Seni Rupa Kontemporer Jepang

Seni Rupa Kontemporer Jepang
Catatan Pengantar Diskusi
Oleh: Agung Hujatnikajennong

Sejak awal 2000-an, seni rupa kontemporer Jepang identik dengan kecenderungan untuk menampilkan pengaruh budaya pop Jepang yang mengglobal, terutama anime dan manga. Meskipun bukan hal yang sama sekali baru—telah muncul sejak awal 1990-an—kecenderungn dominan itu tentu tidak lepas dari kiprah beberapa gelintir seniman Jepang, terutama Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami dalam sepuluh tahun terakhir. Tampilnya kedua nama tersebut dalam perhelatan-perhelatan besar internasional, dan kesuksesan komersial mereka yang mengagumkan telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan mutakhir dan citra seni rupa Jepang pada milenium baru.

Seni Rupa Kontemporer Jepang
Selain Nara dan Murakami, beberapa seniman lain seperti Aida Makoto, Akira Yamaguchi dan Tenmyouya Hisashi yang juga muncul dalam periode yang sama sebagai sosok-sosok berpengaruh dalam seni rupa Jepang.

Sejak awal 1990-an, Murakami dikenal melalui konsep superflat yang dicetuskannya. Secara sederhana, superflat adalah konsep estetik yang menjelajahi ‘kedataran’ yang radikal. Murakami menganggap bahwa ada hubungan yang erat antara kedataran dalam penggambaran anime dan manga dengan tradisi visual Jepang kuno (nihon-ga). Karya-karya Murakami, rata-rata menampilkan berbagai karakter visual yang lahir dari narasi dan fantasi, dengan warna-warna dan karakter grafis pop yang mencolok, namun tak jarang mengandung ironi dan sarkasme yang meledak-ledak. Mengadopsi pola produksi dalam industri manga dan anime, ia memperkerjakan beberapa sejumlah seniman muda sebagai asistennya. Beberapa penulis menyebutnya sebagai ‘Andy Warhol versi Jepang’, karena keberhasilannya dalam menyintesakan kebudayaan pop Jepang dengan seni tinggi.

Nyaris serupa dengan Murakami, Nara juga banyak menggunakan subkultur otaku sebagai referensi estetiknya. Pokok-soal dalam karya-karya Nara selalu nampak sederhana, seringkali berupa seorang anak perempuan atau hewan peliharaan, dengan warna-warni pastel dan lembut, menyerupai karakter visual dalam komik anak-anak. Gestur dan wajah karakter-karakter itu seringkali ditampilkan polos, lugu, tanpa dosa. Tapi tak jarang, Nara juga menampilkan mereka sebagai karakter yang nakal, jahil dan jahat, penuh kekerasan dan kebencian: Anak perempuan dalam karya Nara juga digambarkan tengah menyembunyikan dan mengayunkan senjata seperti pisau dan gergaji.

Beberapa sumber tertulis menghubungkan karakter dalam lukisan-lukisan Nara dengan kehidupan masa kecil seniman yang serba keras dan kesepian.

Dominasi ‘seni otaku’ yang dipromosikan oleh Murakami dan Nara, pada akhirnya melahirkan beberapa stereotipe seni rupa Jepang yang semakin dominan di lingkaran internasional. Tak bisa dipungkiri, kesuksesan superflat—sebagai suatu gaya estetik—bahkan berpengaruh besar pada karya-karya seniman-seniman muda Asia non-Jepang. Pasca Nara dan Murakami, terdapat beberapa seniman muda Jpeang yang secara sadar mengadopsi dan mengembangkan seni rupa otaku dan superflat. Tampilnya karya-karya seniman muda Jepang, seperti Mr., Aya Takano dan Chiho Aoshima, terutama dalam pasar arus utama—sebagaimana tercermin dalam berbagai art fair dan lelang internasional dalam lima tahun terakhir—adalah buktinya. Stereotipe ini pada akhirnya mengecilkan perkembangan aktual seni rupa Jepang yang karya ragam dan punya sejarah panjang.

Di tengah-tengah berkembangnya stereotipe seni rupa Jepang yang semakin dominan, pameran Passages to the Future, bagi saya, mencerminkan pencarian yang berharga. Dengan tidak mengecilkan kesuksesan superflat dan seni otaku, Passages to the Future, adalah salah satu upaya untuk memberikan citra baru pada perkembangan seni rupa Jepang di lingkaran internasional. Dalam pengantar kuratorialnya Manasobu Ito mengetengahkan bahwa pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan aspek-aspek kehidupan sehari-hari, narasinarasi personal dan ketertarikan pada persoalan proses dalam penciptaaan.

Meskipun dikenal sebagai negara industri yang maju, fakta bahwa Jepang adalah bangsa yang masih sangat menghargai keterampilan tangan adalah fakta yang tak bisa ditolak. Karya-karya seniman-seniman yang berpameran kali ini—Atshushi Fukui, Satoshi Hirose, Maywa Denki, Tomoyasu Murata, Tetsuya Nakamura, Masafumi Sanai, Katsuhiro Saiki, Yoshihiro Suda, Tabaimo, Nobuyuki Takahashi dan Miyuki Yokomizo—memang membuktikan hal itu. Menurut Ito, meskipun aspek-aspek ini belum relatif dikenal secara luas, kecenderungan untuk mengangkat persoalan ini telah muncul sejak pertengahan 1990-an.

Saya ingin menggunakan pameran ini untuk membicarakan konteks perkembangan seni rupa Jepang yang lebih luas. Jika Masanobu Ito memanfaatkan superflat dan otaku sebagai tonggak/pijakan perkembangan estetik, saya justru tertarik untuk melihat kembali sejarah seni rupa Jepang melalui beberapa gerakan artistik seperti Mono-Ha dan Gutai, yang menariknya memiliki stigma sebagai ‘varian’/’turunan’ dalam sejarah seni rupa. Selain Nara dan Murakami, menurut saya terdapat sosok seniman Jepang seperti Yoko Ono, Hiroshi Sugimoto dan Yayoi Kusama yang tak kalah penting.

Agar bisa relevan dengan konteks lokal, menganggapi pameran ini, saya juga tertarik untuk mendiskusikan bagaimana identitas suatu bangsa dapat terproyeksikan melalui agenda kebudayaan pemerintah, seperti selalu tercermin dalam program-program seni rupa yang diselenggarakan The Japan Foundation. Akan sangat menarik membicarakan bagaimana representasi seni rupa Indonesia juga bisa diproyeksikan melalui pameran-pameran internasional.


Disampaikan dalam diskusi pameran “Passage to the Future: Art from a New Generation in Japan” di Komunitas Salihara, Rabu 27 Oktober 2010. Makalah ini milik Kalam dan tidak untuk dimuat di mana pun.

Unduh Makalah

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.