Sensualitas Sophia Charai


BERBALUT gaun asimetris hitam dengan korsase merah dan bandana merah, kakinya dibiarkan telanjang tanpa alas, hanya ber-stocking hitam tipis. Perempuan itu, Sophia Charai, tampak sensual di panggung Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa malam pekan lalu. Tubuhnya terus bergoyang, terkadang pelan, lembut, memabukkan. Namun sesekali dia berlari-lari kecil hingga melompat-lompat energe-tik mengikuti irama musik flamenco dan -groove Brasil.

Sophia Charai

Tak ada panggung wah malam itu, hanya berlatar tembok hitam dan alas karpet hitam. Tapi penyanyi jazz kelahiran Casablanca, Maroko, ini berhasil menghadirkan suasana "glamor". Wajahnya yang ekspresif dan suaranya yang bergaya Spanyol mengesankan. "Selamat malam, Jakarta. Lagu kedua ini spesial untuk nenek tercinta. Habiba," sapa Sophia setelah menyanyikan lagu pertamanya, Dokhak.

Ia tinggal lama di Paris. Lagu ketiganya, Un Petit Chouia, bertempo musik lebih nge-beat. Tubuh Sophia tak berhenti bergoyang, sangat ekspresif, melantunkan tembang berbahasa Arab-Prancis. Sosok Sophia dengan jiwa seninya yang bebas, yang memadukan Timur dan Barat, terlihat jelas lewat lagu keempat.

Inilah tembang berjudul Raksa. Iringan gitar gipsi dari Mathias Duplessy, akordeon oleh Bastian Charlery, gesekan biola dari Yann Sury, kontrabas Stephen Bedrossian, dan tabuhan drum Herve Lebouche terasa bergairah. Wanita yang dijuluki Catherine Ringer dari Maghreb atau Rita Mitsouko dari Maroko ini lalu tampil lepas. Sophia melompat-lompat, berlari kecil, berinteraksi dengan pemusik, hingga melepaskan bandana yang mengikat rambut dan pinggulnya seraya bergoyang bak penari India. Duh, sensual!

Interaksi yang apik dengan penonton terlihat lewat penampilannya di lagu ke-9 dan ke-10, Mele Ta Langue dan Ash Kat Dir. Pemain gitar, violin, dan akordeon berkumpul di tengah panggung bersama Sophia. Sontak musik berhenti, berganti dengan irama tepuk tangan. Penonton seolah terhipnotis dan ikut antusias bertepuk tangan selaras dengan tembang yang dinyanyikan Sophia. Di sini Sophia berhasil menyatukan rasa dan irama dengan penonton. "Thank you," ujarnya dengan mata berbinar.

Hal itu berulang saat Sophia melantunkan tembang andalannya di album keduanya, Pichu. Penonton kembali tersihir dan ikut bertepuk tangan membentuk sebuah irama yang mengiringi Sophia bernyanyi. Album terbaru yang dirilis Oktober lalu itu merupakan kolaborasi artistik dan kisah cintanya dengan produser dan arranger sekaligus gitaris Mathias Duplessy. Album ini juga disebutnya sebagai hasil dari petualangannya menyelami tradisi kota-kota yang pernah disinggahinya selama perjalanan hidupnya.

Sophia Charai

Selama satu setengah jam, 13 lagu dilantunkan wanita ini. Warna gipsi, Arab, Prancis, Spanyol, dan India berhasil membius dan mengajak penonton ikut masuk ke memori-memori perjalanannya. "Casa ini sebuah lagu yang menceritakan perjalanan saya saat harus meninggalkan kota kelahiran saya, Casablanca," ujarnya sebelum melantunkan tembang Casa.

Inilah konser yang membekas. Malam itu ada senyum, tawa, keceriaan, dan erotisme, tapi juga suasana keperihan.

Suryani Ika Sari

Majalah TEMPO, 16 Mei 2011

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.