Suara-Suara dari Tepian Negeri[1]
Manneke Budiman[2]

Pengantar
Istilah ‘tanah-air’ adalah sebuah produk imajinasi yang unik, yang berangkat dari suatu kenyataan bahwa ada sekumpulan daratan dan sekelompok perairan yang dipandang sebagai satu entitas terpadu, tempat sebuah komunitas manusia berdiam. Gagasan yang menyatukan unsur tanah dan air sebagai wadahsekaligussumber kehidupan bersama ini barangkali bisa dikatakan khas Indonesia, dan langka didapati dalam bahasa-bahasa lain. Ada yang menyebut tanah air dengan istilah ‘homeland’, ‘fatherland’, atau ‘motherland’, tetapi pada umumnya istilah-istilah tersebut tidak mengejawantahkan kesadaran tentang bumi tempat tinggal komunitas manusia yang menyatukan diri sebagai nasion itu sebagai sebuah bangun yang dibentuk secara bersama-sama oleh daratan dan air. Dalam bahasa Indonesia juga dikenal istilah ‘tanah tumpah darah’, meski pemakaiannya tak sekerap ‘tanah air’, dan rujukannya adalah pada tanah kelahiran.
Gagasan ini lahir pada masa pergerakan nasional dan mengental pada masa revolusi, tetapi seperti kehilangan ruhnya ketika ambisi untuk menyatukan kelompok-kelompok bangsa berbeda dalam ruang bernama negara berubah menjadi obsesi.Pada 1922, Muhammad Yamin sudah memperkenalkan gagasan ‘tanah air’ ini dalam sajaknya yangberjudul sama, meski rujukannya saat itu boleh jadi hanya sebatas Sumatra belaka sebagai tanah kelahiran Yamin. Namun, semangat yang terkandung dalam sajak ini senapas dengan tumbuhnya kesadaran nasional pada masa itu.Setelah itu, Nur Sutan Iskandar menerbitkan novel Cinta Tanah Air pada 1944, yang merupakan masa peralihan dari era pergerakan nasional ke era revolusi.
[1] Disampaikan dalam Seri Kuliah Umum “Pemikiran Keindonesiaan dalam Sastra” di Komunitas Salihara, Rabu 28 September 2011. Makalah ini tidak disunting. Makalah ini milik Kalam dan tidak untuk dimuat di mana pun.
[2] Dosen di Jurusan Inggris Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Selanjutnya Unduh Makalah
- Suara-Suara dari Tepian Negeri(0 view)
English







Discussion 0 Comments