Belanja

Musik "Sans Frontières" Di Panggung Jazz

Musik adalah karya seni paling universal. Ia bisa menjangkau semua kalangan masyarakat. Dari yang menonton pertunjukan di tengah lapangan becek hingga yang menonton di gedung opera. Ia bisa dinikmati sambil berjoget bersama atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, bisa juga dinikmati dengan khidmat sambil memejamkan mata. Segmen musik sangat luas. Dari sekadar hiburan semata, proses ekperimen musisinya hingga media untuk menyampaikan berbagai pesan. Pesan perdamaian bisa melewati musik; kritik bisa melewati musik; doa pun bisa disisipkan dalam musik.

Aliran musik dengan segmen yang berbeda pun muncul di mana-mana. Hampir semua daerah di dunia ini memiliki warna musiknya sendiri. Musik etnik, begitu namanya. Lain lagi dengan musik pop yang easy listening dan realtif lebih banyak penggemarnya. Musik rock yang cadas namun paling vokal menyuarakan pemberontakan pada keanehan dunia juga tak kalah menarik. Bagi anda yang merasa melankolis atau feeling blue, musik blues bisa menjawab perasaan anda. Kaum eksekutif yang berpakaian rapi, minimal kemeja, akan lebih menikmati musik jazz dan duduk di gedung-gedung pertunjukan. Ada pula musik yang konon bisa meningkatkan kecerdasan bayi. Komposisi yang mengalun teratur dalam musik klasik bagus diperdengarkan bagi ibu-ibu hamil.

Dengan musik sebagai karya seni yang sangat luas, bahkan bisa dibilang paling banyak peminatnya, tidak mungkin Komunitas Salihara tidak memasukkan musik dalam program acaranya. Itulah Jazz Buzz Salihara 2016. Serangkaian acara musik yang menampilkan beberapa musisi jazz dihelat di sana. Dalam dunia chatting, buzz berarti “pesan untuk memberi tanda pada lawan bicara yang lama membalas pesan”. Entah karena lupa atau tidur. Di sini, rupanya Komunitas Salihara berusaha menyajikan keindahan musik jazz dan segala sisi lain musik ini.

Jazz Buzz Salihara memang bukan kali pertama diadakan di sini. Setidaknya setiap tahun sejak 2008, Komunitas Salihara konsisten menampilkan hasil kurasi dan eksplorasinya soal musik, terutama jazz. Tahun ini, Jazz Buzz Salihara diadakan dengan mengusung tema Jazz Sans Frontières. Sans Frontières diambil dari kosa kata Perancis yang berarti “tanpa batas”. Tentu ada maksud dari pemilihan tema tersebut. Komunitas Salihara ingin menampilkan sisi yang lebih luas dari musik jazz. Menampilkan bagaimana musik jazz dieksplorasi lebih jauh, dikolaborasi lebih beragam dan dielaborasi secara kreatif untuk menghasilkan harmoni baru yang kemudian menjadi bahan konsumsi baru pecinta musik berkualitas. Keempat musisi yang tampil semuanya mengeksplorasi baik jiwa, hidup maupun teknik, dengan tanpa batas. Jazz Sans Frontières.

Acara dibuka dengan penampilan Trodon (20/02), kemudian dilanjutkan oleh musisi jazz muda berbakat, Tesla Manaf (21/02). Selang seminggu, karena hanya diadakan saat akhir pekan, giliran band jazz progresif asal Yogyakarta yang mengisi panggung Teater Salihara. Namanya agak panjang, I Know You Well Miss Clara (INYWMC) pada (27/2) malam. Acara diakhiri dengan penampilan Manticore Project pada malam berikutnya (28/02). Keempatnya seolah salah satu contoh bahwa dalam musik, kita tidak bisa menyebutkan aliran tertentu. Tidak bisa hanya menyebut rock, pop, jazz, blues, klasik. Mereka menampillan hasil eksplorasi yang luas dan menghasilkan karya yang beragam. Unik, baru dan memiliki ciri khas masing-masing. Gaya yang progresif dipadu dengan kreativitas, modal dan usaha keras akan menghasilkan musik yang bergerak bersama zaman. Salah satunya adalah penampilan IKYWMC yang menghadirkan komposisi unik, asik dan memberikan kesan mewah dan luas dari proses penciptaannya.

 

Chapter

Penonton duduk tenang dan tidak riuh. Serempak bertepuk tangan ketika ketiga personel IKYWMC ditambah satu bintang tamu masuk dan memulai membunyikan nada pertama penanda pertunjukan mereka dimulai. Mereka memainkan lagu namun seolah-olah seperti bermain sendiri-sendiri. Bagi orang awam akan sulit memahami musik tersebut. Namun, jika dicermati dan dinikmati, semuanya sebenarnya menyatu dalam harmoni musik yang terasa nuansa jazz eksperimentalnya.

Satu lagu usai dan dilanjutkan dengan lagu-lagu berikutnya. Lagu-lagu mereka tanpa vokal, hanya instrumen. Instrumen yang menyatu satu sama lain seolah ingin memberikan makna, lagu mereka bukan melalui kata melainkan nada yang telah dikomposisi.

Dari Yoyakarta, Reza Ryan (gitar), Adi Wijaya (piano) dan Alfiah Akbar (drum) berangkat mengarungi jagat musik jazz. Mereka dibantu oleh Royke B. Koapaha sebagai pemain bas dan sekaligus dosen mereka di ISI Yogyakarta. Reza mengaku bahwa Pak Royke adalah orang yang mengenalkan mereka bahwa musik progresif menarik untuk dieksplorasi. Atas dorongan itu, IKYWMC mulai mencari dan menemukan serpihan-serpihan musik berbagai aliran yang kemudian dikomposisi dengan baseline musik jazz. Akhirnya, muncullah karakter IKYWMC sebagai band jazz progresif.

Musik klasik, jaipong, melodi tradisional Cina hingga musik grunge khas Nirvana, mereka rangkai dalam masing-masing lagu. Album pertama mereka bertajuk Chapter One dirilis pada 2013 oleh label asal Amerika Serikat, MoonJune Records di New York, mendapat apresiasi baik dari media-media jazz Amerika, seperti All About Jazz dan Jazz Times. Selain menampilkan lagu-lagu dari album tersebut, seperti “A Dancing Girl from the Planet Marsavishnu Named After the Love”, IKYWMC juga menampilkan lagu-lagu dari album kedua mereka yang akan segera risil bertajuk Chapter Two, seperti “ABC Islands” dan “We Need the Tonic of Wildness” .

Panggung Jazz Buzz Salihara malam itu bertambah semarak ketika mereka mengundang satu bintang tamu kenamaan Iwan Hasan. Mereka berkolaborasi sebanyak dua lagu dan cukup memikat penonton karena permainan gitar Iwan Hasan. IKYWMC menunjukkan bahwa musik tak hanya soal aliran yang terpisah-pisah dan terkadang terlampau idealis. Musik pada dasarnya adalah soal eksplorasi yang luas dan komposisi yang dasar utamanya adalah kreativitas. Mereka membuktikan bahwa musik yang dikerjakan dengan benar akan menghasilkan musik yang Sans Frontières. Tanpa batas. Kita berharap chapter-chapter selanjutnya dari IKYWMC, sementara di jagat musik Indonesia kita juga berharap akan bermunculan musik dengan warna baru yang segar di telinga, mata dan tentu saja, jiwa. (Pradhany Widityan)

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.