadir di Festival Gamelan Yogyakarta, festival musik kontemporer di New York, Berlin, Bremen, Freiburg, Kyoto, Toronto dan Wellington. Komposisinya hadir dalam bentuk cakram padat Ensemble Gending, Eleonore Pameijer, To be Sung, Duo Mares dan Ensemble Multifoon.

Pada malam keempat tampil Suarasama. Kelompok ini tidak banyak menggunakan idiom-idiom musik modern, tetapi menjelajahi pelbagai kemungkinan musikalitas musik gambus. Sejumlah instrumen yang khusus diciptakan untuk konser Suarasama menjadi piranti penting pertunjukan mereka malam itu. Mulai dari gitar gambus hingga saz Turki yang dimodifikasi sedemikian rupa. “Instrumen-instrumen ini adalah bagian penting perjalanan eksplorasi musikalitas kami,” kata Irwansyah Harahap yang menjadi pemimpin Suarasama.

Suarasama didirikan oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu pada pertengahan 1995. Keduanya adalah dosen Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara dan lulusan Universitas Washington, Seattle. Suarasama pernah hadir di berbagai festival di dalam dan luar negeri, di antaranya, Art Summit Indonesia (2013), Wellington Asian Residency Exchange Suarasama Farewell Concert (2009), Second International Rondalla Festival (Filipina, 2007) dan Sufi Soul Second World Music Festival (Pakistan, 2001).

Irwansyah Harahap sebagai komposer dan pemimpin Suarasama banyak melakukan eksplorasi konsep-konsep musik dunia yang berasal dari berbagai akar kebudayaan berbeda. Latar belakang akademik Irwansyah pada bidang etnomusikologi berkelindan dengan kelihaiannya mencipta komposisi. Sebagian besar karyanya, baik berupa komposisi instrumental maupun berlirik, menunjukkan ketertarikannya pada hal-hal spiritual, lingkungan hidup dan kemanusiaan.

Sementara Mallaca Ensemble yang menjadi pemungkas Forum World Music Salihara 2015 hadir dengan komposisi-komposisi yang merupakan ramuan musik tradisi dan modern, termasuk musik populer. Namun begitu, musik tradisi yang muncul tidak lantas melulu hadir lewat intrumen musik tradisional. Malacca Ensemble, dibentuk pada 2007 oleh Hendri Lamiri dan Yaser Arafat. Tidak hanya menghadirkan nuansa musik tradisi Indonesia, Malacca Ensemble juga merangkul beragam jenis musik dan bebunyian lain dari Cina, Arab, Eropa Timur dan India. (Hendromasto Prasetyo)

 

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.