Belanja

Salt: Membongkar Sejarah Tubuh Eko Supriyanto

Oleh: Michael HB Raditya

Dengan cahaya yang teram-temaram, bahkan cenderung redup, laki-laki tersebut membongkar sejarah tubuh tari yang ia miliki. Ia mencoba merunut tubuh dan menyadari konstruksi yang berkelindan di dalam dirinya. Dipertunjukkan laiknya refleksi perjalanan atau dapat dikonotasikan dengan auto-biografi, ia menampilkan kosa-gerak tari klasik Jawa, tari Jathilan, serta tari Cakalele. Tari yang notabene hidup, sekaligus menghidupi diri sang koreografer, Eko Supriyanto.

Alih-alih hanya mempertunjukkan signifikansi antar tiga gerak pada tarian tersebut, karya bertajuk Salt ini turut menilik konstruksi tiap tarian yang ia tautkan. Eko mengemukakan persilangan kultur, sosial, serta ekologi yang terkait pada tiga basis tarinya, semisal tari Jathilan dengan konotasi agraris, sedangkan tari Cakalele berkonotasi maritim.

Kesadaran tubuh dan persilangan budaya ini lantas menjadi karya pamungkas pada Trilogy of Dancing Jailolo, yang telah Eko geluti lima tahun belakangan. Dipertunjukkan di Komunitas Salihara (12/11), sebagai pementasan pertama di Asia, karya magis berdurasi 60 menit ini sebelumnya sempat dipentaskan di deSingel Internationale Kunstcampus, Antwerp (Belgia), Kaaitheatre Brussel (Belgia), dan Dance House, Melbourne (Australia).

 

Satu Tubuh Beragam Tinubuh

Setelah berhasil dengan karya Cry Jailolo dan Balabala, Eko kembali menciptakan karya hasil eksplorasinya di tanah Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Hal yang cukup membedakan adalah dua karya sebelumnya ditarikan oleh pemuda-pemudi setempat, sedangkan karya pamungkasnya ini ditarikan olehnya secara tunggal. Sementara pada gerak tari, Eko tidak hanya menampilkan kosa-gerak tarian Jailolo, Cakalele, tetapi lebih mengelaborasi tiga basis tari yang cukup penting bagi perjalanan tarinya.

Pada cahaya yang redup, Eko berdiri di sisi panggung bagian belakang dengan posisi memunggungi penonton. Perlahan suara laiknya gesekan terdengar nyaring dengan sekejap, menimbulkan impresi mencekam. Tanpa berbusana, laki-laki tersebut perlahan mulai bergerak, laiknya menutup telinga, dengan getaran kecil pada tangan hingga sekujur tubuhnya. Pun tidak jarang tubuhnya terlihat menggeliat ke kiri, juga ke kanan. Dengan suara nyaring dan cahaya kembali meredup, Eko tenggelam dalam gelap, larut dalam kecemasannya.

Tidak lama berselang, bagian tengah panggung mulai bercahaya. Eko mengenakan kain putih dengan beberapa permukaan yang tipis—laiknya rok panjang—berdiri bermandikan teram-temaram cahaya. Samar-samar bunyi gamelan mulai terdengar, Eko mulai menampilkan kosa-gerak tari klasik Jawa, mulai pada gerakan tangan hingga kuda-kudanya.

Setelah itu Eko mulai bergerak lebih ‘banal’. Ia mulai menampilkan kosa-gerak tari Jathilan dengan latar suara krincing—yang lazimnya digunakan oleh penari Jathilan di kakinyayang terdengar ramai. Eko mulai dari kaki berderap, gerakan tangan, hingga lompatan. Kemudian dengan sekejap Eko terdiam, suara menggema merapal nama Eko terus berulang. Eko mulai meraih satu demi satu ruas ‘rok’ yang ia kenakan.

Di bawahnya terdapat bedak atau terigu yang dapat dikonotasikan sebagai garam. Serbuk berwarna putih tersebut ia sibak-sibakkan ke segala arah. Suara yang kembali berderap memancing Eko untuk kembali bergerak dengan enerjik. Setelah itu, suara gesekan, gamelan, hingga krincing terdengar acak. Ia mengambil selembar kain tergulung dan mengunyahnya laiknya mengalami kerasukan atau trance. Dengan tatapan garang, Eko meninggalkan panggung begitu saja, menyisakan masa jeda dengan cahaya yang semakin memerah. Penonton dibiarkan terdiam menunggu. Dalam kondisi ini sebenarnya alur pertunjukan telah dibuat tinggi, dan beberapa saat panggung dibiarkan kosong sehingga membuat emosi penonton terasa menggantung.

Eko kembali masuk dengan balutan kain berwarna hitam menutupi kemaluannya. Ia menatap ke segala arah dan melangkah kecil ke kiri, kanan dan depan panggung—seakan membuat jalur, perlintasan. Kemudian samar-samar terdengar alunan berderap laiknya perkusi, yang bercampur dengan alunan bertempo enerjik menyerupai musik seperti pada dua karya sebelumnya, Cry Jailolo dan Balabala. Mendengar alunan tersebut, Eko mulai menampilkan kosa-gerak tari Cakalele. Bagi mereka yang telah menonton dua nomor karya sebelumnya, beberapa kosa-gerak Cry Jailolo dan Balabala turut Eko tampilkan. Dalam karya pamungkas ini, Eko benar-benar ingin mempertunjukkan semua yang ia dapat dan pernah dilakukannya di Jailolo. Perasaan menggantung di jeda sebelumnya pun seakan dibayar lunas.

Tidak hanya menari di satu tempat, dengan kosa-gerak tarian Jailolo, Eko menciptakan pola gerak dan pola lantai yang lebih luas. Gerak yang cukup menawan adalah ketika Eko merentangkan tangan dengan posisi kepala menengadah. Gerak tersebut dibarengi dengan putaran dengan pola lantai yang lebih leluasa.

Setelahnya suara musik mulai memudar, Eko berdiri di sisi kiri panggung, ia menatap ke arah penonton secara seksama. Alunan musik semakin menggema laiknya suara di bawah permukaan laut. Kemudian ia berjalan ke arah belakang panggung, dan lenyap dalam kegelapan. Tanda pertunjukan telah usai, tanda Eko telah berhasil mengartikulasikan siapa dan bagaimana biografi tubuhnya tercipta. Hanya saja yang terasa pupus adalah letak reflector di depan panggung terlalu menyita perhatian, seakan membuat dugaan akan direspon olehnya namun ternyata sebaliknya.

 

Tubuh yang Memilih

Agaknya Eko memang patut berterima kasih kepada kekayaan budaya Indonesia yang membuat dirinya memiliki perbendaharaan tubuh yang banyak, namun berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan yang termanifestasikan di dalam tubuhnya tersebut lantas dibongkar olehnya di dalam karya Salt.

Berkenaan dengan hal ini, pada dasarnya pengalaman dan perjalanan Eko dalam tari melebih tiga basis tari tersebut. Jika menilik latar belakangnya, Eko pernah belajar beragam tarian di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta; juga sempat mempelajari tari modern di UCLA, Amerika; pun menjadi penari Drowned World Tour Madonna, konsultan pertunjukan Broadway musikal Lion King, dan berkolaborasi dengan banyak penari, baik lokal ataupun internasional. Dalam arti, Eko mempunyai pengalaman yang cakap pada tari tradisi, modern, ataupun kontemporer.

Namun dalam hal ini kesadaran tubuh membuat Eko percaya bahwa tidak semua tari yang ia pelajari sesuai dengan apa yang dieksplorasi dan dikembangkan olehnya. Pengalaman langsung tubuh bertemu dengan budaya menjadi poin penting dalam menentukan kesesuaian tersebut. Hal ini jika ditautkan pada telaah fenomenologi dapat dibaca sebagai tubuh yang mengalami suatu hal secara sadar. Di mana tiga basis tari tersebut dialami oleh Eko secara lebih, yang secara lebih lanjut menjalin dialog antar sang koreografer dengan konteks dan keadaan ekologi setempat.

Dimulai dengan dua tarian yang lahir dari kultur agraris, kemudian beranjak ke tarian dengan kultur maritim. Tarian yang berbeda secara ekologis tersebut lantas dipertunjukkan secara berurutan. Dengan cara ini, Eko dapat memperlihatkan signifikansi antar tarian dengan menggunakan tubuhnya. Kekayaan paling hakiki dari penari adalah tubuh yang ‘berbicara.’ Bertolak dari hal ini, Eko Supriyanto, salah satu koreografer terbaik yang dipunya Indonesia kini, telah menyelesaikan karya Trilogy of Dancing Jailolo dengan baik. Perlu rasanya kita memberikan perhatian lebih, akan ke mana lagi Eko ‘melangkahkan’ kakinya kelak?

 

Michael HB Raditya adalah peneliti, pengamat seni pertunjukan, penulis partikelir. Ia lulusan strata dua Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM. Sejak 2014, ia telah berkerja sebagai editor Jurnal Kajian Seni UGM. Ia menulis untuk ranah seni pertunjukan, kritik, musik, tari dan budaya yang tersebar di jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, majalah, koran, zine, serta artikel daring di pelbagai website seni budaya.

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.