Dunia Pandang dan Pandangan Dunia Menelaah Subkultur Manga dan Otaku


Dunia Pandang dan Pandangan Dunia Menelaah Subkultur
Manga dan Otaku
Oleh: Hikmat Darmawan

Dunia Pandang dan Pandangan Dunia

Ketika Obama mengumumkan pembunuhan Osama, dan memutuskan tak akan menerbitkan foto-foto mayat musuh nomor wahid Amerika Serikat (AS) itu, terjadi perdebatan keras. Banyak sekali yang merasa, pengumuman itu tak absah, tak “benar”, jika tiada gambar yang mendukungnya. Seperti kata Fred Ritchin, profesor fotografi New York University, “I don’t think society tolerates the invisible anymore. Everything has to be imaged.”

Segalanya dalam dunia kiwari harus diimajikan, digambarkan, dirupakan. Dan itu semakin jadi desakan, karena teknologi informasi memang semakin memfasilitasi budaya visual.

Pada 1996, saya bekerja di radio M97 FM (almarhum) dan mencicipi tahap awal internet di Indonesia, mencoba mengunduh versi digital kitab Leviathan karya Thomas Hobbes ke sebuah disket berkapasitas 1,2 Megabyte (MB) di komputer kantor saya. Setelah semalam suntuk mengunduh, komputer itu hang (macet), dan disket saya rusak.

Pada 2010, di Tokyo, saya sering sekali mengunduh file komik digital, musik, atau film, dengan kecepatan hingga 500 Kilobyte (KB) per detik. Dengan kecepatan itu, Kitab Leviathan versi digital yang saya coba unduh pada 1995 itu semestinya bisa diunduh dalam waktu sedikit lebih dari dua detik! Niscaya dengan demikian, tak perlu komputer saya sampai hang segala.

Ilustrasi kecepatan itu dapat menggambarkan sebuah lingkungan informasi yang semakin lama semakin padat berjejal. Kapasitas penampungan dan sirkulasi data serta informasi yang semakin besar dan cepat itu memungkinkan semakin sibuknya sirkulasi data yang tak lagi cukup hanya berupa teks: gambar, informasi visual, video, menjadi seperti keharusan, sebuah kehadiran yang lekat dalam peradaban kiwari, tersebar, saling bertukar, membentuk cara berpikir semakin banyak orang di muka bumi.

Selanjutnya: Download Malakah

Related Links

Discussion 1 Comments

  1. K4RNA says:
    Sedikit menambahkan:
    Pada halaman 9, mengenai pernyataan Taiyo Matsumoto berkenaan gaya manga bercirikan ringan hati (lighthearted), saya mengartikannya sebagai membaca komik Jepang membawa kepada perasaan yang menyenangkan hati. Bukan karena teknis ilustrasinya tetapi pada afektif kepada pembaca. Komik Jepang membawakan perasaan hati yang senang.
    Dari situ, secara bertolak belakang saya tidak menyetujui pengaitan antara sifat light-hearted ini dengan filsafat seni Jepang: wabi sabi.
    Karena konsepsi wabi sabi bukanlah dalam konteks seperti estetika dyonisian ala Nietzsche yang menekankan 'kesenangan hidup' atau berpesta-pora (teks hal. 10).

    Dan sebenarnya bukanlah sukar mengaitkan Hentai dan Wabi Sabi, tetapi memang bukan dalam konteks itu memperbandingkannya, tetapi mungkin lebih sesuai dengan pendapat mas Hikmat yang mengatakan Jepang mengadopsi penuh-penuh ekonomi-konsumsi model Amrik.

    Bukannya, saya mengangung-agungkan budaya adiluhung Jepang (cara pikir ini masih menggulung sebagian besar masyarakat intelektual kita), tetapi perlu kita cermati bahwa diluar penampilannya warga Jepang sangat santun, mapan, dan high-profile. Tetapi disebalik penampakan itu kita ketahui banyak karya seni Jepang yang sangat exagerrated:spt karya fotografer Yanagi Miwa (perempuan menjadi subyek fotonya) yang sangat gore dan hardcore.

    Sebagai kritik sedikit, ini bukan berarti tulisan mas Hikmat lalu saya anggap salah atau gimana gitu (kebiasaan orang kita kalo membaca kritik selalu negatif), bahwa dari judul artikel sangatlah berbau fenomenologis - lebenswelt (husserl) dan pandangan M.Merleau-Ponty.

    Cara pandang fenomenologis sangat dekat dengan Zen dan Sufisme. Sayangnya, antara judul dan isi rasanya jadi bertolak belakang, ketika artikel ini ditutup dengan tiga pertanyaan yang menurut saya jauh dari relevansi judulnya sendiri.

    Karena kekata Dunia Pandang dan Pandangan Dunia merupakan suatu penghayatan subyek manusia terhadap dirinya yang di dalam dan yang di luar bersama dengan dunia yang ia cerapi dan persepsikan.

    Kritik kesadaran seni, lebih berbau teori kritis ketimbang fenomenologis, meskipun keduanya berujung pada hal yang bermiripan: materialitas dan faktisitas.
    Namun, bukan fakta dalam maksud de facto, melainkan menerima apa adanya sebagai sebuah berkah (atau celaka?). Greg Sutomo (2002) mengungkapkan krisis seni adalah krisis kesadaran, barangkali sudut pandang teori kritis lebih sesuai untuk rujukan pemilihan judul artikelnya (entah apa itu jadinya).
    Karena 'Otaku' bukanlah sebuah komunitas yang nyata ada, tetapi 'ada' begitu saja di Jepang, tanpa sengaja diorganisir atau dibuat-buat. Apa yang muncul ke permukaan sebagai gaya hidup 'otaku' tidaklah mendahului adanya otaku di dalam masyarakat Jepang.

    Jadi, sungguh berbeda cara pandang dunia kita dengan cara pandang dunia orang Jepang, karena kita selalu, kononnya kritis, memandang tidak adanya organisasi dari komunitas otaku yg membawa label, spanduk, atau 'brand' otaku ke atas pentas kepedulian sesama manusia yang dilanda kesusahan bencana.

    jadi, animal database Azuma sama sekali tidak bermaksud menjadikan para otaku sebagai 'kelas, golongan, atau kasta tersendiri'. ia hanya mengungkapkan apa yang tak terlihat menjadi terlihat, dalam hal ini otaku sebagai animal database. Azuma menyingkapkan keberadaan otaky yang sejak lama diabaikan. Animal database ini dalam kerangka neo-marxian boleh dikatakan sbg sebuah materialitas dari keberadaan otaku di Jepang.

    Trims.
Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.