Belanja

Parodi Dalam Kecemasan Dan Ketakutan Para Pencari Visa

Ketakutan sebuah negara pada orang asing menyebabkan kecemasan para “peminta” visa ke negara tersebut. Diceritakan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah negara yang sedang mengalami ketakutan itu. Orang-orang yang sejak pagi mengantre di Konsulat AS adalah mereka yang cemas tidak mendapat visa untuk berkunjung ke sana. Ketakutan dan kecemasan itu dikemas dalam pentas yang jenaka, satire dan bisa dibilang puitis dan kontemplatif berjudul Visa dengan sutradara Iswadi Pratama.

Kali ini, Teater Satu (Bandar Lampung) sukses berkolaborasi dengan peserta Kelas Akting Salihara dalam mementaskan cerita ini. Naskah Visa ditulis oleh Goenawan Mohamad (GM), sastrawan yang saat pementasan karyanya tersebut sedang berulang tahun yang ke-75. Pementasan berlangsung dua kali di Teater Salihara, 29-30 Juli 2016.

Keluh kesah adalah inti adegan pembuka yang dimainkan oleh tiga orang peminta visa di sebuah konsulat AS di sebuah kota imajiner. Belakang panggung dibiarkan hitam dengan gambar bendera AS yang berkibar. Tak lama kemudian, berbondong-bondong orang datang berbaris rapi dan menunduk. Ya, bisa ditebak, mereka memegang ponsel masing-masing. Tawa penonton pecah saat loket seperti dibuka dan para pemain mulai antre berdesak-desakan. Mereka saling mendorong sehingga berhimpitan seperti dalam bus kota. Sampai-sampai beberapa kali mereka diminta mundur dari garis batas antrean. Sampai nyaris akhir cerita, loket memang tak kunjung buka. Itu meninggalkan kecemasan dan kepasrahan pada para peminta visa.

Hal menarik dari pertunjukan ini adalah semua tokoh peminta visa memiliki latar belakang, kepribadian dan kehidupan yang berbeda-beda. Aktivitas dan bisik-bisik mereka selama pertunjukan juga menjadi simbol-simbol yang menarik untuk disimak. Beberapa kali mereka mengundang tawa. Semua pemain seolah mencerminkan orang-orang di kota. Dalam pentas ini kota yang imajiner. Ada pengusaha keturunan Tionghoa, ada anak korban penghilangan 1965 yang gagap, ada banci, ada sepasang kakek nenek yang romantis dan masih banyak lagi hingga pesulap dan pemain terompet.

Dialog antar-tokoh terbangun karena mereka sama-sama cemas dan bosan menunggu. Mereka bertegur sapa dan beberapa bercerita. Nasib yang sama di depan loket konsulat negeri perkasa itu menghadirkan dialog yang kadang penuh emosi dan mengundang rasa simpati penonton akan sulitnya mendapatkan visa AS. Dialog diawali dengan cerita antar-tokoh tentang alasan mereka ingin ke AS. Semakin lama berubah jadi cerita pengalaman sulitnya mendapat visa AS dan kemudian pertanyaan-pertanyaan apa sebabnya sulit sekali mendapat visa di AS. Saat kecemasan memuncak, mereka kemudian mulai bimbang apakah harus pergi atau tidak pergi. Hingga mereka mempertanyakan lagi alasan mereka ingin ke AS. Mengapa saya harus pergi ke Amerika? Pergi atau tak pergi?

Mereka semua berhadapan dengan satu, loket konsulat AS dengan petugas yang dibuat menyebalkan. Ya, setiap pengumuman yang dibacakan petugas bernada ejekan. Walau dibuat lucu, namun membuat gemas. Misalnya saja ejekan bahwa mereka yang sedang cemas adalah peminta-minta visa. Dan pemerintah AS adalah pemberi visa yang punya wewenang penuh menentukan nasib mereka. Belum lagi pengeras suara yang dibuat rusak saat akan memberikan pengumuman yang benar-benar informatif dan membantu.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan konyol yang diajukan pada para peminta visa. Konon, pertanyaan yang tidak masuk akal seperti apa pentingnya cucu yang diajukan pada seorang nenek yang ingin menengok cucunya di AS dapat menyebabkan visa diterima atau ditolak. Hal itulah yang terus-menerus menghantui para peminta visa dari awal hingga akhir.

Eksekusi Iswadi Pratama pada lakon Visa begitu apik. Dengan halus dan tidak gamblang, ia juga memasukkan isu-isu yang beredar di masyarakat lewat para tokohnya. Dari isu metropolitan hingga global. Misalnya isu ketatnya keamanan konsulat AS sampai-sampai sinyal ponsel pun sulit, isu sederhana seorang yang diputuskan pacarnya melalui ponsel, kota-kota di AS yang super-sibuk namun sebenarnya penuh paradoks di dalamnya, hingga isu islamophobia Donald Trump dengan dihadirkannya tokoh berjilbab.

Pertunjukan itu pastinya juga sangat istimewa bagi GM. Di usianya yang bisa dikatakan tidak muda lagi, beliau masih bisa menyajikan karya yang tidak bisa dibilang usang. Tetap segar dan layak ditonton oleh semua generasi. Begitu spesial juga bagi para penonton karena pada pentas pertama, penonton “ditemani” dua orang penting di Indonesia. Ada Pak Boediono (Wapres RI ke-11) dan Pak Anies Baswedan (Mendikbud RI ke-26) yang berbaur bersama dua ratusan penonton malam itu.

Banyak sekali makna yang dapat dipetik dari lakon satu babak yang dipentaskan sepanjang kira-kira 70 menit itu. Dalam kemasannya yang pada intinya parodi satire, para pemain, termasuk Sha Ine Febriyanti dan Sita Nursanti, sukses membuat penonton senang sekaligus sadar bahwa negara sebesar Amerika sejatinya adalah negara yang sedang mengalami ketakutan pada orang-orang asing yang ingin berkunjung ke sana. (Pradhany Widityan)
 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.