Belanja

Yang Dinamis Dan Eksperimental Dari Tesla Manaf

Jazz, menurut  Andrew Gilbert, adalah jenis musik yang unik karena mampu menyerap pengaruh musik apa saja dan menjadikan pengaruh tersebut sebagai bagian dari dirinya. Menurut Idang Rasjidi, lagu apa saja, baik itu rock, dangdut maupun musik tradisional Nusantara dapat digubah menjadi jazz. Dengan kata lain, jazz adalah jenis musik yang sangat terbuka terhadap kreasi sebebas apa pun. Sifat yang sangat terbuka tersebut menjadikan banyak karya musik jazz, dalam perkembangannya kini, berpotongan dan berbatasan dengan genre-genre musik lain dari seluruh dunia.

Hal inilah yang akhirnya diangkat sebagai tema dari Jazz Buzz Salihara 2016: Jazz Sans Frontières yang diselenggarakan di Teater Salihara, 20-21 dan 27-28 Februari 2016. Setelah dibuka dengan lecture concert jazz oleh Tjut Nyak Deviana Daudsjah pada 17 Februari, perhelatan tahunan ini menampilkan empat kelompok musisi yang tidak hanya mengusung genre jazz namun juga beragam rupa aliran musik hasil persilangan seperti rock progresif dan neo-klasik: Trodon, Tesla Manaf, I Know You Well Miss Clara, Manticore Project.

Salah satu penampil yang paling ditunggu adalah gitaris muda kelahiran Bandung yang telah merilis album mancanegara perdananya di Amerika Serikat, Tesla Manaf. Tesla yang tampil pada Minggu malam (21/02) tidak sendirian mengisi panggung. Bersamanya tampil pula tiga musisi muda lainnya: Desal Sembada (drum), Rudy Zulkarnaen (bas elektrik) dan Hadis “HulHul” Hendarisman (klarinet, seruling). Formasi tersebut merupakan formasi lengkap Tesla saat rekaman album A Man’s Relationship with His Fragile Area yang dirilis ulang via MoonJune Records pada 2015 lalu. Bersama formasi ini pula Tesla akan melakukan serangkaian tur keempat kota di Jepang pada Maret ini. Pada malam pertunjukan, panitia menjual CD album A Man’s Relationship with His Fragile Area dan album It’s All Yours dalam satu keping CD. Dengan membeli album tersebut, penonton berkontribusi dalam mewujudkan tur konser Tesla Manaf ke Jepang.

Begitu memasuki ruang pentas, penonton langsung merasakan keunikan pada panggung Tesla. Posisi drum ditempatkan di bagian kanan depan panggung dan diatur mengarah ke tengah panggung. Posisi yang tidak biasa karena normalnya drum berada di panggung bagian belakang dan mengarah ke depan panggung. Alhasil, selama pertunjukan drummer menghadap ke arah Tesla dan membelakangi penonton. Pemain klarinet dan bas juga mengambil arah hadap serupa, sehingga dari bangku penonton keempat musisi tersebut terlihat seperti tengah asyik berdiskusi dengan Tesla sebagai pusat perhatian mereka.

Pertunjukan dimulai dengan sahut-menyahut antara keempat instrumen pada lagu Chin Up. Lagu yang diambil dari album A Man’s Relationship ini memberi kesan lucu yang unik karena seperti memperdengarkan berbagai potongan theme song film dari berbagai masa. Baru saja pertunjukan dimulai, kesan jazz sans frontières-nya sudah langsung terasa. Lagu yang awalnya dibuka dengan sahut-menyahut jazz tune tersebut mendadak berubah menjadi lagu pop bernuansa musik Spanyol yang penuh semangat ketika Tesla merambas gitarnya mengiringi lengking dan liukan klarinet HulHul. Mendekati akhir lagu, Chin Up akhirnya kembali berubah menjadi jazz namun dengan sedikit aroma ritme musik Bali. Komposisi yang berubah-ubah memang menjadi keahlian Tesla. “Bagaikan mendengarkan serangkaian puzzle suara,” komentar Dan Burke pada sampul album A Man’s Relationship. Dari 10 lagu yang ditampilkan pada malam itu, lima di antaranya diambil dari album A Man’s Relationship.

Penampilan Tesla dilanjutkan dengan lagu kedua, Counting Miles & Smiles. Pada lagu ini Tesla memberikan pola perubahan komposisi yang sedikit berbeda dari Chin Up. Alih-alih dari slow ke energik, Counting Miles & Smiles dibuka dengan tema yang bersemangat, namun kemudian mendadak menjadi musik lembut bertempo moderato dengan tiupan klarinet HulHul yang diberi sentuhan nada khas seruling Sunda.

Pemilihan lagu Chin Up dan Counting Miles & Smiles yang bersemangat sebagai pembuka konser terasa sangat tepat. Kedua lagu tersebut mengantarkan penonton kepada rasa ingin tahu terhadap komposisi dan improvisasi berikutnya. Lagu berikutnya, seperti Moving Side, Tales from the Undeniable Thought dan Necropilia, walau tidak segemerlap Chin Up, tetap mengusung tema-tema dinamis dan berubah-ubah. HulHul sendiri pada lagu Moving Side berganti-ganti instrumen dari klarinet ke seruling Sunda. Solo-solo seruling Sunda HulHul terasa tercekat dan terseret-seret seperti mengekspresikan kesedihan. Namun masing-masing solo sedih tersebut segera ditimpali oleh petikan dan gebukan tempo cepat yang terkesan tidak serasi oleh Tesla dan Desal. Penampilan tersebut seakan-akan menggambarkan kealpaan respons kita ketika dibutuhkan oleh sesama.

Sesi pertama pertunjukan diakhiri dengan lagu The Sweetest Horn bernuansa musik marching band dan theme song pantomin. Pada bagian tengah lagu hingga akhir, seraya tempo lagu diperlambat, dapat dirasakan pula sedikit aroma musik Arab pada permainan klarinet HulHul dan sensasi pop akustik pada petikan gitar Tesla.

Sesi pertama berlangsung sangat kaya warna musik dari berbagai belahan dunia dan masa. Warna-warni tersebut seluruhnya dapat ditampung dalam konsep blue note dan sinkopasi yang merupakan prinsip-prinsip dasar jazz. Walau dalam hasil wawancaranya dengan Whiteboard Journal Tesla tidak mengakui dirinya sebagai musisi jazz karena hanya sedikit saja melakukan improvisasi spontan selama pertunjukan, daya eksperimen komposisi dalam lagu-lagunya membuat dia pantas disandingkan sejajar dengan musisi jazz pada umumnya. Bila musisi jazz pada umumnya melakukan improvisasi pada saat penampilan, Tesla justru melakukan improvisasi sejak awal penyusunan komposisi.

Daya kreasi eksperimental sangat terlihat dalam lagu pembuka sesi kedua, Unpopping Confetti, saat Tesla merekam secara langsung permainan gitarnya sendiri lalu menimpa hasil rekaman tersebut dengan permainan gitar lainnya. Tesla menciptakan banyak lapis suara yang saling menimpa. Awalnya lapis-lapis suara tersebut saling bertabrakan dalam harmoni. Namun Tesla terus-menerus menciptakan lapis lainnya dan menggantikan lapis suara sebelumnya. Perlahan-lahan, terlihat pergerakan harmoni suara dari yang tadinya chaos menjadi enak didengar.

Dalam format yang berbeda, daya eksperimentasi Tesla juga terlihat dalam lagu berikutnya, After Her. Bedanya, bila pada lagu sebelumnya Tesla bermain sendiri, pada After Her dia kembali mengajak tiga rekannya untuk kembali bergabung. Eksperimen dilakukan secara kolektif dan sangat mengusung jazz avant-garde.

Bila pertunjukan dibuka dengan lagu yang megah penuh semangat seperti Chin Up, maka pada penutupan Tesla telah menyiapkan Ufuk Timur dan Where Are We Now yang tak kalah menarik. Serangkaian tema jazz, pop dan slow rock dengan samar-samar irama musik Nusantara silih berganti kembali diperdengarkan melalui kombinasi rambasan gitar Tesla dan lengkingan klarinet HulHul.

Tanpa terasa penonton telah disuguhkan pertunjukan musik yang luar biasa selama hampir satu setengah jam. Riuhnya tepuk tangan di akhir pertunjukan serta seruan encore dari beberapa penonton membuktikan diterimanya karya-karyaTesla Manaf di panggung musik nasional sekaligus membuktikan pula suksesnya Jazz Buzz Salihara 2016. (Yohanes Pangaribuan)

Komentar(0)

Plain text

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.