Seri kuliah Ramadhan
Voltaire & Islam
Oleh: Ida Sundari Husen
Karya Voltaire (1694-1778)
Sebagai pemikir, Voltaire menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk karya ilmiah, karya sastra, dongeng-dongeng filosofis, dan surat-surat pribadi. Voltaire, yang bernama asli François-Marie Arouet, selama hidupnya yang panjang, 84 tahun (1694-1778) telah menghasilkan sejumlah besar karya, baik yang berbentuk karya filsafat (Essais sur les Moeurs, 1756, Lettres Philosophiques, 1734, Traités sur la tolérance, 1763, dll.), karya sejarah (Histoire de Charles XII, 1732, Le Siècle de Louis XIV, 1752) yang didasari atas penelitian dan dokumen otentik, sekitar 40 drama (antara lain Zaïre, 1732, Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète,1753, Irène, 1778), kritik sastra, pamflet-pamflet yang berisi kritikan politik, 26 dongeng filosofis (Zadig, 1747, Candide, 1759, L’Ingénu, 1767), dan sekitar 20 ribuan surat pribadi yang berisi gagasan-gagasan tentang berbagai masalah aktual bahkan juga polemiknya dengan pengarang Jean-Jacques Rousseau. 
Pada masa itu, yang disebut karya sastra adalah drama (tragedi, tragikomedi, komedi) yang ditulis dalam bahasa yang indah bersajak dan menurut pakem atau pola aturan tertentu. Dongeng filosofis yang ditulis dalam bentuk prosa tidak dianggap sebagai karya sastra sehingga untuk menjaga “gengsi”, Voltaire menggunakan nama samaran lain. Boleh dikatakan bahwa dongengdongeng itu merupakan karya “sampingan” untuk meramaikan pertemuan dengan para sahabat. Anehnya justru dongeng-dongeng itulah yang tetap dikenal serta dipelajari sampai sekarang dan merupakan ciri Voltaire, bahkan Candide misalnya telah dijadikan film. Pada waktu saya berkunjung di Paris pada bulan Juli 2010, di toko-toko buku terkenal seperti Fnac dan Virgin Mega Store berderet dongeng Voltaire terbitan mutakhir.
Walaupun mendapat sambutan meriah pada waktu dipertunjukkan, karya Seri Kuliah Ramadhan Voltaire & Islam drama Voltaire praktis dilupakan orang dan tidak pernah dipertunjukkan lagi di Paris, tidak seperti karya Corneille, Racine, dan Molière yang sampai sekarang secara teratur ditampilkan di Comédie Française, gedung teater tertua di Paris. Maka patut dipertanyakan mengapa pada tahun 1993, justru dramanya yang tidak begitu dikenal: Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète, (tentang peristiwa kembalinya Nabi Muhammad s.a.w. ke Mekah pada tahun 630, selanjutnya disingkat LFMP) dipertunjukkan di Jenewa sehingga terpaksa Mesjid Jenewa mendesak pemerintah supaya melarangnya. Pada tahun 2005 drama ini ditampilkan di Saint Genis Pouilly (Ain) dengan penjagaan polisi.
Pemanggungan LFMP yang diselenggarakan pada abad ke-21 di Prancis itu, ketika Islam sudah menjadi agama terbesar kedua, merupakan anakronisme yang menimbulkan protes keras serta polemik berkepanjangan di dunia maya (internet) (periksa: http://www. google.com). 
Polemik itulah yang mungkin telah mendorong Komunitas Salihara menyelenggarakan diskusi tentang “Voltaire dan Islam” ini. Untuk membicarakan hal itu, mau tidak mau kita harus membahas LFMP terlebih dahulu. Berhubung pengetahuan saya tentang Islam tidak mendalam, uraian saya terbatas pada apa yang saya baca tentang LFMP, penjelasan Voltaire, dan beberapa pendapat lain. Sebelumnya, perlu kita memahami beberapa gagasan Voltaire tentang agama dan khususnya kebenciannya pada fanatisme dalam segala bentuk.
- Voltaire dan Islam(0 view)
- Voltaire dan Islam(0 click)
English






Discussion 0 Comments