Belanja

Relawan Magang Videografer dan Fotografer

Arsip dan Dokumentasi Komunitas salihara memerlukan dua relawan magang untuk membantu pendokumentasian video dan foto selama festival sastra dan gagasan:  LIFEs—nama dan bentuk baru bagi Bienal Sastra Salihara dengan tema yang sangat seksi Viva! Reborn! “Membaca Amerika Latin”. Ayo bergabung bersama kami sembari belajar proses dokumentasi dan arsip di Komunitas Salihara. Segera daftar ya. Persyaratan: Tertarik dalam bidang literasi  Memiliki ketertarikan dalam fotografi atau video shooting, terutama dokumentasi acara diskusi, workshop, pembacaan sastra dan pertunjukan. Mampu mengoperasionalkan kamera, foto dan video. Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, pas foto,  ke alamat email arsip@salihara.org paling lambat Senin, 02 Oktober 2017
Detail

Writing Exchanges

INDONESIA - AUSTRALIA   ABOUT Tulis (Too-lis) 2018 is a two-way Australian-Indonesian writing exchange. The project will bring an Indonesian writer to Australia to conduct a four-week residency at Varuna Writers House, a two-week placement at WestWords and participation in the Sydney Writers Festival. There will be a reciprocal exchange for an Australian writer, who will spend up to five weeks at Komunitas Salihara, before participating in the Ubud Writers & Readers Festival. A short film will capture the exchange. Open Call for Applications: Australia and Indonesia An open call for applications will take place in Australia and Indonesia between 11 September-1 October 2017 for residencies taking place in 2018. Applications will be made through the online system Smartygrants.
Detail

Undangan Menulis di Blog Komunitas Salihara

Kami mengundang anda menulis atau mengulas acara-acara yang ditampilkan di Komunitas Salihara. Acara yang dimaksud adalah pertunjukan seni (teater, tari, musik, sastra), pameran seni rupa, diskusi, ceramah, musyawarah buku, lokakarya—baik yang berbayar maupun yang terbuka untuk umum alias gratis. Tulisan yang memenuhi syarat akan dimuat di rubrik “Blog” situs web Komunitas Salihara (www.salihara.org). Untuk contoh tulisan, sila klik tautan ini: http://salihara.org/blog Ketentuan Panjang tulisan 800-1.000 kata (dalam bahasa Indonesia). Kami berhak menolak tulisan yang tidak memenuhi standar penulisan, baik format maupun isi. Kami berhak menyunting tulisan yang layak muat, sejauh tidak mengubah isi. Tulisan dikirimkan paling telat sepekan setelah anda menonton pertunjukan/acara tersebut. Anda boleh memuat tulisan anda di blog pribadi atau situs web lain setelah dimuat di Blog Salihara. Untuk bisa menonton dan menulis ulasan, anda mesti mendaftarkan diri ke info@salihara.org Setelah mendaftarkan diri, kami akan memberi anda satu tiket pertunjukan berbayar yang akan anda tonton dan buat ulasannya. Untuk acara tidak berbayar, anda cukup mendaftarkan diri saja. Kami akan memberi anda dua tiket pertunjukan berbayar berikutnya sebagai imbalan pemuatan tulisan anda. Imbalan ini akan disesuaikan dengan ketersediaan tiket di Komunitas Salihara.  
Detail

KOMUNITAS SALIHARA STAF ACCOUNT EXECUTIVE FUNDRAISING

Uraian tugas: Mencari sumber dana bagi untuk menunjang program-program Komunitas Salihara. Terutama LIFEs 2017.   Kriteria:   Pria/Wanita Lulusan D3 Berpengalaman minimal 2 tahun di bagian sales dan marketing  Mampu berkomunikasi dengan baik dan mempunyai jaringan yang cukup luas Mampu membuat proposal dengan baik dan benar Memiliki daya juang dan motivasi yang tinggi Biasa bekerja dengan target Mampu melakukan negosiasi dan presentasi dengan baik Jujur, disiplin, bertanggung jawab dan dapat bekerja sama dalam tim Mampu mengoperasikan Power Point dan Microsoft Office Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris (lisan dan tulisan)   Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, pas foto, foto kopi KTP ke alamat email sdm@salihara.org atau melalui pos ke   Bagian Fundraising Komunitas Salihara Jl. Salihara 16, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520   Cantumkan judul AE Fundraising di pojok kanan atas amplop atau di judul email jika pengiriman melalui email. Lamaran kami terima paling lambat 24 Agustus 2017. Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan kami panggil untuk wawancara.   Catatan: Waktu kerja staf terpilih akan berakhir saat selesainya program LIFEs pada 31 Oktober 2017.
Detail

KOMUNITAS SALIHARA MENCARI KURATOR GAGASAN

Kurator Gagasan adalah kurator yang bertanggung jawab merancang program-program Gagasan (Kelas Filsafat, Ceramah, Diskusi, Musyawarah Buku, Lecture Concert, Bincang Seniman dan sejenisnya). Kriteria Berusia tidak lebih dari 35 tahun pada akhir 2017 Memahami situasi kesenian dan pemikiran mutakhir Mampu berkomunikasi (lisan dan tulisan) dalam bahasa Indonesia dan bahasa Ingggris yang baik Mampu merancang program sesuai dengan visi Komunitas Salihara Bersedia bekerja di akhir pekan Mampu bekerja sama dengan tim (para kurator dan para manajer) Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup dan pas foto (enam bulan terakhir), ke sdm@salihara.org dengan judul email Kurator Gagasan. Lamaran kami terima paling lambat 30 Juni 2017. Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan dipanggil untuk wawancara.
Detail

Konser Ceramah Musik Amerika Latin

Pentas Musik Konser Ceramah Musik Amerika Latin Penampil: Tjut Nyak Deviana Daudsjah (Indonesia), Veronica Nunn (Amerika Serikat) Jumat, 7 April 2017, 15:00-17:00 WIB Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) Jl. Kemang Timur Raya No.89c Jakarta Selatan Pendaftaran Asteya Graha: 021-7197168 atau 0812-8365-3701 Tjut Nyak Deviana dan Veronica Nunn akan mementaskan sekaligus berceramah tentang perkembangan musik Amerika Latin, percampuran yang khas benua itu antara musik Barat, setempat dan Afrika. Tjut Nyak Deviana Daudsjah adalah musisi dan akademisi. Pernah menjadi rektor di Musik International Music College (Jazz & Rockschulen Freiburg) Jerman. Ia kembali ke Indonesia pada 2000 dan mendirikan Institut Musik Daya Indonesia, akademi musik independen pertama di Indonesia dengan kurikulum standar internasional. Veronica Nunn adalah penyanyi jazz Amerika Serikat. Sejak 1992, ia dikenal sebagai vokalis bersama Michael Franks. Di awal kariernya, ia bertemu Big Nick Nicholas, guru saksofonis John Coltrane, yang membawanya menjadi penyanyi jazz dalam acara jazz Harlem dan Greenwich Village di New York. Ia menikah dengan pianis jazz Travis Shook pada 1997, dan bersama-sama mendirikan label rekaman sendiri, Dead Horse Records, yang saat ini berbasis di Woodstock, New York.   Acara ini adalah kerjasama Komunitas Salihara dengan ESAS (Empu Sendok Art Space)
Detail

LOWONGAN KERJA

Ingin bergabung dalam tim LIFEs? Kami membuka lowongan untuk kategori: Relawan Pekerja paruh waktu Pemagang   Relawan Syarat: Diutamakan bagi mereka yang telah matang dalam karier, organisasi atau keluarga, tetapi ingin menambah wawasan dan pergaulan intelektual. Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pekerjaan yang ditawarkan: Pemandu wisata sastra. Pendamping (chaperone) bagi sastrawan atau seniman undangan. Pemeriksa naskah (untuk yang memiliki kapasitas bahasa Inggris dan Indonesia). Pembawa acara dan moderator (untuk yang menyukai public speaking). (Relawan akan mendapat dan wajib mengikuti pemberian wawasan intelektual yang diperlukan untuk tugasnya.)   Pekerja Paruh Waktu Syarat: Punya pengalaman atau pernah magang di Komunitas Salihara atau organisasi serupa. Membaca sastra dan menyukai seni Cukup mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Pekerjaan yang ditawarkan: Program Officer/Asisten Program Officer Liaison Officer Pembawa acara dan moderator Pemandu wisata sastra dan pemandu tur kompleks Salihara. (Tenaga paruh waktu mendapatkan honorarium berdasarkan beban kerjanya.)   Pemagang Syarat: Berusia 19-26 tahun dan ingin belajar Menyukai seni, manajemen kesenian atau industri kreatif Cukup mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Pekerjaan yang ditawarkan: Riset & pengolahan data Marketing & komunikasi Petugas ruang pertunjukan (Pemagang mendapatkan pelatihan dan pengganti biaya transportasi.) Kirim lamaran ke lifes@salihara.org dengan subyek “Lamaran Relawan/Pekerja Paruh Waktu/Pemagang”. Mohon menyertakan CV dan menyebutkan kategori dan bidang kerja yang diminati.
Detail

LOWONGAN KERJA SAMA

Anda punya produk kreatif yang cocok untuk semangat LIFEs? Kami mencari produk kreatif untuk dijual di Gerai Salihara dan bazar yang diadakan selama festival. Karakter produk yang diharapkan: Kreatif, inovatif, menarik Menafsir ulang tradisi Nusantara Berhubungan dengan sastra atau pemikiran Membawa nuansa atau menafsir budaya dan ikon Amerika Latin Hubungi: lifes@salihara.org dengan subyek Lowongan Kerja Sama
Detail

Demo Masak

Sastra & Rasa Demo Masak Bersama Chef Alejandra Yick Álvarez (Meksiko) Sabtu, 20 Mei 2017, 10:00-13.00 WIB ESAS; Jl. Empu Sendok 39 Jakarta Selatan Demo masak dan makan siang Rp500.000 Makan siang Rp350.000 Pendaftaran Aya: aya.slim22@gmail.com atau 0811-8333-905 Ines: inessomellera@gmail.com (Tempat Terbatas) Chef Alejandra Yick Álvarez akan berbagi kepiawaian dan membuka rahasia dapurnya dalam meramu masakan Puebla yang khas dengan bahan dan bumbu perpaduan sedikitnya tiga benua—Amerika, Eropa, Afrika dan jazirah Arab. Puebla, kota asal Alejandra Yick, terkenal dengan saus mole poblano yang dianggap sebagai salah satu cara masak nasional Meksiko. Alejandra Yick kini tinggal di Jakarta, belajar tentang budaya dan tradisi di Indonesia serta segala yang berhubungan dengan kuliner. Setelah demo masak, akan ada makan bersama dengan makanan hasil memasaknya.   Acara ini adalah kerjasama Komunitas Salihara dengan ESAS (Empu Sendok Art Space)
Detail

Makan Malam Sastra

Sastra & Rasa Makan Malam Sastra Bersama Alejandra Yick Álvarez (Meksiko) Kamis, 04 Mei 2017, 19:00-22.00 WIB ESAS; Jl. Empu Sendok 39 Jakarta Selatan Biaya Rp350.000/orang (tempat terbatas) Pendaftaran Aya: aya.slim22@gmail.com atau 0811-8333-905 Ines: inessomellera@gmail.com Meksiko adalah salah satu negara dengan kuliner paling khas dan terkenal di dunia. Sebelum orang Eropa tiba, suku-suku setempat mengembangkan resep dari bahan lokal—alpokat, coklat, umbi-umbian dan cabai. Sementara itu, bangsa Spanyol, yang pernah menjadi wilayah Imperium Islam selama delapan abad, membawa serta pengaruh Arab dalam kuliner mereka. Tiga benua bersatu dalam belanga Meksiko. Alejandra Yick mendapat gelar sarjana Culinary Arts dari the Swiss Institute of Gastronomy and Hospitality. Sambil menikmati makan malam, akan ada pembacaan karya-karya sastra dari Meksiko. Acara ini adalah kerjasama Komunitas Salihara dengan ESAS (Empu Sendok Art Space)
Detail

NUANSA JAZZ KEDAERAHAN
Indra Perkasa & Gadgadasvara Ensemble
Oleh: Yohanes Pangaribuan

Jazz Buzz Salihara kembali digelar tahun ini dengan tema “Jazz Sans Frontières” atau jazz tanpa batas. Seperti tahun lalu, Jazz Buzz Salihara 2017 pun menampilkan musisi-musisi yang memainkan persilangan antara jazz dengan genre musik lainnya. Mulai dari progressif-psychedelic-rock, swing a capella hingga perpaduan musik tradisional Indonesia dengan jazz dapat dinikmati di Teater Salihara sepanjang Februari lalu. Meningkat dari tahun sebelumnya, tahun ini Komunitas Salihara menampilkan enam kelompok musisi bergantian. Salah satu penampil di pekan pertama Jazz Buzz Salihara 2017 adalah Indra Perkasa. Indra Perkasa sudah tidak asing lagi di dunia jazz Indonesia. Ia adalah musisi sekaligus komposer dan produser. Sebagai musisi ia sudah malang melintang sebagai pembetot bas lepas pada berbagai pertunjukan bersama musisi-musisi jazz senior maupun dengan sesama musisi muda. Akhir-akhir ini ia pun banyak terlibat dengan grup musik Monita Tahalea, The Nightingale, dalam produksi album Dandelion maupun di panggung. Selain itu Indra juga diketahui sebagai penata musik film Tabula Rasa (2014). Ini bukan kali pertama Indra Perkasa tampil di Jazz Buzz Salihara. Pada 2015 ia juga tampil bersama Jessi Mates dan Ricad Hutapea. Sebelum itu ia juga pernah tampil sebagai finalis Sayembara Komposisi Musik Baru Berdasarkan Budaya Nusantara (2011) yang juga diadakan oleh Komunitas Salihara. Tampil pada Minggu, 12 Februari ...
Detail

Tubuh dan Simbol: Sena Didi Mime di Salihara

Memasuki ruang teater black-box satu-satunya di Jakarta, penonton yang sibuk mencari bangku. Sedang di depan Sena Didi Mime sedang berlatih koreografi dengan kocak, seakan abai akan gedung teater yang perlahan terisi penuh. Dan tentunya tanpa tersadar penonton yang memutuskan untuk menunggu di dalam teater justru disuguhkan sebuah pertunjukan sebelum pertunjukan dimulai, sebuah prelude yang mengaburkan batas persiapan dengan dimulainya pertunjukan, sebuah ancang-ancang dan aktivitas di belakang dapur yang kemudian mencuat untuk dipertontonkan. Malam itu di Teater Salihara penuh dengan penonton, banyak pula yang terpaksa duduk lesehan mengisi ruang yang nyaris bersentuhan dengan pemain. Panggung pun menjadi sebuah arena di mana pelakon dan penonton hadir bersama bersinggungan rasa. Sebagai sebuah kelompok pantomim yang digagas oleh Sena Utoyo dan Didi Petet, kelompok yang telah melanglang buana di pentas internasional ini telah melangkahi usia pendirinya. Di kala kedua pendirinya telah mangkat, Sena Didi Mime terus berkarya hingga kini dan buah perjalanannya dapat disaksikan di pergelaran Sabtu kemarin. Dan kehadiran mereka sejak tahun 1987 menjadi salah satu epitaph perkembangan teater tubuh di Tanah Air yang dibingkai oleh Komunita Salihara dalam festival Helateater. Sarat dengan simbol dan kritik sosial, lakon Mati Berdiri yang diperankan 10 orang dan disutradarai Yayu A.W. Unru ini menjadi suatu corong akan kemanusiaan ...
Detail

Komunitas Salihara membuka kesempatan magang untuk bidang Marketing Sponsorship.

Kriteria: Berusia antara 20-25 tahun, Menyukai seni dan budaya, Berminat kepada bidang pemasaran, khususnya sponsorship, Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, Menguasai Microsoft Office, Bersedia masuk di akhir pecan, Mampu beradaptasi dengan lingkungan.   Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup dan pas foto (enam bulan terakhir), ke sdm@salihara.org dengan judul email Magang Sponsorship. Lamaran kami terima paling lambat 30 Maret 2017. Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan dipanggil untuk wawancara.
Detail

Komunitas Salihara mencari Social Media and Ticketing Staff

Uraian tugas: Bertanggung jawab atas pengelolaan media sosial serta pelayanan dan pengelolaan sistem penjualan tiket. Kriteria: Sarjana Strata 1, lebih disukai di bidang Digital Marketing/Information System/Marketing Communications; Terbuka untuk Fresh graduate, lebih disukai bila sudah berpengalaman mengelola sistem penjualan tiket (e-commerce) dan media sosial untuk perusahaan; Menguasai basic social media tools; Menguasai Google Analytics sebagai alat ukur kampanye digital (tracking, goal completions, etc.); Memiliki kemampuan analisis yang baik; Memiliki kemampuan menulis yang baik dalam bahasa Indonesia; Menyukai bidang kesenian atau aspek manajemen kesenian; Jujur, teliti dan bertanggung jawab; Mampu berbahasa Inggris aktif, baik lisan dan tulisan; Mampu mengoperasikan MS Office, khususnya Excel; Bersedia bekerja dengan waktu kerja tidak tertentu. Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, pas foto, foto kopi KTP ke alamat email info@salihara.org. Cantumkan Social Media and Ticketing Staff di judul email. Lamaran kami terima paling lambat 22 Februari 2017. Hanya pelamar yang memenuhi syarat yang akan kami panggil untuk wawancara.
Detail

Mengelola Sebuah "Pusat Kesenian" adalah Juga Mengembangkan Proses Belajar Bersama

Mendorong aneka percobaan dalam kesenian dan merangsang tumbuhnya bakat-bakat baru seniman dan pengelola seni selalu bertali-temali dengan mengembangkan masyarakat penonton. Kreativitas adalah milik semua pihak: seniman, pemangku kesenian, penonton. Masyarakat yang maju dan demokratis adalah mereka yang menyuburkan imajinasi dan daya cipta. Meningkatkan segi-segi edukasional adalah bagian penting kiprah kami dalam tiga-empat tahun terakhir ini. Kami telah menyelenggarakan serangkaian kelas menulis kreatif dan seni peran; kelas filsafat, misalnya, yang terbuka untuk umum. Juga wisata sastra ke Bogor dan Surakarta dan wisata seni rupa ke Yogyakarta—apresiasi yang menggirangkan. Dalam berbagai sajian seni pertunjukan dan seni rupa, kami juga berupaya supaya pemirsa bisa terlibat dengan temu seniman, diskusi dan lokakarya. Ada juga ceramah sejumlah tokoh mumpuni tentang berbagai pokok kemasyarakatan. Pembelajaran demikian akan terus kami kembangkan dengan sungguh-sungguh dalam waktu dekat ini. Aneka festival kecil kami pada tahun ini adalah Jazz Buzz, Helateater dan Helatari, masing-masing menampilkan seniman-seniman muda usia dan karya-karya baru. Kami juga menyelenggarakan Bienal Sastra Salihara, kali ini yang kesembilan pada Oktober dengan tema Amerika Latin. Ini adalah semacam refleksi tentang betapa dekat kita dengan kawasan itu, dengan berbagai tema dari benua itu yang pernah merangsang imajinasi sosial-budaya di Tanah Air, misalnya teori ketergantungan, teologi pembebasan, sastra dan seni rupa “realisme magis”. Demikianlah, ...
Detail

Parodi dalam Kecemasan dan Ketakutan para Pencari Visa

Ketakutan sebuah negara pada orang asing menyebabkan kecemasan para “peminta” visa ke negara tersebut. Diceritakan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah negara yang sedang mengalami ketakutan itu. Orang-orang yang sejak pagi mengantre di Konsulat AS adalah mereka yang cemas tidak mendapat visa untuk berkunjung ke sana. Ketakutan dan kecemasan itu dikemas dalam pentas yang jenaka, satire dan bisa dibilang puitis dan kontemplatif berjudul Visa dengan sutradara Iswadi Pratama. Kali ini, Teater Satu (Bandar Lampung) sukses berkolaborasi dengan peserta Kelas Akting Salihara dalam mementaskan cerita ini. Naskah Visa ditulis oleh Goenawan Mohamad (GM), sastrawan yang saat pementasan karyanya tersebut sedang berulang tahun yang ke-75. Pementasan berlangsung dua kali di Teater Salihara, 29-30 Juli 2016. Keluh kesah adalah inti adegan pembuka yang dimainkan oleh tiga orang peminta visa di sebuah konsulat AS di sebuah kota imajiner. Belakang panggung dibiarkan hitam dengan gambar bendera AS yang berkibar. Tak lama kemudian, berbondong-bondong orang datang berbaris rapi dan menunduk. Ya, bisa ditebak, mereka memegang ponsel masing-masing. Tawa penonton pecah saat loket seperti dibuka dan para pemain mulai antre berdesak-desakan. Mereka saling mendorong sehingga berhimpitan seperti dalam bus kota. Sampai-sampai beberapa kali mereka diminta mundur dari garis batas antrean. Sampai nyaris akhir cerita, loket memang tak kunjung buka. Itu ...
Detail

Puisi Chairil Anwar di Balik Lukisan Bio Fantasy Melissa Sunjaya

Penulis: Unoviana Kartika Setia Liputan6.com, Jakarta Para pecinta Chairil Anwar kini dapat menikmati karya-karya puisinya dalam bentuk yang berbeda. Tak hanya membaca puisi atau sajaknya, Anda juga dapat melihat lukisan Melissa Sunjaya bertajuk Bio Fantasy. Bio Fantasy memaparkan puisi lengkap Chairil Anwar didampingi dengan 75 karya visual abstrak dan karya tulis oleh Melissa. Kutipan puisi Chairil Anwar ditulis dengan kaligrafi secara tersenyembunyi di balik karya 75 karya visual abstrak tersebut dan hanya dapat dibaca melalui lensa merah. Interaksi aktif dari pembaca dengan lensa merah menjadikan para pembaca bagian dari instalasi seni bermakna ganda tentang "rasa puisi". Melissa juga menuliskan narasinya dari untuk karya-karya Chairil. Dengan tinta hitam, ia menulis di dinding pandangannya tentang karya Chairil. Misalnya untuk puisi Chairil yang berjudul "Betina"-nya Affandi, Melissa menilai Chairil bisa melihat wanita dari sudut pandang wanita. Ia sangat mengagumi itu. Karya Bio Fantasy dipamerkan di Komunitas Salihara selama 13-28 Agustus 2016. Melissa berharap karya yang dihasilkan dari riset selama dua tahun itu bisa menjadi referensi bagi masyarakat yang lebih luas. "Semoga ini bisa menjadi referensi buat banyak orang, mereka bisa ambil ini buat kerjaan mereka juga. Yang berharga itu risetnya," kata pendiri brand Tulisan ini kepada Liputan6.com, akhir pekan lalu di Jakarta.
Detail

Cinta yang Sulit bagi "Mereka"

Penulis: Pradhany Widityan Cinta adalah anugerah paling besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Anugerah yang rasanya semua Tuhan dari semua agama sepakat tanpa perdebatan bahwa untuk bisa menemui-Nya di surga nanti, rasa cinta kepada-Nya-lah yang akan mengantarkan kita. Tuhan itu Maha Mencinta. Tapi cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya tentu tidak sesulit realitas cinta kasih di dunia manusia. Karena cinta Tuhan tidak memiliki faktor-faktor yang bisa melunturkan. Sedangkan di dunia manusia banyak kerikil dan tiang-tiang beton besar yang bisa menghadang cinta.  Dalam arti sempit, cinta diartikan sebagai hubungan kasih antara dua manusia. Dengan lingkup sesempit itu saja, hambatan bercinta masih sangat banyak. Itulah yang diangkat menjadi topik pementasan Sakti Actor Studio pada 22–23 Maret 2016 lalu. Lebih menarik lagi karena bukan naskah-naskah cinta macam Romeo dan Juliet, Trisnan-Isolde, atau Ramayana yang diangkat. Dengan berani Eka D. Sitorus sebagai sutradara menyajikan kisah cinta kaum homoseksual atau gay. The Many Taboos of Being Gay judulnya. Dari judulnya, secara ekplisit pentas teater ini mengangkat cerita soal kesulitan menjadi kaum homoseksual. Tidak hanya gay, termasuk juga lesbian, biseksual dan transgender (LGBT). Namun dalam pentas berdurasi sekitar 90 menit ini, mereka diwakili kaum gay yang diperankan oleh enam lelaki dalam empat naskah pendek. Gay memang menjadi salah satu perdebatan ...
Detail

Medium Seni Kini Lebih Fleksibel

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiga orang seniman yakni Faisal Habibi, Octora, dan Budi Adi Nugroho menggelar pameran seni kontemporer yang bertemakan Kait Kelindan. Karya yang dipamerkan dalam Kait Kelindan ini membicarakan manusia dan sekitarnya. Kait Kelindan memiliki arti keterkaitan antar waktu dulu, sekarang, hingga masa depan. Keterkaitan dalam melihat sebuah perubahan dan perkembangan. "Kait kelindan itu menggambarkan kaitan antara karya yang dibuat oleh para seniman waktu dulu, sekarang, dan nanti pada masa depan. Dalam pameran ini para senimannya berusaha mengeksplorasi medium dan ide pada karyanya," ujar Asikin Hasan, kurator pameran Kait Kelindan, ditemui di Salihara, Jakarta, Sabtu (16/4/2016). Dalam pameran ini, para seniman yang terlibat yakni Faisal Habibi, Octora, dan Budi Adi Nugroho mencoba mengangkat hubungan antar manusia dengan keadaan sekitarnya. Budi Adi Nugroho menjelaskan dalam karyanya mencoba untuk lebih membicarakan tentang hubungan antara publik dengan seni. Menurutnya, karya seni seharusnya tidak sulit untuk diakses dan juga tidak begitu sulit untuk dimengerti. "Karya seni yang saya buat itu berhubungan dengan publik. Seni itu harusnya enggak sulit dimengerti. Maka, dalam karya yang saya buat ini saya menggabungkan perihal tokoh populer dan agama. Ada dua hal yang biasa muncul dalam publik di karya saya," jelas Budi Adi Nugroho.
Detail

Musik "Sans Frontières" di Panggung Jazz

Musik adalah karya seni paling universal. Ia bisa menjangkau semua kalangan masyarakat. Dari yang menonton pertunjukan di tengah lapangan becek hingga yang menonton di gedung opera. Ia bisa dinikmati sambil berjoget bersama atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, bisa juga dinikmati dengan khidmat sambil memejamkan mata. Segmen musik sangat luas. Dari sekadar hiburan semata, proses ekperimen musisinya hingga media untuk menyampaikan berbagai pesan. Pesan perdamaian bisa melewati musik; kritik bisa melewati musik; doa pun bisa disisipkan dalam musik. Aliran musik dengan segmen yang berbeda pun muncul di mana-mana. Hampir semua daerah di dunia ini memiliki warna musiknya sendiri. Musik etnik, begitu namanya. Lain lagi dengan musik pop yang easy listening dan realtif lebih banyak penggemarnya. Musik rock yang cadas namun paling vokal menyuarakan pemberontakan pada keanehan dunia juga tak kalah menarik. Bagi anda yang merasa melankolis atau feeling blue, musik blues bisa menjawab perasaan anda. Kaum eksekutif yang berpakaian rapi, minimal kemeja, akan lebih menikmati musik jazz dan duduk di gedung-gedung pertunjukan. Ada pula musik yang konon bisa meningkatkan kecerdasan bayi. Komposisi yang mengalun teratur dalam musik klasik bagus diperdengarkan bagi ibu-ibu hamil. Dengan musik sebagai karya seni yang sangat luas, bahkan bisa dibilang paling banyak peminatnya, tidak mungkin Komunitas Salihara tidak memasukkan ...
Detail

Pemandangan, Anomali

GIRANG, riuh rendah, renyah, main-main—inilah sifat-sifat yang kita dapat ketika memandang karya-karya Eko Nugroho. Tapi pada pandangan kedua, ketiga dan seterusnya, kita akan segera menyadari bahwa karya-karya itu mengajak kita bersoal jawab dengan masalah tertentu, dan sering pula masalah itu serius. Pada pameran ini kita melihat tabung-tabung gas biru (yang “bermata”) yang tersusun mengerucut; dan selubung dengan motif berulang dari simbol pedang dan warna hijau bendera Arab Saudi. Pada titik ini, karya-karya itu berubah menjadi politis. Namun, suara politis itu tidak pernah terdengar terlalu keras—tidak menghardik, tidak menghasut, tidak menusuk. Bersama Eko Nugroho, kita mengalami protes dalam humor; ya, mengalami dengan seluruh tubuh, bukan hanya mendengar dengan telinga. Eko Nugroho adalah eksponen gelombang ketiga dari khazanah “seni rupa pop” Yogyakarta (untuk mengadaptasi sekaligus memiuhkan makna pop art yang pernah berlaku dalam khazanah seni rupa global). “Seni rupa pop” ini merangkul “seni rupa bawah”: budaya massa (komik, kartun dan seterusnya), kesenian jalanan dan kesenian rakyat. Eko bukan hanya mengambil dan mengadopsi; ia, misalnya, bekerja dengan para pembordir untuk menghasilkan aneka lukisan bordir. Boleh dikatakan juga bahwa “seni rupa pop” ini adalah jawaban terhadap “seni murni” maupun “seni terlibat” yang merupakan dua arus utama seni rupa modern Indonesia sampai dengan akhir 1980-an. Para ...
Detail

Yang Dinamis dan Eksperimental dari Tesla Manaf

Jazz, menurut  Andrew Gilbert, adalah jenis musik yang unik karena mampu menyerap pengaruh musik apa saja dan menjadikan pengaruh tersebut sebagai bagian dari dirinya. Menurut Idang Rasjidi, lagu apa saja, baik itu rock, dangdut maupun musik tradisional Nusantara dapat digubah menjadi jazz. Dengan kata lain, jazz adalah jenis musik yang sangat terbuka terhadap kreasi sebebas apa pun. Sifat yang sangat terbuka tersebut menjadikan banyak karya musik jazz, dalam perkembangannya kini, berpotongan dan berbatasan dengan genre-genre musik lain dari seluruh dunia. Hal inilah yang akhirnya diangkat sebagai tema dari Jazz Buzz Salihara 2016: Jazz Sans Frontières yang diselenggarakan di Teater Salihara, 20-21 dan 27-28 Februari 2016. Setelah dibuka dengan lecture concert jazz oleh Tjut Nyak Deviana Daudsjah pada 17 Februari, perhelatan tahunan ini menampilkan empat kelompok musisi yang tidak hanya mengusung genre jazz namun juga beragam rupa aliran musik hasil persilangan seperti rock progresif dan neo-klasik: Trodon, Tesla Manaf, I Know You Well Miss Clara, Manticore Project. Salah satu penampil yang paling ditunggu adalah gitaris muda kelahiran Bandung yang telah merilis album mancanegara perdananya di Amerika Serikat, Tesla Manaf. Tesla yang tampil pada Minggu malam (21/02) tidak sendirian mengisi panggung. Bersamanya tampil pula tiga musisi muda lainnya: Desal Sembada (drum), Rudy Zulkarnaen (bas ...
Detail

Sejarah Indonesia Menjamah Keberagaman

Jakarta, CNN Indonesia -- Sejarah bukan semata kisah kepahlawanan atau aksi heroik. Sekalipun pengorbanan dan jasa pahlawan memang layak dituturkan kepada generasi penerus agar dipahami dan diteladani. Lebih dari itu, sejarah harus mencakup keberagaman, baik dari segi wilayah maupun tema. Tujuannya, tentu saja agar generasi muda “menelan” sejarah secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Ironisnya, buku-buku sejarah keluaran masa lalu kadung memuat kisah heroik di beberapa wilayah saja. Padahal suatu peristiwa bersejarah juga terjadi di bagian wilayah Indonesia lain. Demikian pemaparan yang disampaikan sejarawan Taufik Abdullah dalam Ceramah Historiografi Indonesia dalam Perspektif Sejarah yang dihelat di Komunitas Salihara, Jakarta, pada Selasa (26/1). “Kalau dibikin ranking, berbagai sejarah tentang konflik yang ada di Indonesia ini paling banyak di Jawa, Bali, Aceh, dan Minangkabau. Sedangkan wilayah lain tertinggal,” jelas Taufik. Untung saja, menurut Taufik, pada abad ke-21, keragaman sudah terjadi di ilmu sejarah. Kini, wilayah lain di Indonesia, khususnya bagian timur, sudah terjamah studi sejarah. Belakangan ini, sudah ada disertasi tentang masa penjajahan dan revolusi di NTB dan NTT. Boleh dibilang Bima adalah wilayah bagian timur yang paling banyak menghasilkan karya sejarah. Sejarah yang memuat keberagaman wilayah penting dituturkan agar kita mengenal berbagai daerah di Indonesia. Apalagi, menurut Taufik, daerah-daerah itu merupakan warisan nenek moyang. “Nenek moyang mewariskan daerah-daerah, sedangkan nama Indonesia, ...
Detail

Program Magang 2006

Anda berminat terjun ke dunia industri kreatif atau pengelolaan seni?   Komunitas Salihara membuka Program Magang 2016 I dengan Ayu Utami (penulis & kurator). Periode kerja: Maret-Agustus 2016 Bidang kerja: Asisten Kurator, Asisten Manajer Program   Kriteria: Berusia antara 19-26 tahun, Masih atau pernah kuliah, Berminat pada seni, sastra dan aktivisme sosial, Membaca sastra Indonesia atau dunia, Bersedia mengikuti seluruh progam.   Apa yang didapat dan dituntut dalam Program Magang I ini? Pemagang belajar mengelola program budaya dari awal hingga akhir satu tahap (dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi). Termasuk dalam kerja Asisten Kurator adalah merancang dan mematangkan isi program. Sedangkan Asisten Manajer Program mengelola pendanaan, relasi dan kerja sama. Dengan demikian, pemagang belajar aspek intelektual maupun keterampilan manajemen. Pemagang bisa mengatur waktu kerja fleksibel. Tidak harus hadir setiap hari. Pemagang wajib mengikuti penataran awal mengenai pekerjaannya pada Sabtu-Minggu, 21-22 Februari 2016. Pemagang akan mendapatkan evaluasi berdasarkan kriteria yang diberitahukan sebelumnya, serta sertifikat dan surat rekomendasi berdasarkan prestasinya setelah menyelesaikan program. Komunitas Salihara memberikan biaya tugas.   Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, pas foto (enam bulan terakhir), foto kopi kartu mahasiswa atau ijazah, contoh tulisan/artikel (ulasan buku, opini, berita), alamat blog atau website (jika ada), akun media sosial (Twitter, Facebook, Instagram) ke program@salihara.org atau melalui pos ke Komunitas Salihara Jl. Salihara 16, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520   Sebutkan preferensi bidang kerja Asisten ...
Detail

Urban Chat: Fashion And Art, Here Dancing at Last

A while back an esteemed London-based fashion and art writer expressed his shock upon learning from a small group of Indonesian journalists that fashion major wasn’t de rigueur in our art schools.  How you could separate the two when fashion was derived from art, he exclaimed. Some of the art schools have a textile major, I offered a consolation. Nice but not quite fashion now is it, he huffed. The man had a point. Fashion and art worlds in Indonesia are often worlds apart. I’ve met too many artists who’d turn their nose down at fashion for being hedonistic, or a snooty art curator who’d look down upon fashion weeks for that matter. On the other side, the fashion community often found artists generally to be too brooding and uncooperative. Quite a shame, as elsewhere bridges between the two worlds had long been built and maintained. If you were to revisit 18th century French aristocrats, it was clear that the dynamics of art not only inspired, but influenced high fashion a great deal. Conversely, artists were known to have been one of the first adopters, if not initiators, of the latest wardrobe style, in the age when ...
Detail

Wallace

Ilmu dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub. Dalam salah satu catatannya, Alfred Russel Wallace -- orang Inggris yang bersama Charles Darwin menemukan "teori evolusi" -- menyatakan betapa ia, bak seorang anak, terkesima melihat kumbang. Kumbang adalah "keajaiban di tiap ladang". Siapa yang tak mengenalnya "melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar". Kesenangan dan keasyikan itulah yang membuat Wallace bertahun-tahun mengamati mahluk hidup dari pelbagai jenis dan habitat. Meskipun ia bukan ilmuwan dalam arti yang lazim. Karena orang tuanya jatuh miskin,  pada umur 14 ia harus putus sekolah. Kemudian ia pindah ke wilayah Wales membantu kakaknya yang punya usaha survei pertanahan. Di pedalaman itu-lah ia terpikat kehidupan tumbuh-tumbuhan. Ia mulai menelaah pelbagai tanaman dengan penuh antusiasme.  "Siapa yang pernah melakukan sesuatu yang baik dan besar kalau bukan seorang yang antusias?," ia pernah berkata.  Pada usia 25 ia berangkat ke rimba Brazil, di sekitar Sungai Amazon dan Rio Negro -- menjelajah lebih jauh. "Di sini, tak seorang pun, selama ia  punya perasaan kepada yang tak tepermanai dan yang sublim, akan kecewa", tulisnya dari belantara tropis itu. Ia seakan tak bisa berhenti menyebut pepohonan besar yang rimbun, akar dan serat yang tergantung-gantung, burung langka dan reptil yang cantik. Keajaiban, kata orang, tak ada lagi di dunia modern. Tapi pesona?  Bagi ...
Detail

Musik Rasa Bali hingga Melayu di Salihara

Komunitas Salihara menggelar Forum World Music Salihara 2015 yang menghadirkan serangkaian karya musik baru dari yang berangkat dari khazanah tradisi Nusantara dan dunia. I Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Sinta Wullur, Suarasama, Malacca Ensemble dan Trisutji Kamal menjadi penampil dalam forum yang berlangsung sepanjang Rabu-Minggu (05-09/08) lalu. Khusus Trisutji Kamal, karya-karyanya dimainkan oleh sekelompok pemusik. Tony Prabowo, kurator Komunitas Salihara, menyebut Forum World Music yang baru pertama kali digelar di Komunitas Salihara ini diharapkan mampu menjadi ruang untuk kemunculan inovasi baru di dunia musik Indonesia. “Program ini juga dibuat untuk mendorong apresiasi masyarakat dan membuktikan masih banyaknya materi dan nilai yang bisa digali dari seni musik serta memberikan perspektif baru pada para pelaku dan penonton musik,” katanya. I Wayan Balawan bersama Batuan Ethnic Fusion menjadi pembuka forum ini pada Rabu (05/08) malam dua pekan lalu. Pada malam berikutnya, Iswargia R. Sudarno, Hazim Suhadi, Rachman Noor, I Ketut Budiasa dan Jro Mangku T. Jimbarwana memainkan sepilihan komposisi karya Trisutji Kamal dalam konser bertajuk Tribute to Trisutji Kamal. Sinta Wullur menjadi penampil berikutnya pada Jumat malam disusul Swarasama pada Sabtu (09/08) malam dan Malacca Ensemble pada Minggu (09/08) malam. Sesuai judulnya, Forum World Music menjadi arena pertemuan aneka jenis musik berbeda, dari tradisional hingga ...
Detail

Sebuah Helat, Alih Wahana, Empat Catatan

Helateater Salihara 2015 telah selesai pada pekan ketiga April lalu. Festival kecil tahunan tersebut kali ini mengambil tema Persembahan kepada Arifin C. Noer. Ada lima kelompok teater yang membawakan naskah-naskah Arifin dalam beragam bentuk. Mereka adalah Cing Cing Mong (Solo) dengan lakon Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun I, Bengkel Mime Theatre (Yogyakarta) mengusung Kocak Kacik, Teater Gardanalla (Yogyakarta) mementaskan Sumur Tanpa Dasar, Prodi Teater IKJ (Jakarta) mengusung Mega-Mega, dan Kalanari Theatre Movement (Yogyakarta) membawakan Kapai-kapai (atawa Gayuh). Sejak masih dalam rencana, Helateater Salihara 2015 dirancang sebagai sebuah festival yang menghadirkan kembali naskah-naskah Arifin C. Noer dalam aneka bentuk pemanggungan. Karena itu, adaptasi atau alih wahana menjadi tak terhindarkan. Gardanalla mencoba menghadirkan naskah Sumur Tanpa Dasar dengan pendekatan akting alami untuk naskah surrealis, Prodi Teater IKJ melepas tanda-tanda latar geografis Mega-Mega. Ada pula panggung pantomim dari Bengkel Mime Theatre, teater boneka tradisional berupa wayang golek dan wayang kulit oleh Cing Cing Mong, hingga pertunjukan kelindan drama modern dengan “seni lapangan” yang lazim ada di panggung-panggung ketoprak tobong, wayang orang keliling, jathilan, jaran kepang dan pertunjukan tradisional lainnya dari Kalanari Theatre Movement. Tidak ada satu pun kelompok dalam festival kali ini yang naik panggung dalam ketakziman dan kesetiaan seratus persen kepada naskah Arifin. Berhadapan ...
Detail

Persembahan kepada Lengger Terakhir

Otniel Tasman bersama Oneil Dance Community memungkasi Helatari Salihara 2015 dengan karya berjudul Lengger Laut. Lengger Laut berkisah tentang penari Lengger Lanang (laki-laki) Dariah, yang pada 2012 diangkat sebagai maestro tari oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dariah adalah penari Lengger Lanang terakhir dan tertua berumur 85 tahun yang masih hidup di Desa Plana, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Otniel menghadirkan tari tradisional yang hampir punah itu dengan rasa baru. Bukan lagi Lengger yang melulu menampilkan liukan tubuh penari dengan tebaran senyum di sepanjang gerak, tapi juga tubuh bertenaga dalam kelincahan menjelajahi ruang panggung. Di akhir pertunjukan, Otniel sengaja mengajak penonton untuk naik ke panggung dan menari bersama. “Seperti Lengger aslinya, tarian ini tidak memiliki batas kaku antara penari dengan penontonnya,” kata Otniel. Lengger adalah akronim dari kata leng dan jengger, yang berarti “perempuan yang ternyata laki-laki”. Lengger merupakan salah satu kesenian yang berkaitan dengan upacara syukuran keberhasilan panen di daerah Banyumas. Bagi masyarakat Banyumas ia menjadi lambang kesuburan. Tari Lengger yang awalnya lebih sering ditarikan perempuan kini dibawakan oleh enam orang penari laki laki. Karya ini menjadi semacam persembahan bagi kesenian dan pelakunya yang makin langka dan makin ditinggalkan penonton. “Kesenian Lengger semakin ditinggalkan, kalah oleh dangdut dan panggung-panggung hiburan populer lainnya,” kata Otniel.  Otniel Tasman ...
Detail

Energi Berlebih Manusia Senja

Usia senja manusia identik dengan tubuh yang melemah. Namun demikian, tubuh renta tak membuat kenangan, kehendak, kegelisahan, keinginan dan perasaan-perasaan lain ikut pupus. Sering mereka yang berada di usia senja justru memiliki energi besar karena hal-hal di dalam diri mereka. Koreografi berjudul Menuai Senja karya Benny Krinawardi bersama Sigma Dance Theatre menunjukkan hal-hal di sekitar manusia pada masa tua semacam itu. Menuai Senja naik panggung pada Sabtu, 06 Juni lalu. Karya ini terdiri atas empat bagian yang dirangkai dalam satu pertunjukan utuh. Pada bagian pertama, muncul kosa gerak yang terinspirasi dari manusia di awal masa tuanya. Tentang kehendak dan keinginan yang tak sesuai keadaan dan memantik kegelisahan. Bagian ini disusul dengan koreografi tentang keterbatasan diri akibat melemahnya tubuh hingga rasa takut yang menghinggapi para orang tua. Tentang kerinduan tak sampai kepada yang dicintai namun hanya berhenti pada angan-angan akibat pemantik rindu telah tiada menjadi bagian berikutnya. Menuai Senja diakhiri dengan kesepian dan ketidakberdayaan manusia atas keadaan yang menggiring pada kepasrahan hidup. Karya ini sejatinya adalah materi yang diajukan Benny saat mengikuti ujian kelulusan di IKJ. “Awalnya dari karya ujian. Tapi dikembangkan di banyak bagian hingga menjadi benar-benar berbeda dari awalnya,” kata Benny. Mengangkat tema tentang usia lanjut bukan berarti Menuai Senja berisi kosa ...
Detail

Tiga Bentuk Permata Jawa

Atilah Soeryadjaya menghadirkan Permata Jawa di Helatari Salihara 2015, Rabu-Kamis, 03-04 Juni lalu. Permata Jawa adalah karya yang terdiri atas pembacaan macapat, konser gamelan dan musik cangkeman, serta tari Samparan Matah Ati. Macapat yang dibacakan dalam pentas ini bersumber dari Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV (1811-1881), sedangkan konser gamelan dan musik cangkeman hadir sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas berisi kelindan bebunyian unsur gamelan berbagai wilayah Indonesia. Reportoar ketiga adalah tari bedaya berjudul Samparan Matah Ati yang mengolaborasikan kosagerak koreografi tradisi dengan anasir panggung teater modern. Atilah menyebut Samparan Matah Ati berbeda dari Opera Matah Ati walau bertumpu pada sosok yang sama, Rubiyah, istri Mangkunegara I sekaligus komandan perang pasukan perempuan bangsawan berjuluk Pangeran Samber Nyawa itu. “Samparan Matah Ati lebih banyak mengisahkan Rubiyah sebelum menjadi istri Mangkunegara I,” katanya. Helatari Salihara 2015 menjadi panggung pementasan perdana karya ini. Menurut Atilah, pembacaan macapat, karawitan dan seni tari adalah permata dalam kebudayaan Jawa. “Ketiganya adalah permata yang justru kerap kurang jadi perhatian,” kata Atilah. Pada Permata Jawa, Atilah tidak sendirian. Ada Blacius Subono sebagai penata musik konser gamelan, juga Daryono Darmo Rejono yang menjadi koreografer Samparan Matah Ati. Atilah menjahit tiga bagian pertunjukan itu menjadi satu rangkaian karya. Memasukkan unsur baru pada karya tradisi sejatinya ...
Detail

Tradisi Atau Zona Nyaman?

Tarik-ulur atau perjumpaan atau dialog antara tradisi dan modernitas hingga kontemporer dalam dunia tari adalah cerita lama. Menarik  bahwa hal itu masih perlu ditampilkan secara khusus. Helatari Salihara 2015, festival tari yang pertama kali digelar di Komunitas Salihara, 30 Mei-07 Juni lalu, bahkan mengusung tema “Tari Baru dari Khazanah Tradisi Nusantara”. Menilik kecenderungan bentuk-bentuk pertunjukan yang sering dipentaskan di Komunitas Salihara, pemilihan tema ini sebenarnya agak mengejutkan. Sejauh yang saya amati, Komunitas Salihara lebih cenderung “menyukai” bentuk seni kontemporer. Tony Prabowo, kurator Helatari, mengoreksi kesan ini. Ia mengakui segmen tradisi porsinya memang tak terlalu besar atau jarang dihadirkan di Komunitas Salihara, tapi bukannya tidak pernah sama sekali. Bagi Tony, dialog atau perjumpaan atau tarik-ulur antara tradisi dan kebaruan akan selalu relevan dan punya daya tarik. Yang modern, bahkan kontemporer, dalam seni tari di Indonesia—dan ini juga terjadi di negara-negara Asia lainnya—masih sering memperlihatkan keterkaitan yang kuat dengan apa yang lazim disebut “kanon” karya tradisional. Sardono W. Kusumo, misalnya,  pernah mengatakan “saat membuat hal baru (sekali pun) saya selalu merawat yang lama dan tua di belakang pikiran saya.” Tradisi agaknya memang begitu liat hingga tidak mudah dilepaskan dalam perjalanan tari di Indonesia. Tema “Tari Baru dari Khazanah Tradisi Nusantara” sendiri menyiratkan keyakinan itu. Meskipun ...
Detail

Buai Tak Selalu Menimang

Helatari Salihara 2015 dibuka oleh Indra Zubir’s Dance dengan karya berjudul Buai (Udara). Indra Zubir yang menjadi koreografer karya ini memadukan bentuk tari Buai-Buai khas Minangkabau dengan kosagerak tarian modern, di antaranya tarian pop Suffle. Indra merajut paduan antara gerak berbasis tari tradisi dengan modern itu dalam karya yang berarti “ayunan seorang ibu kepada anaknya”. “Tari Buai-Buai saat ini bisa disebut sudah hampir punah. Semakin sedikit yang menarikannya di Padang,” kata Indra. Menurutnya, popularitas Buai-Buai sebagai tarian tradisional kalah bila dibanding dengan tari Piring dan lainnya. Di Padang, Buai-Buai lazim ditarikan pada masa panen. Berbeda dari kebanyakan tari Minangkabau yang pekat dengan gerak silat, Buai-Buai justru tidak. Menurut Indra, Buai-Buai didominasi gerakan mengayun dan cenderung monoton karena motif gerak yang tak banyak bentuknya. Motif gerak Buai-Buai berupa ayunan tangan dan gerak rentak kaki sebenarnya juga lazim muncul dalam tarian lain khas Minangkabau. Di tangan Indra, Buai-Buai yang berkelindan dengan Shuffle dijahit dalam narasi buai kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dibuka dengan gerak menimang anak, karya ini kemudian berlanjut dengan kosagerak yang tak selalu menunjukkan timang tangan. Motif gerak yang tak berhenti pada timangan ibu kepada anak seturut dengan narasi yang diperdengarkan di panggung. Narasi itu menceritakan laki-laki yang lahir di ranah ...
Detail

Jungkir Balik Sosok Konyol Pahlawan Kesiangan

Sebagai narator, Landung menyebut cerita Miguel de Cervantes tentang Don Quixote sudah diakrabinya sejak masih duduk sebagai pelajar tingkat sekolah dasar. Kisah Don Quixote sebagai seorang petualang, pahlawan kesiangan, lazim jadi bahan tertawaan, sekaligus simbol kekonyolan begitu kental pada naskah Miguel de Cervantes. Hal itu tak muncul dalam Don Quixote karangan Goenawan Mohamad. Sebaliknya, justru banyak refleksi tentang beragam hal di sekitar kehidupan dalam kumpulan sajak itu. “Ini adalah Don Quixote yang diserap GM. Don Quixote dia gunakan untuk merefleksikan banyak hal di sana-sini dan sangat personal,” kata Landung Simatupang, di sela-sela acara Pertunjukan Puisi Don Quixote di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu. Menurut dia, Don Quixote versi GM justru sarat renungan yang berbeda. Ada rasa liris, sedih dan percaya bahwa di balik sosok serta tingkah kekonyolan Don Quixote ada ketulusan. Landung menangkap sentilan refektif bagi siapa saja untuk melihat diri sendiri sebagai seorang Don Quixote. Bagi Landung, Don Quixote adalah adalah romantisasi yang dibutuhkan kehidupan manusia. Tanpa romantisasi hidup menjadi datar dan biasa-biasa saja. Tidak ada jurus tertentu yang digunakan Landung untuk menghadapi naskah kumpulan sajak Don Quixote karya GM. “Saya tidak pernah punya kategorisasi naskah apa dan dihadapi dengan cara apa. Bagaimana teks itu berbicara kepada saya saja. Sejauh yang saya ...
Detail

Pertunjukan Puisi Don Quixote

Pembacaan puisi di atas panggung sejatinya dapat menjadi sebuah arena pementasan khas seni pertunjukan bila memanfaatkan unsur-unsur pemanggungan dengan maksimal. Pembacaan semacam itu dapat menghadirkan pembacaan puisi bukan hanya sekadar pelisanan teks semata. Landung Simatupang dan Niniek L. Karim menunjukkan hal itu di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu, saat membacakan puisi-puisi Goenawan Mohamad dari buku puisi Don Quixote (Tempo & Grafiti Pers, 2011). Naskah puisi yang dibacakan oleh Landung dan Niniek tidak hadir sendirian. Pembacaan larik-larik puisi ciptaan Goenawan Mohamad itu berdampingan dengan suara dari piano dan organ Hammond yang dimainkan Sri Hanuraga dan Adra Karim. Lalu, di layar yang menjadi latar belakang panggung menjadi bidang dari grafis dan visualisasi lukis pasir dari Niar Lazzar dan Fajrian Fedder. Kelindan antara narasi, musik dan wujud visual di layar kemudian tampil sebagai satu kesatuan pementasan yang utuh. “Yang diutamakan adalah pembacaan teks puisinya,” kata Adra Karim yang selainkan memainkan Hammond juga menyutradarai pertunjukan puisi ini. Menurut dia, pembacaan tersebut tidak harus muncul dalam bentuk pelisanan teks yang terucap dari para narator. Rangkaian nada dari piano, Hammond dan tampilan multimedia tersebut menjadi bentuk pembacaan itu sendiri. Musik dan tampilan visual yang hadir kemudian tidak melulu menjadi pengiring narasi. Namun demikian, Adra mengakui elemen-elemen di luar narasi ...
Detail