Petualangan Psikologis: Mencari “Kunci” Nadira
(Sebuah Awal Petualangan)[1]
Oleh Agus Noor
Tugasmu sekarang adalah, carilah kunci itu,
ke dasar lautan sekalipun; kau ambil, kau buka kembali, dank au hadapi…[2]
I
TAKALA 9 dari Nadira (Kepustakaan Populer Gramedia/KPG, Jakarta, Oktober 2009) karya Leila S. Chudori terbit, saat itu saya membatin: akhirnya salah satu ‘anak emas’ yang dimiliki kesusastraan Indonesia, tak hilang begitu saja. Perasaan lega itu timbul karena saya kerap menyaksikan: betapa bakat-bakat terbaik yang dimiliki sastra Indonesia, perlahan-lahan, akhirnya, lenyap begitu saja tergerus rutinitas hidup yang dipilihnya di luar kesusastraan. Walhasil, banyak bakat-bakat terbaik kita (dalam sastra), kemudian menghilang setelah melewati usia 30an.
Dalam konteks itu, terus terang, saya mencemaskan Leila…
Pada tahun 1989, terbit kumpulan prosa Leila S. Chudori, Malam Terakhir.[3] Di tahun-tahun itu, tak banyak buku sastra terbit. Situasinya memang berbeda dengan saat ini, dimana menerbitkan buku (sastra) terasa sangat mudah, karena begitu banyak penerbit yang “dengan gampang” mau menerbitkan buku sastra; belum lagi para penulis pun bisa menerbitkan buku dengan swadaya. Di tahun 1980-an itu, menerbitkan buku sastra adalah “perjalanan panjang” yang boleh dibilang “menandai prestasi estetis kepenulisan” seorang sastrawan. Hingga, sangat terasa, tiap sebuah buku sastra terbit, pastilah sebuah “prestasi” yang tidak sembarangan. Maka dalam catatan saya, buku Malam Terakhir – bersama buku kumpulan prosa Seno Gumira Ajidarma, Manusia Kamar [4]-- bisa dibilang sebagai “yang menandai” generasi baru penulis dalam sastra Indonesia. Dan inilah yang mencemaskan saya kemudian: sementara Seno Gumira Ajidarma terus menggelontorkan banyak buku sastra, Leila S. Chudori “nyaris menghilang” tertelan belantara kesibukannya (sebagai wartawan). Memang, beberapa prosanya kadang muncul sporadis di majalah Matra atau koran Kompas. Salah satu cerita yang relevan untuk di sebut dalam koneks pembicaraan kita ini adalah Nina &Nadira [5] – karena cerita inilah yang kemudian oleh Leila “ditulis ulang” menjadi bagian dari buku 9 dari Nadira, dan nanti kita bisa sedikit menyinggungnya.
Rentang 20 tahun – sejak Malam Terakhir hingga 9 dari Nadira – tentulah jeda yang lumayan panjang. Karenanya, itulah yang mencemaskan saya: apa yang telah dilakukan Leila melalui sejumlah prosa terbaik yang pernah dihasilkannya, menjadi sayup dalam lanskap sastra Indonesia. Barangkali ini resiko dari bangsa yang memang punya ingatan sejarah yang pendek. Karena itu, tiada mengherankan, apabila kemudian nama Leila S. Chudori – nyaris – tidak menjadi rujukan ketika “gegap gempita” kemunculan para penulis perempuan mengharu-biru kesusastraan kita, di akhir tahun 1990-an.
Kita tahu, ditahun-tahun itu, terutama sejak munculnya Saman[6] Ayu Utami, sastra Indonesia diluapi kegembiraan seputar “era penulis perempuan” yang dengan begitu ekspresif dan eksploratif mengolah “seks dan seksualitas” sebagai tema yang kemudian ngetrend.[7] Dalam perbincangan seputar penulis perempuan dan tema seksualitas yang diolahnya itu, tak banyak yang kemudian mengingat, bahwa – tak jauh dari tahun-tahun itu – sesungguhnya telah ada Leila S. Chudori, yang sebagai pengarang perempuan, juga mengolah tema-tema seksualitas dan feminisme, sebagai nampak dalam Malam Terakhir.
Dalam cerita “Air Suci Sita”, misalnya, Leila sudah mengolah persoalan relasi “kesetiaan” dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak sejajar. Kisah perempuan yang menunggu tunangannya datang, dan tergoda perselingkungan, kemudian ia paralelkan dengan kisah Dewi Shinta yang mesti menanggung beban ketika ia harus menanggung kecurigan laki-laki – Sang Rama yang Agung: adakah ia suci dan tak terjamah.
Wanita itu masih menatap bibir tunangannya yang begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Namun di matanya, terlukis wajah Sang Raja Agung titisan Wisnu dengan permaisurinya yang sudah siap terjun ke lautan api penyucian diri. Ia baru ingat sekarang. Permaisuri itu tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya kepada suaminya, misalnya:
“Kakanda, apakah selama kita berpisah, tak pernahkah engkau tergoda untuk bercengkerama dengan wanita lain?”
Pertanyaan semacam itu tak pernah terlontar. Dan sama sekali tidak wajib ada. Alangkah anehnya.[8]
Ada “gugatan” yang memang “terdengar mirip gema” atau “gerutu kecil” perihal nilai-nilai patriarki yang membuat perempuan mesti menanggung kesetiaan dengan risiko “terjun ke api penyucian” untuk menebus kesalahan ketaksetiaannya. Sementara, kenapa, laki-laki tak menghadapi risiko yang sama?
Lantas soal “pelukisan seksualitas” atau narasi-narasi sensual sebagaimana juga disinggung oleh Katrin Bandel dalam buku Sastra, Perempuan, Seks itu, yang menandai era “penulis perempuan baru” yang berani mendobrak tabu. Sudah pasti, sesungguhnya, “pendobrakan tabu” oleh penulis perempuan, tidaklah datang tiba-tiba. Selalu ada jalan yang, meski pelan dan tidak menghentak, ikut meretas bagi keberanian menuliskan yang sensual. Dalam sastra kita, sudah pasti kita bisa merentang “upaya pendobrakan itu” sejak mulai NH Dini, lewat Pada Sebuah Kapal atau jauh hingga ke Serat Centhini. Tapi baiklah, saya akan mengutip ke waktu yang bagai cuma sepenggalah lalu, ke sebagian kisah Nina & Nadira Leila S. Chudori ini:
Gilang tersenyum dan memegang bahu Nina. Perlahan-lahan sarungnya melorot ke bawah sementara tangannya mengusap-usap buah dada Nina. Nina memejamkan mata. Luapan kemarahannya tenggelam dalam lautan birahi. Dada Gilang yang bidang, yang licin, yang menggairahkan…tangannya yang perkasa… Dia segera memainkan rambutnya yang panjang di dada Nina, dan betul saja… gadis itu menggeliat-geliat. Tak lama kemudian terdengar suara-suara mengerang…[9]
[lebih lanjut unduh makalah]
[1] Bahan untuk Diskusi “9 dari Nadira”, Salihara, Senin 2 Agustus 2010
[2] Leila S. Chudori, 9 dari Nadira, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2009, hal. 40-41.
[3] Leila S. Chodori, Malam terakhir, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1989.
[4] Seno Gumira Ajidarma, Manusia Kamar, Haji Masagung, Jakarta, 1988
[5] Lihat, MATRA, Edisi Mei 1993, hal 125-131.
[6] Ayu Utami, Saman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.
[7] Lihat, Katrin Bandel, Sastra, Perempuan, Seks, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
[8] Leila S. Chudori, op.cit., hal. 28-29.
[9] Lihat “Nina dan Nadira”, Matra, Edisi Mei, hal. 27
English






Discussion 0 Comments