Belanja

Pertunjukan Puisi Don Quixote

Pembacaan puisi di atas panggung sejatinya dapat menjadi sebuah arena pementasan khas seni pertunjukan bila memanfaatkan unsur-unsur pemanggungan dengan maksimal. Pembacaan semacam itu dapat menghadirkan pembacaan puisi bukan hanya sekadar pelisanan teks semata. Landung Simatupang dan Niniek L. Karim menunjukkan hal itu di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu, saat membacakan puisi-puisi Goenawan Mohamad dari buku puisi Don Quixote (Tempo & Grafiti Pers, 2011).

Naskah puisi yang dibacakan oleh Landung dan Niniek tidak hadir sendirian. Pembacaan larik-larik puisi ciptaan Goenawan Mohamad itu berdampingan dengan suara dari piano dan organ Hammond yang dimainkan Sri Hanuraga dan Adra Karim. Lalu, di layar yang menjadi latar belakang panggung menjadi bidang dari grafis dan visualisasi lukis pasir dari Niar Lazzar dan Fajrian Fedder. Kelindan antara narasi, musik dan wujud visual di layar kemudian tampil sebagai satu kesatuan pementasan yang utuh.

“Yang diutamakan adalah pembacaan teks puisinya,” kata Adra Karim yang selainkan memainkan Hammond juga menyutradarai pertunjukan puisi ini. Menurut dia, pembacaan tersebut tidak harus muncul dalam bentuk pelisanan teks yang terucap dari para narator. Rangkaian nada dari piano, Hammond dan tampilan multimedia tersebut menjadi bentuk pembacaan itu sendiri. Musik dan tampilan visual yang hadir kemudian tidak melulu menjadi pengiring narasi.

Namun demikian, Adra mengakui elemen-elemen di luar narasi tidak selamanya berdiri sendiri sebagai pembacaan. Ada bagian mengiringi narasi, memberikan suasana, juga yang benar-benar berdiri sendiri berupa rangkaian nada sebagai bentuk pembacaan atas puisi Don Quixote. Adra dan Sri Hanuraga menata sedemikian rupa porsi masing-masing elemen tersebut agar tidak lebih dominan dari pelisanan teks oleh narator. “Butuh proses yang tidak sebentar untuk menyiapkan ini,” kata Adra. Dia menyebut bukan soal mudah pula menghadirkan suasana liris seturut puisi Goenawan Mohamad sementara Don Quixote lebih banyak dikenal sebagai tokoh konyol.

Hal senada diungkapkan Sri Hanuraga. “Musik yang kami mainkan dapat disebut sebagai respons kepada teks puisi itu sendiri,” kata dia. Bentuk respons tersebut dapat berupa iringan, menguatkan suasana, juga berupa pembacaan yang dilakukan dengan nada. Hal serupa diterapkan pada lukis pasir dan grafis yang ditampilkan di layar. Konsep garapan tersebut menghasilkan puisi yang tidak hanya sampai lewat indra pendengaran, melainkan terlihat oleh penonton hingga menjadikannya sebuah pertunjukan. (Hendromasto Prasetyo)

 

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.