Belanja

Other Motherland: Mengakui Kembali Asal Diri

Oleh: Gladhys Elliona

 

Tiga perempuan bercakap-cakap di halaman sebuah rumah di Melbourne. Mereka sama-sama sedang menghindari pesta yang hingar-bingar di dalam rumah. Awalnya hanya Ria (Arsita Iswardhani), gadis asal Jakarta yang sedang semacam cari angin dari pesta itu sebelum kemudian datang Anna (Komang Rosie Clynes) meminta rokok dari Ria. Percakapan mereka tentang latar belakang masing-masing diinterupsi oleh seruan perempuan bernama Kandi (Cassandra Sutjiadi Grant) yang berkostum koala, yang ternyata adalah tuan rumah pesta tersebut. Kecocokan obrolan mereka kemudian mengerucut pada satu alasan bahwa mereka memiliki leluhur yang berasal dari negara tetangga. Ketiga perempuan ini bercakap-cakap mengenai keindonesiaan dan keaustraliaan yang ada di dalam mereka. Ria seorang seniman dan mahasiswa master Seni Rupa yang berencana untuk menetap di Australia, Anna yang diam-diam bisa berbahasa Indonesia karena ibunya dari Bali, serta Kandi yang ternyata seperempat berdarah Indonesia dan mewarisi nama neneknya. Obrolan mereka kerap diinterupsi oleh serangkaian peristiwa mati listrik yang disebabkan oleh “hawa-hawa spiritual”. Ada peristiwa kedatangan hantu nenek Kandi yang mengingatkan tentang keindonesiaan pada cucunya, Ria didatangi oleh hantu cucunya dari masa depan, sementara Anna bertemu kembali secara singkat dengan almarhumah ibunya. Serangkaian kejadian mistis yang simultan, bagi separuh darah Australia mereka adalah hal yang aneh dan mustahil, namun sebagian diri mereka yang Indonesia sangat masuk akal dan mereka merayakannya dengan berkomunikasi dengan para hantu itu sebagai bentuk penerimaan akar diri mereka yang tak pernah dikenali secara mendalam.

Teks yang disuguhkan Komang Rosie Clynes terasa sangat personal. Pasalnya, Rosie sendiri adalah seniman muda yang memiliki darah Australia dan Indonesia. Ia menulis mengenai rasa kebingungan dan perasaan campur aduk orang-orang, khususnya perempuan, berdarah campuran, tentu ia mengerti betul perasaannya. Saya menangkap ini sebagai karya yang semi autobiografis tanpa mengesampingkan prinsip dramatik dan membuka ruang untuk eksperimen karakterisasi. Rosie sebagai penulis dan sutradara berhasil menyusun sebuah drama berlatar realis namun tetap memberikan nafas surreal dan komedi absurd di dalamnya. Hal ini istimewa karena tak banyak lakon surreal dengan pias absurd masih mampu menyampaikan penciptaan karakter yang dekat dan jujur seperti karya realis. Penampilan disuguhkan dalam bentuk pembacaan dramatik, diakui oleh Rosie, memang karya ini masih dalam tahap pengembangan. Bukan tidak mungkin, jika telah jadi secara utuh, naskah ini dapat menyajikan kesegaran bagi kancah seni pertunjukan Indonesia maupun Australia. Judul Other Motherland saya interpretasikan menjadi dua hal: tanah air yang lain atau mengenal tanah air sendiri melalui dimensi lain. Lakon ini memiliki percampuran jiwa Indonesia-Australia yang melebur. Apalagi menambah unsur mistis dan keleluhuran adalah aspek yang membuat karya ini dekat dengan penonton Indonesia.

Tema tentang keterikatan atas asal diri memang selalu menjadi hal menarik untuk diangkat dalam sastra maupun seni pertunjukan. Rosie mewujudkan tema ini dengan menyelipkan hantu-hantu para leluhur. Adegan para karakter kedatangan hantu disuguhkan dengan sentuhan komikal yang pas tetapi tetap menunjukkan kerinduan tiap karakter terhadap orang-orang yang mampu memberi jawaban mengenai asal diri mereka yang belum banyak mereka jamah dan temui. Kandi yang tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali tiba-tiba dapat mengerti yang dibicarakan oleh hantu neneknya, Ria berbincang dengan cucunya yang berwajah Indonesia dengan bahasa Inggris, sementara Anna berbincang secara ‘privat’ dengan mendiang ibunya yang meninggal saat ia masih kecil. Aspek dalam cerita ini seperti menjabarkan bagaimana banyak bagian sejarah di dalam diri yang belum kita ketahui dan bahkan tak terasa secara indrawi akan terus ada jejaknya dalam hidup kita.

Keterikatan asal diri juga dewasa ini nampaknya menjadi sebuah fenomena yang semakin penting di kalangan muda seluruh dunia, khususnya mereka yang lahir dan tumbuh di kota besar atau di negara tempat orang tua mereka merantau. Rosie mencoba menangkap fenomena third-culture kid (anak berbudaya ketiga). Jika ditelaah kembali, ketiga perempuan dalam lakon ini adalah para third-culture kid. Bahkan karakter Ria yang dipandang Anna dan Kandi sebagai orang Indonesia yang beruntung karena lahir dan besar di negaranya sendiri, pada kenyataannya juga anak berbudaya ketiga. Ria tak ada bedanya dengan Anna dan Kandi. Ria yang berdarah Ambon dan Medan lahir dan besar di kota Jakarta dan hanya mengerti rasanya menjadi orang Jakarta tanpa mengenal lebih dalam budaya orang tuanya. Sementara Anna dan Kandi yang memiliki darah Indonesia dan besar di Australia harus puas hanya mengenal Indonesia sebagai bagian cerita selentingan keluarga dan tidak sejauh mereka mengenal keaustraliaan dalam diri mereka. Hal itu yang tanpa sadar mereka rindukan untuk didalami dan semakin kuat dorongannya ketika bertemu Ria.

Mungkin saja Other Motherland memberi warna bagi seni pertunjukan Indonesia, menawarkan keindonesiaan tanpa terlalu fanatik menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar utama, dan ajaibnya dapat dilakukan minim eksotisme. Saya cukup jarang membaca atau menonton sebuah karya dengan konsep percampuran antar dua negara, dua bahasa secara simultan yang mengalir dan dekat dengan sehari-hari. Beberapa karya ‘multinasional’ yang pernah saya nikmati umumnya memperlihatkan eksotisme dan nasionalisme pemain lakonnya, misalnya dengan memasukkan bahasa ibu para pemain walau konteks di dalam naskah tidak mencampurkan hal itu. Tetapi tidak dengan karya Rosie. Other Motherland menampakkan keresahan yang nyata tentang menjadi seseorang dengan darah campuran yang besar di lingkungan urban, tentang pertanyaan tentang akar diri, hingga cinta keluarga yang sebenarnya tidak akan ada sekat walau jaraknya antar benua.***

 

Gladhys Elliona adalah penulis lepas, periset seni dan aktris. Ia meriset untuk sejumlah institusi kebudayaan dan menulis untuk beberapa media daring seperti NewNaratif, Jurnal Ruang dan Basabasi.co. Penulis juga pernah dinominasikan di Madrid International Film Festival 2017 untuk Best Supporting Actress in A Short Film.

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.