Belanja

Tiga Bentuk Permata Jawa

Atilah Soeryadjaya menghadirkan Permata Jawa di Helatari Salihara 2015, Rabu-Kamis, 03-04 Juni lalu. Permata Jawa adalah karya yang terdiri atas pembacaan macapat, konser gamelan dan musik cangkeman, serta tari Samparan Matah Ati.

Macapat yang dibacakan dalam pentas ini bersumber dari Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV (1811-1881), sedangkan konser gamelan dan musik cangkeman hadir sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas berisi kelindan bebunyian unsur gamelan berbagai wilayah Indonesia. Reportoar ketiga adalah tari bedaya berjudul Samparan Matah Ati yang mengolaborasikan kosagerak koreografi tradisi dengan anasir panggung teater modern.

Atilah menyebut Samparan Matah Ati berbeda dari Opera Matah Ati walau bertumpu pada sosok yang sama, Rubiyah, istri Mangkunegara I sekaligus komandan perang pasukan perempuan bangsawan berjuluk Pangeran Samber Nyawa itu. “Samparan Matah Ati lebih banyak mengisahkan Rubiyah sebelum menjadi istri Mangkunegara I,” katanya. Helatari Salihara 2015 menjadi panggung pementasan perdana karya ini.

Menurut Atilah, pembacaan macapat, karawitan dan seni tari adalah permata dalam kebudayaan Jawa. “Ketiganya adalah permata yang justru kerap kurang jadi perhatian,” kata Atilah. Pada Permata Jawa, Atilah tidak sendirian. Ada Blacius Subono sebagai penata musik konser gamelan, juga Daryono Darmo Rejono yang menjadi koreografer Samparan Matah Ati. Atilah menjahit tiga bagian pertunjukan itu menjadi satu rangkaian karya.

Memasukkan unsur baru pada karya tradisi sejatinya bukan soal sepele. Kebaruan-kebaruan itu dapat luput dari amatan penonton bila bingkai karya masih setia dengan bentuk tradisionalnya. Ciptaan baru untuk karya dari ranah seni tradisional sering berhadapan dengan persoalan semacam ini. Begitu pula dengan Permata Jawa. Pada Permata Jawa Atilah sengaja tak banyak mengubah bentuk pertunjukan yang bertolak dari dunia panggung khas Jawa.

Seturut dengan semangat kreatifnya yang bertujuan membawa karya-karya klasik dari balik tembok Pura Mangkunegaran ke ruang publik, secara sadar Atilah tak melakukan perombakan besar-besaran pada konsep-konsep pertunjukan panggung seni tradisional tersebut hingga membuatnya benar-benar anyar dan jauh berbeda dari akarnya. Pijakan konsep pertunjukan semacam itu dengan sendirinya tidak menghadirkan wujud kebaruan yang frontal menabrak pakem.

Langkah ini menjadikan kebaruan Permata Jawa terselubungi oleh bentuk pemanggungan tradisional hingga tak salah bila penonton menangkapnya sebagai pertunjukan tari tradisional semata. Di Permata Jawa, mereka yang tak mengenal prinsip-prinsip macapat, karawitan dan tari Jawa bisa jadi tak akan menemukan kebaruan di dalamnya.

Pada bagian macapat yang menjadi bagian pertama Permata Jawa misalnya. Sebagai sebuah bentuk, macapat sejatinya adalah pembacaan sastra Jawa dengan menimbang Guru Lagu, Guru Wilangan maupun Guru Gatra sebagai struktur fisik dan batin teks. Di bagian pembuka Permata Jawa itu, pertimbangan-pertimbangan estetik tersebut bertemu dengan semangat memasukkan unsur kebaruan berupa akapela khas Barat. Hasilnya adalah pembacaan macapat yang sahut-menyahut tak seperti penembangan pada umumnya.

Begitu pula dengan konser gamelan yang banyak memasukan unsur gamelan dari banyak daerah Indonesia dan nada-nada diatonis pada instrumen pentatonis. Anasir baru tersebut tertutup oleh bingkai karya berbentuk konser gamelan. Padahal, beberapa bagian, nada yang dilafalkan waranggono dan wiraswara muncul bentuk-bentuk olah vokal melagukan dua nada berbeda di saat bersamaan khas kidung-kidung gregorian. Di saat bersamaan, kekinian ansambel karawitan yang melontarkan kritik tajam yang sangat verbal menjadi terkesan klise di zaman serba-terbuka sekarang ini.

Di bagian akhir Permata Jawa, penggunaan topeng polos berwarna emas, putih dan hitam oleh para penari disebut Atilah sebagai bagian dari unsur kekinian yang ada dalam karya itu. Bukan topeng-topeng klasik yang lazim muncul dalam tari topeng tradisional, bukan pula topeng koleksi Mangkunegara VII, kakek Atilah. Mengenakan topeng sembari mengikuti irama gamelan dengan tetap berkonsentrasi pada kosagerak koreografi sejatinya adalah hal supersulit.

Tidak ada keleluasaan di antara penari untuk melirik kiri-kanan demi menyesuaikan posisi maupun gerak akibat pandangan mata terbatas oleh topeng. Ketepatan menyepak bagian bawah kain kostum dan mengibaskan sampur dengan benar-benar kompak berbarengan yang ditunjukkan para penari di sepanjang Samparan Matah Ati adalah mustahil bisa dilakukan tanpa melalui latihan intensif.

Koreografi Samparan Matah Ati di ujung Permata Jawa tampak dirancang dengan kesadaran memaksimalkan ruang panggung. Posisi penari yang tak hanya sejajar di tengah panggung, melainkan juga diagonal mengiris panggung hingga membentuk lingkaran mengecil maupun membesar menjadikan karya ini asyik untuk ditonton. Namun begitu, kosagerak adegan-adegan Samparan Matah Ati tetap menghadirkan bentuk-bentuk lazim dalam tarian Jawa seturut konsep Atilah menghadirkan karya yang dulunya hanya dapat disaksikan di balik istana para bangsawan Jawa menjadi tontonan publik dengan banyak penyesuaian. (Hendromasto Prasetyo)

 

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.