Merawat Kebebasan Melalui Seni Budaya

M. Guntur Romli

M. Guntur Romli
Merawat Kebebasan Melalui Seni Budaya
Edisi 741 | 07 Jun 2010 |
Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini seorang intelektual muda yang berbeda dengan masyarakat di kota pada umumnya. Pikirannya kadang-kadang melampaui orang intelektual perkotaan. M. Guntur Romli, lulusan pesantren di Madura, Jawa Timur, dan pernah bersekolah di Kairo, Mesir. Sekarang dia menjadi penjaga gawang di komunitas Salihara. Satu Kantung kebudayaan dan kesenian yang sangat penting saat ini. Kita akan berbicara tentang Komunitas Salihara dan aktifitasnya.

M. Guntur Romli mengatakan saat ini masih besar ancaman terhadap kebebasan yang sudah bisa kita perjuangkan. Misalnya, pada akhir tahun lalu ada fenomena kembalinya tirani negara, yaitu dengan bukti pelarangan film Balibo 5 oleh Lembaga Sensor Film (LSF) dan juga Menteri Kebudayaan. Kedua, pelarangan beredarnya lima buku yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung.

Menurut Guntur Romli, komunitas di Salihara menilai merawat kebebasan tidak bisa sendirian. Tidak hanya orang yang terlibat dalam komunitas, tapi juga bagaimana kita mengajak masyarakat, warga negara untuk terlibat. Selama ini yang mempertemukan mereka yang berkumpul di Salihara adalah peduli terhadap kebebasan. Jadi bukan hanya untuk ekspresi kesenian, bisnis, tapi ada misi. Mungkin itu yang membuat unik Salihara.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan M. Guntur Romli.

Pada masa reformasi dahulu ada sebuah kantung kebudayaan bernama "Komunitas Utan Kayu" yang terkenal, dan saya kira menjadi salah satu tempat aktifis berkumpul, mendiskusikan, mencari jalan keluar bagi problem bangsa. Ada yang berhasil dan ada juga yang tidak. Apakah ada hubungannya antara Komunitas Salihara dengan Komunitas Utan Kayu?

Sebenarnya Komunitas Salihara adalah perluasan dari Komunitas Utan Kayu. Jiwa dan spirit Komunitas Utan Kayu bertahan di Komunitas Salihara. Bagi yang pernah datang ke Komunitas Utan Kayu, di sana teater dan galerinya serta parkir sempit. Pendiri dari Komunitas Utan Kayu berinisiatif mengembangkannya, baik secara ruang maupun fasilitas. Lalu dipilihlah daerah di jalan Salihara di Jakarta Selatan dan dibelilah sebuah tanah, lalu dibangun sebuah teater, galeri dan perkantoran yang luasnya sekitar 3.000 meter persegi (m2). Tidak ada perbedaan jiwa, spirit dan misi antara Salihara dan Utan Kayu, itu sama saja. Hanya saja fasilitas yang diperluas.

Seperti perusahaan bila sudah berkembang maka harus membuat cabang. Namun ini karena berkaitan dengan kebudayaan maka ruangnya berbeda. Selama ini kita melihat di Utan Kayu ada kegiatan kesenian, tapi kegiatan politik lebih banyak. Apakah kalau di Salihara sama karena Kalau saya lihat di agenda acaranya sekarang banyak sekali dan bervariasi, sehingga untuk masyarakat umum terkadang susah dijangkau diskusinya?

Yang pindah dari Utan Kayu ke Salihara itu hanya sayap keseniannya. Sementara kegiatan lainnya seperti Radio, ISAI, dan Jaringan Islam Liberal (JIL) itu tetap. Kalau dibandingkan dari sisi kegiatan, Salihara lebih condong ke arah kesenian dan kebudayaan. Sementara aktifitas informasi dan politik ada di Komunitas Utan Kayu karena bagian atau lembaga yang mengurusnya tetap tinggal di Utan Kayu. Tetapi, kami di Salihara tidak mau ketinggalan untuk merespon isu-isu politik. Misalnya, pada 2009 kita menampilkan sidang susila. Waktu itu kita melakukan kritik terhadap rancangan undang-undang (RUU) Pornografi melalui pertunjukkan Teater Gandrik. Kemudian yang lain adalah perhatian kita terhadap politik, kesetaraan jender dan seksualitas. Di Salihara ada pertunjukkan festival film untuk perempuan, dan ada juga festival film Queer untuk homoseksual. Dalam ranah diskusipun kita mengembangkan tema-tema. Sebetulnya tidak sulit untuk dipahami karena rata-rata yang datang pun mahasiswa. Lokasi Salihara dekat dengan Universitas Nasional (Unas), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) sehingga rata-rata yang mengunjunginya adalah mahasiswa.

Ini perbedaaan Salihara sebagai kantung kesenian plus dengan kantung kesenian yang lain. Apakah kira-kira bentuk kesenian yang lebih banyak menjadi perhatian?

Kalau di Salihara bentuk program lebih banyak ke seni pertunjukkan. Ada teater, tari, musik dan juga program diskusi, sastra dan pameran. Yang membedakan adalah di Salihara ada sistem kurasi, ada dewan kuratornya dan setiap program ada masing-masing kurator yang bertanggung jawab untuk menyeleksi, menawarkan ke rapat untuk mendapatkan persetujuan. Misalnya untuk tari dan musik ada kurator bernama Tonny Prabowo, seorang komponis. Dialah yang memilih grup-grup. Jadi grup yang dipilih masuk kriteria kurator tersebut. Di Salihara tidak condong kepada kesenian yang populer, seperti Krisdayanti tidak dipilih di Salihara.

Di tengah hirup pikuk Jakarta, apa yang mau diisi oleh teman-teman Salihara dengan misi kesenian yang memberi ruang kebebasan, menjaga pluralisme, dan lainnya?

Untuk bentuk kesenian, Salihara memberikan semacam ruang alternatif di tengah kesenian yang sangat populer. Dalam persoalan pemikiran isu dan gosip politik yang makin meluas, Salihara mencoba menawarkan yang kita anggap lebih serius. Salah satu contoh, pertunjukkan Dewa Budjana, gitaris dari grup Gigi. Kalau tampil di Salihara, dia tidak membawakan lagu Gigi tapi karya yang "lebih serius". Contoh lain adalah pertunjukkan Tohpati, yang bikin lagu untuk Krisdayanti. Ketika diminta tampil di Salihara, ia memberikan musik-musik yang lebih serius.

Apakah kesannya harus "lebih serius"?

Ya seperti itu, tidak terlalu nge-pop, tidak seperti dangdut. Salihara memiliki penonton yang kami identifikasi memang arah minat kesenian mereka ke arah itu, bukan ke arah populer. Itu sama juga untuk bentuk diskusi, kebetulan saya yang bertanggung jawab. Kami merangkai beberapa tema diskusi, mungkin lebih tampak melakukan kritik. Kita bicara opini publik yang bulan ini akan kami diskusikan. Opini publik melalui survei. Bagaimana terbentuknya survei-survei itu. Kemudian kita minta pembicara yang secara khusus sering menulis. Kami tidak akan mengundang orang yang sering tampil di TV. Orang yang lebih serius lah.

Jadi ini betul-betul alternatif diantara yang pop dan tidak pop. Diantara kegiatan yang diselenggarakan di Salihara, yang terpikir oleh saya selain ruang kesenian adalah gagasan yang bermacam-macam seperti "payung besar" yang diusung teman-teman. Latar belakang dari aktifis di Salihara sangat menarik, ada komposer, penyair, aktifis, tokoh muda dan kemudian berkumpul. Itu tidak mudah mengumpulkan macam-macam entitas ini. Apa yang menjadi gagasan besarnya dari orang yang bermacam-macam ini?

Kami mencoba melakukan identifikasi terhadap yang menyatukan kami yaitu merawat kebebasan, seperti misi Salihara. Bagi kami, merawat kebebasan tidak bisa sendirian. Tidak hanya orang yang terlibat dalam komunitas, tapi juga bagaimana kita mengajak masyarakat, warga negara untuk terlibat. Selama ini yang mempertemukan mereka yang berkumpul di Salihara dan Utan Kayu adalah peduli terhadap kebebasan. Salihara tidak bisa dipisahkan dari sejarah Utan Kayu yang lahir dari bentuk depresi-represi Orde Baru. Setelah Tempo ditutup, banyak wartawan dan seniman yang ingin membuka ruang kebebasan dan itu sampai ke Salihara. Bukan hanya untuk ekspresi kesenian, bisnis, tapi ada misi. Mungkin itu yang membuat unik Salihara.

Jadi tertutup pintu bagi orang yang menolak kebebasan, betulkah?

Untuk orang-orang yang menolak kebebasan, kita akan membuka di ruang yang berbeda. Sebenarnya itu menarik dari pengalaman di Utan Kayu. Setelah Soeharto jatuh, kami melakukan identifikasi bahwa yang anti kebebasan ada dalam masyarakat sipil, katakanlah milisi-milisi yang menggunakan baju agama itu. Kami undang mereka untuk melakukan diskusi. Intinya kami tidak pernah menutup ruang untuk mereka jika mereka mau datang untuk berdialog. Jadi itu yang membuat teman-teman kelihatan "ngotot" karena gagasan besarnya adalah jangan sampai kebebasan ini diambil lagi. Kalau dulu misalnya teman-teman tidak hanya di ruang kesenian tapi juga politik, menolak RUU Penistaan Agama, kemudian melawan mereka yang di garis keras, dan segala macam.

Saya beri contoh, salah satu bentuk yang dianggap sebagai pemberontakan, kritik dari publik. Misalnya, pada tahun lalu ada film Balibo 5 yang dilarang oleh Lembaga Sensor Film (LSF)] kemudian oleh Menteri Kebudayaan. Awalnya adalah komunitas Utan Kayu bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) memutar film yang sebenarnya dilarang untuk publik. Setelah itu merembet kemana-mana. Salihara memutarnya, AJI di Bandung juga memutarnya. Akhirnya kemanapun ada pemutaran film itu. Salihara ingin, bila ada tempat lain yang merasa khawatir, atau ketakutan, kami menyediakan ruang untuk itu. Misalnya ada film-film tentang homo-seksualitas, sangat rawan bila diputar. Salihara menyediakan ruang. Ini adalah bentuk kepedulian bahwa siapapun bisa mengekspresikan keinginannya tanpa harus mengganggu yang lain. Di situ bentuk dari kepedulian Salihara.

Ini sangat menarik, di tengah-tengah kebebasan yang sudah bisa kita perjuangkan, masih ada ruang bagi orang yang anti kebebasan untuk menolak dan menggunakan kebebasan itu. Apakah memang masih besar ancaman terhadap kebebasan itu saat ini?

Pertama, pada akhir tahun lalu kami melihat ada fenomena kembalinya tirani negara, yaitu dengan bukti pelarangan film Balibo 5 oleh LSF dan juga Menteri Kebudayaan. Kedua, pelarangan beredarnya lima buku yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung. Salah satunya adalah dalih pembunuhan masal, yang temanya bagaimana melihat kembali peristiwa tahun 1965.

Kami melihat, salah satu ancaman kebebasan sebelum 1998 adalah Soeharto dan negara. Setelah itu ada milisi sipil yang melakukan tindakan kesewenangan melanggar hukum. Nah, kami juga melihat negara ingin kembali melakukan penyensoran, mau menutup kembali ruang kebebasan yang sudah dinikmati oleh masyarakat kita dengan alasan apapun. Kami melihat dalam contoh film. Kemudian terakhir kita menyaksikan konferensi The International Lesbian and Gay Association (ILGA) yang sebelumnya sudah mendapat izin dari polisi lalu digagalkan oleh milisi sipil, lalu workshop Waria di Depok yang diserang oleh mereka. Kita melihat belum terjamin kebebasannya. Lebih baik dari Orde Baru, tapi belum ada jaminan. Jadi itu riil.

Kalau kita bicara mengenai segmentasi, kebanyakan masyarakat Jakarta butuh hiburan ringan yang bisa membuat tertawa. Apakah ada ruang atau tidak untuk mereka menikmati ketidak seriusan misalnya tidak terlalu pop, tapi bagi masyarakat itu hiburan?

Bentuk kesenian yang ditampilkan di galeri Salihara tidak semua serius. Kami juga mengundang tari tradisional, wayang kulit yang diringkas dimana kami menyebutnya "Wayang Ringkas". Ada juga teater. Teater Gandrik itu menghibur sekali. Mereka tampil tiga malam di Salihara, bercerita tentang Pandol. Itu menghibur tapi ada kiritknya juga. Kami tetap membuka ruang untuk mereka. Yang perlu diketahui juga adalah setiap performer yang tampil di Salihara bukan sewa. Kami yang mengundang, kami yang memberikan honor. Kami yang bertanggung jawab atas publikasi
Kami juga membuka tiket yang kami sebut apresiasi penonton. Itu karena setiap grup yang tampil di Salihara, kalaupun tiket terjual habis, tidak bisa memenuhi biaya produksi. Misalnya, kami mengundang grup musik yang honornya Rp 20-25 juta. Kalau tiket yang berjumlah 230 itu terjual semua maka hasilnya hanya mencapai kurang lebih Rp 10 juta. Nah, kekurangan itu kami cari dari semacam "fund raising" Salihara, yaitu organisasi, individu yang peduli terhadap Salihara.

Kami juga dengar ada festival Internasional. Apa yang digagas dari festival semacam itu?

Pada tahun 2008, 2009, dan 2010 ada Festival Salihara. Di sini kami mengundang grup-grup kesenian dari dalam dan luar negeri. Salah satu misi dari festival ini adalah kebaruan. Karya-karya yang dipilih oleh kurator kami adalah yang baru dan berkualitas. Merekalah yang coba ditawarkan kepada publik di sini. Misalnya, kami mengundang grup tari dari Jepang. Kemudian grup teater di Indonesia, kami minta karyanya yang terbaru yang belum pernah ditampilkan dimana-mana (premiere).

Kemudian festival lain yang diselenggarakan setiap dua tahun adalah Biennale Sastra Utan Kayu. Kami mengundang sastrawan dari Indonesia dan luar negeri untuk membacakan karya sastra mereka di Jakarta. Itu salah satu bentuk kurasi kami. Kalau untuk festival adalah bentuk kebaruan, karya-karya baru. Yang kedua adalah yang memiliki kualitas. Kalau grup luar susah mencari yang premiere, katakanlah memang bagus maka itu yang kami tampilkan.

Apakah itu untuk umum?

Ya, untuk umum. Untuk perkuliahan, kami tidak memungut bayaran. Musik dan teater ada tiket. Kita juga ada program apresiasi. Misalnya saat Teater Gandrik, kita bekerjasama dengan Sekolah Menengah Umum, mengundang siswa untuk menonton Gladi Resiknya dan itu gratis.

Apakah yang diundang dari luar negeri itu adalah kelompok-kelompok yang sama-sama merawat kebebasan? Kadang-kadang mereka adalah kelompok yang kecil yang tidak ada ruang di sana, apakah karena dianggap penting maka diudang juga oleh Salihara?

Kembali pada kurator. Misalnya, kurator tari mengusulkan grup dari luar maka kita tonton bareng-bareng rekamannya. Kemudian kita nilai apakah grup ini berkualitas atau tidak. Contohnya, grup dari Jepang "Papatara Humara" pernah menampilkan salah satu karyanya berjudul "Three Sisters". Itu sangat berkualitas karena menceritakan bagaimana perempuan di Jepang. Dia mengekspresikan beberapa kelas perempuan di Jepang, yaitu urban, skala umur, dan pedesaan. Ini yang kami lihat.

Mengenai diskusi, dari beberapa informasi yang saya dapat, ada beberapa diskusi yang berat. Di tengah situasi yang nge-pop seperti sekarang dimana politik saja menjadi pop, tapi di Salihara berdiskusi tentang "Ketuhanan". Apakah itu karena di tempat lain tidak ada tempat diskusi untuk itu, atau karena memang teman-teman mau jadi filsuf?

Yang juga membuat kami heran adalah peminat atau penikmat diskusi filsafat itu besar. Misalnya, pada Januari 2010 ada rangkaian forum filsafat tentang "Hermenetika Kecurigaan". Itu empat kali dalam sebulan, setiap Sabtu pukul 16.00. Jumlah yang datang lebih dari 200 orang. Teater penuh. Kami juga heran mengapa.

Pada Juni 2010 ini kami ada rangkaian filsafat tentang seksualitas. Setiap Sabtu juga pukul 16.00. Kami yakin ini juga pasti banyak peminatnya. Untuk soal tema kami mencoba beragam, plural. Kami mendiskusikan juga isu identitas dan kebudayaan populer, kemudian soal "sensor, dan tubuh perempuan" yang bulan lalu masuk dalam Festival Film Perempuan juga.

Lalu, diskusi untuk bulan ini adalah opini publik dan versus kebenaran. Itu hal-hal yang mungkin menarik yang selama ini sudah terkenal melalui survei dan opini publik. Mungkin publik lebih bertanya-tanya, apa sih. Selain itu, ruang diskusi untuk ini di media kita hampir tidak ada. Ini yang mungkin mengapa banyak peminatnya.

Itu bagian dari merawat kebebasan. Banyak teman-teman di Salihara adalah penulis. Apakah, ada atau tidak ruang dorongan bagi penulis muda yang kian hari makin banyak?

Karena Salihara adalah sebuah komunitas, kami berusaha untuk membuka. Program yang ada di Salihara tidak hanya program reguler. Misalnya, Ada klub batik di Salihara, klub arsitek muda, yang memiliki diskusi dan pertemuan rutin. Kemudian klub blogger, ada musyawarah buku. Yang katakanlah bukan di terbitkan oleh penerbit besar, dan bila mengadakan peluncuran butuh biaya yang mahal. Kami sediakan untuk penulis muda.

Kemudian forum filsafat, katakanlah filsuf-filsuf muda, atau mahasiswa filsafat. Kami memberikan ruang ke mereka untuk diskusi menulis makalah. Ini berbeda dengan diskusi yang reguler. Forum filsafat ini yang bicara orang-orang muda, misalnya mahasiswa filsafat STF, filsafat UI ataupun UIN. Mereka kami undang untuk presentasi dan berdiskusi dengan teman-teman. Ada ruang untuk itu.

Sumber : http://www.perspektifbaru.com/wawancara/741/

M. Guntur Romli

Merawat Kebebasan Melalui Seni Budaya

Edisi 741 | 07 Jun 2010 |

Salam Perspektif Baru,

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.