Bung Karno & Islam

Bung Karno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Qur’an sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi, ibunya seorang perempuan Hindu Bali. ”Ibu adalah meskipun beragama Islam asal daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, theosofi. Jadi kedua kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

Selengkapnya

Selaku Pembuka

Bagi anda dan bagi kami, sebuah festival semestinya lebih daripada sekadar bunga rampai. Festival Salihara, kini yang ketiga, adalah puncak pilihan para kurator kami. Kami sebut puncak, untuk dua alasan. Yang pertama, kurator kami telah menampilkan yang terbaik sesuai bidang dan konteks masing-masing, lebih daripada ketika mereka mengancang program rutin-bulanan. Yang kedua, dalam kombinasinya satu sama lain, aneka mata acara itu menampilkan sesuatu yang menegaskan visi kami untuk memelihara keragaman dan kebaruan.

Selengkapnya

Narasi Islam pada Tubuh Goethe

Alangkah pandir menganggap diri istimewa
Mengira keyakinan sendiri benar belaka.
Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri,
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati.

Selengkapnya

Empat Merapal Sajak

Pentas puisi malam ini teramat istimewa, pengarangnya sendiri yang membacakan karya-karyanya. Tak heran jika ruang teater penuh sesak dipadati oleh pendengar dan penikmat sastra.

Selengkapnya

Kebaruan dalam 9 dari Nadira

Konsep cerpen—novel akhirnya gagal mempertahankan dirinya. 9 dari Nadira  karya Leila S. Chudori boleh mengajari para penghamba teori untuk tidak lagi bersikukuh pada konsep.

Selengkapnya

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.