Belanja

NUANSA JAZZ KEDAERAHAN
Indra Perkasa & Gadgadasvara Ensemble
Oleh: Yohanes Pangaribuan

Jazz Buzz Salihara kembali digelar tahun ini dengan tema “Jazz Sans Frontières” atau jazz tanpa batas. Seperti tahun lalu, Jazz Buzz Salihara 2017 pun menampilkan musisi-musisi yang memainkan persilangan antara jazz dengan genre musik lainnya. Mulai dari progressif-psychedelic-rock, swing a capella hingga perpaduan musik tradisional Indonesia dengan jazz dapat dinikmati di Teater Salihara sepanjang Februari lalu. Meningkat dari tahun sebelumnya, tahun ini Komunitas Salihara menampilkan enam kelompok musisi bergantian.

Salah satu penampil di pekan pertama Jazz Buzz Salihara 2017 adalah Indra Perkasa. Indra Perkasa sudah tidak asing lagi di dunia jazz Indonesia. Ia adalah musisi sekaligus komposer dan produser. Sebagai musisi ia sudah malang melintang sebagai pembetot bas lepas pada berbagai pertunjukan bersama musisi-musisi jazz senior maupun dengan sesama musisi muda. Akhir-akhir ini ia pun banyak terlibat dengan grup musik Monita Tahalea, The Nightingale, dalam produksi album Dandelion maupun di panggung. Selain itu Indra juga diketahui sebagai penata musik film Tabula Rasa (2014). Ini bukan kali pertama Indra Perkasa tampil di Jazz Buzz Salihara. Pada 2015 ia juga tampil bersama Jessi Mates dan Ricad Hutapea. Sebelum itu ia juga pernah tampil sebagai finalis Sayembara Komposisi Musik Baru Berdasarkan Budaya Nusantara (2011) yang juga diadakan oleh Komunitas Salihara.

Tampil pada Minggu, 12 Februari 2017, 20.00 WIB, Indra mengajak delapan musisi lainnya: Dimas Pradipta (drum), Adra Karim (piano, organ hammond), John Navid (xilofon), Dion Janapria (gitar), Windy Setiadi (akordeon), Brury Effendy (trompet), Donny Koeswinarno (seruling & saksofon tenor), Bonny Buntoro (saksofon bariton & klarinet bas) dan Debora Jemadu (vokal). Mereka menamakan diri sebagai Gadgadasvara Ensemble yang diambil dari nama salah satu tokoh spiritual dalam agama Buddha. Sepertinya nama tersebut dipakai untuk menekankan unsur etnikal musik yang mereka usung. Memang walaupun seluruh lagu dimainkan dalam kerangka jazz fusion, unsur musik etnik seperti nada-nada pentatonal Bali dan Jawa sangat sering terdengar. Bahkan dari ketujuh lagu yang dimainkan, empat di antaranya, yaitu “Cebolang”, “Lennies Pelog”, “Totondeng” dan “Kiong” benar-benar bertema budaya Nusantara.

Gadgadasvara Ensembel membuka pertunjukan dengan lagu gubahan Indra berjudul “Maestro”. Lagu ini dimanfaatkan oleh Riri Riza sebagai soundtrack film dokumenter tentang profil tokoh-tokoh nasional berjudul Maestro Indonesia. Brass section memberi entakan di awal lagu seperti bunyi sambaran kilat yang kemudian disusul dengan melodi riang dari xilofon John Navid dan petikan gitar Dion. Solo pertama dari Dion berjalan mulus diiringi gebukan drum Dimas Pradipta yang sering terdengar seperti meniru bunyi gemuruh petir dan membuat ritme terkesan tertahan-tahan. Setelah solo gitar selesai, giliran Adra Karim yang berimprovisasi dengan organ hammond. Adra mengawalinya dengan lengkingan panjang kemudian diikuti solo melodi-harmoni yang semakin lincah dan mendominasi. Kelincahan Adra semakin memuncak hingga ia terlihat memukul-mukul tuts organ hammond-nya seperti bermain gendang. Namun ketika penonton masih terkesima dengan klimaks yang diberikan Adra, tiba-tiba organ hammond Adra terjatuh dan harus ditahan oleh satu tangan agar tidak menyentuh lantai. Adra terpaksa mempersingkat solonya dan ia jadi cuma bisa memainkan harmoni-harmoni panjang karena satu tangannya menahan hammond. Solo Adra pun berakhir dan disambut tepuk tangan yang meriah dari penonton yang mengapresiasi kepiawaian dan totalitas Adra. Melihat insiden ini, seorang penonton di barisan depan lantas maju ke panggung membantu Adra membetulkan posisi organ Hammond-nya. Kru tiba membantu beberapa detik setelahnya. Setelah itu sisa lagu tersebut diisi dengan melodi tema yang diulang-ulang hingga akhirnya lagu diselesaikan dengan kesan dipersingkat.

Lagu berikutnya, berjudul “Cebolang”, masih merupakan gubahan Indra Perkasa. Lagu ini terinspirasi dari salah satu bab pada Serat Centhini. Maka dari itu, lagu ini sangat didominasi rasa etnik Jawa dan Bali mulai dari melodi awal, brass section, hingga improvisasinya. Lagu dibuka dengan melodi-melodi pentatonal lirih dari piano Adra diiringi gesekan bass Indra yang terdengar parau. Denting xilofon John dan sesekali tabuhan simbal Dimas pun menambah efek mistik pada lagu itu. Mendadak Dimas menggebuk drumnya dengan cepat dan bergemuruh sebagai pengantar bagi solo berikutnya yang secara bertahap semakin cepat, kompleks dan ekspresif. Brass section dengan setia mengiringi solo drum Dimas dengan pendekatan modal pada akor yang tetap. Setelah Dimas menyelesaikan solonya, seluruh anggota ansambel berimprovisasi bersama dengan berpegangan pada kerangka melodi yang diberikan bass Indra. Tanpa kembali ke melodi tema, lagu pun diakhiri dengan kesan seperti tergantung tidak selesai.

Lagu ketiga adalah gubahan Adra Karim berjudul “Lennies Pelog”. Adra terinspirasi dari permainan Lennie Tristano (seorang pianis bebop Amerika Serikat) dan juga gamelan Bali. Pelog sendiri adalah salah satu tangga nada pentatonis dalam gamelan Bali. Duet saksopon Donny Buntoro dan Donny Koeswinarno membuka lagu dengan memainkan melodi-melodi gamelan tanpa diiringi oleh alat musik lainnya. Lalu tiba-tiba hentakan piano Adra, disusul bassline Indra dan ritme drum Dimas pun masuk mengubah lagu menjadi lebih terasa bebop. Sepanjang lagu, brass section dan xilofon mendominasi dengan bersahut-sahutan mengulang-ulang melodi tema diselingi dengan gebrakan drum Dimas yang seperti meniru suara cengceng dan bonang. Walaupun komposisi disusun oleh Adra, gitar Dion adalah satu-satunya yang berimprovisasi panjang di lagu ini. Dion seakan menginterpretasi melodi tema lagu ini sehingga masih sangat terdengar pentatonal dan dipenuhi nada-nada kromatik. Selama improvisasi Dion, Adra kembali memberi sentuhan harmoni dengan organ Hammond-nya. Namun kali ini tidak seenerjik dan selincah lagu pertama.

Dari tujuh lagu yang dibawakan, tiga di antaranya adalah lagu dengan vokal. Vokalis Debora Jemadu asal Flores muncul sejak lagu kelima membawakan berturut-turut “Lucyd Hallucination” gubahan Indra Aziz, “Kiong” dan “Totondeng” yang adalah aransemen Indra Perkasa atas lagu tradisional Flores. Tiga lagu terakhir ini lebih bernuansa pop yang tenang dan meneduhkan. Karakter suara Windy yang mezzo-sopran, jernih, dan lembut sangat mendukung pembawaan lagu dan ekspresinya, terutama untuk lagu tradisional daerahnya. Lagu Kiong bercerita tentang seekor burung yang selalu ingat untuk pulang ke sarangnya seberapa jauhnya pun si burung telah terbang. Ini merupakan metafora bagi suku Manggarai Flores agar selalu ingat untuk kembali ke kampung halaman walau telah merantau jauh. “Totondeng”, lagu terakhir, adalah lagu nina bobo suku Manggarai. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh seorang ayah untuk menidurkan anak bayi yang digendong oleh ibunya. Suatu penggambaran harmonis akan keluarga. Ketiga lagu lembut ini dirasa sangat tepat ditempatkan di akhir pertunjukan karena sebelumnya penonton sudah disuguhkan dengan komposisi-komposisi kompleks.

Secara keseluruhan, pertunjukan berjalan sangat baik dan sangat menghibur. Insiden kecil di awal pertunjukan justru menambah bumbu kesan tersendiri bagi penonton karena, toh, setiap pemusik seperti tidak terpengaruh banyak atas hal tersebut. Dan seperti pada setiap akhir pertunjukan Jazz Buzz Salihara, penonton memberikan tepuk tangan sangat meriah sambil meneriakkan permintaan encore. “Lagi! Lagi! Lagi! Encore!” Sukses terus untuk Jazz Buzz Salihara!

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.