Kesusastraan Indonesia Sebelum Kemerdekaan

Makalah 
Kesusastraan Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Oleh: Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono

Pengantar

Hal pertama yang harus dijelaskan dalam karangan mengenai sastra Indonesia adalah kapan ia lahir. Beberapa pengamat sudah membicarakan hal itu dan pada hemat saya tidak perlu adanya kata sepakat dalam hal ini. Bahasa Indonesia tumbuh dari bahasa Melayu dan dalam perkembangannya ia melibatkan kelompok-kelompok etnik lain yang masing-masing sudah memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri – suatu hal yang justru memperkaya khazanah sastra itu sendiri. Yang dibicarakan dalam karangan ini adalah sastra yang dicetak dalam bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Latin. Sastra yang ditulis atau dicetak dengan menggunakan aksara Jawi tidak dibicarakan sebab perbedaan penggunaan aksara dan serta penulisannya telah menyebabkan adanya batas antara sastra lama dan sastra modern. Sastra Melayu lama merupakan khazanah yang ditulis dengan aksara Jawi, sebab itu memerlukan transliterasi jika disebarluaskan bagi umumnya pembaca sekarang. Di samping itu, sebagian besar khazanah itu ditulis, dan tidak dicetak, sehingga penyebarannya relatif terbatas. Dalam pembicaraan mengenai perkembangan sastra, faktor penyebarluasan dan khalayak tidak bisa ditinggalkan. Karangan ini diawali dengan pembicaraan sepintas tentang puisi.

Puisi dan Media Cetak
Perkembangan puisi Indonesia dimulai sekitar pertengahan abad ke-19, ketika di negeri yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda ini masyarakat mulai mengembangkan media massa cetak. Tampaknya, perkembangan sastra kita tidak bisa dipisahkan dari perkembangan penerbitan; sejak awal, dalam berbagai penerbitan disediakan ruangan untuk sastra, terutama puisi. Pengamatan sementara menunjukkan bahwa kebanyakan sastrawan adalah juga wartawan, yang menekankan pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa Melayu sejak lama sudah menjadi bahasa komunikasi lisan di Nusantara, tetapi ketika kalangan pers menggunakannya sebagai alat komunikasi cetak, mereka tampaknya harus mengubah yang lisan itu menjadi tulisan, mengubah bunyi menjadi aksara. Tentu saja mereka sudah juga mengenal bahasa tulis sebelumnya, tetapi dalam perkembangannya bahwa bahasa yang dipergunakan dalam media massa ketika itu tidak bersumber pada bahasa tulis seperti yang kita kenal dari khazanah sastra Melayu lama. Jika memang demikian halnya, maka sumber bahasa Melayu cetak itu tentunya bahasa lisan. Itulah juga tentunya yang menyebabkan banyaknya variasi struktur dan kosa kata dalam perkembangan awalnya.

Selanjutnya Unduh Makalah

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.