Bagi anda dan bagi kami, sebuah festival semestinya lebih daripada sekadar bunga rampai. Festival Salihara, kini yang ketiga, adalah puncak pilihan para kurator kami. Kami sebut puncak, untuk dua alasan. Yang pertama, kurator kami telah menampilkan yang terbaik sesuai bidang dan konteks masing-masing, lebih daripada ketika mereka mengancang program rutin-bulanan. Yang kedua, dalam kombinasinya satu sama lain, aneka mata acara itu menampilkan sesuatu yang menegaskan visi kami untuk memelihara keragaman dan kebaruan.
Adapun yang puncak, yang terbaik itu bukanlah ukuran dari kami belaka. Kami senantiasa berusaha tumbuh bersama anda sekalian, para pemirsa. Komunitas Salihara telah berkembang jadi seperti sekarang ini karena kesediaan anda mendukung kami, menghidupi dan menghidupkan aneka program kami. Festival Salihara adalah juga cara kami untuk berterima kasih kepada anda sekalian. Selama sebulan, yakni sepanjang 23 September—20 Oktober, setiap hari, kami menyajikan tidak kurang dari 12 penampil dari tanah air dan mancanegara. Anda bukan hanya dapat memilih, tapi juga membandingkan; dan, tentu saja, menikmati dengan leluasa.
Kesempatan tak datang dua kali. Maka jangan lewatkan. Di halaman-halaman berikut, anda akan membaca apa dan bagaimana para seniman yang akan tampil dalam Festival kita. Kelompok tari Chunky Move dan pianis Margaret Leng Tan, misalnya, adalah nama-nama dengan reputasi sangat tinggi dalam khazanah seni dunia. Adapun duet pegitar Twin Demon dan kelompok tari Tresno Budoyo adalah grup-grup yang “baru” bagi kita, tapi sudah sepatutnya mendapat resepsi yang lebih luas karena keunikan karya mereka. Sementara itu, ada Teater Garasi dan koreografer Fitri Setyaningsih yang dikenal dengan pentas-pentas mereka yang bersifat cutting edge, ada pula koreografer Wiwiek Sipala dan pemain komungo Jin Hi Kim yang bergerak maju dengan bahan-bahan tradisi.
Kami juga mengundang Dato’ Seri Anwar Ibrahim berceramah tentang “kebebasan dan para musuhnya”; kami percaya bahwa beliau, oleh karena pengalamannya, akan melakukan refleksi yang mendalam atas tema yang berkait erat dengan visi kami. Untuk mewarnai Festival secara khusus, kami memproduksi sendiri Tan Malaka karya penyair Goenawan Mohamad dan komposer Tony Prabowo, sebuah opera-esai yang bertolak dari fragmen-fragmen kehidupan dan pemikiran pejuang-intelektual yang kontroversial itu. Sementara itu karya-karya instalasi Hedi Hariyanto dan Joko Dwi Avianto akan mengubah tampakan kompleks Salihara sepanjang Festival.
Demikianlah, kita akan mencapai puncak bukan hanya dengan kumpulan, tapi juga kombinasi, dari semua mata acara itu. Sejumlah komunitas akan meramaikan Festival dengan acara lokakarya dan ceramah mingguan anggitan masing-masing. Jelaslah, jejaring komunitas demikian bukan hanya akan memperkaya Festival, tetapi juga memperluas lingkungan khalayak kritis di lingkungan ibu kota kita. Akhirnya, Festival kita bisa terselenggara berkat dukungan besar dari banyak pihak—sponsor, donatur, media-rekanan, lingkaran Sahabat Salihara, dan, tentu saja, para seniman sendiri. Kepada mereka kami haturkan terima kasih tak terhingga.
Festival Salihara, yang sejak saat ini akan berlangsung secara dua-tahunan, adalah sarana kita bersama untuk menegakkan kehidupan publik yang lebih sehat, majemuk, dan terbuka. Marilah kita merayakan imajinasi dan kreativitas, karena itulah sumber-sumber kita untuk bergerak laju ke depan. Anda, pemirsa sekalian, adalah pasangan kami dalam menghidupi kesenian yang tepat untuk zaman dan lingkungan kita. Selamat datang ke Festival Salihara, dan selamat menikmati.
English






Discussion 0 Comments