Mainan Minim Main-Main


Sharron M. Scott dalam Toys and American Culture: an encyclopedia (2010) membeber singgungan antara main-main, mainan, dan ranah seni sudah terjadi sejak awal abad ke 20. Bicycle Wheels (1913) karya Marchel Duchamp acap disebut sebagai sebuah karya seni pertama yang menempatkan sisi main-main tanpa secara vulgar melibatkan mainan di dalamnya. Setelah Bicycle Wheels, muncul miniatur sirkus Cirque Calder (1925) karya Alexander Calder. Setelah Calder, Hans Bellmer di Jerman juga melibatkan mainan dalam karyanya yang berjudul Die Puppet (1934). Karya berbentuk patung dari susunan boneka ini secara langsung menjadi bentuk kritik kepada Partai Nazi yang mengagungkan kesempurnaan kaum Aria.

We're Resin

Mainan dan seni juga muncul dalam seri Myths (1981) dari Andy Warhol. Sosok imajiner khas anak-anak dan dunia main-mainnya Warhol usung dalam seri Myths. Ada Santa Claus, Superman dan juga Paman Sam. Beda dengan Duchamp, Calder, dan Bellmer yang menunjukkan singgungan main-main, mainan, dan seni melalui bentuk karya tri matra, Warhol memilih mengusungnya lewat lukisan dan printing. Selain Myths, Warhol juga mempunyai karya bernafas mainan lainnya seperti Airplane (1983), Space Ship (1983), Cabbage Patch Girl (1985), dan banyak lagi.

Walau banyak perupa menyinggungkan mainan beserta rasa main-main dalam karyanya, Jeff Koons adalah sosok utama yang tak bisa ditinggalkan dalam ranah art toys dan perkembangannya. Inflatables yang dia geluti sejak 1970-an menonjolkan figur-figur lazim seperti bunga dan kelinci dalam bentuk menggelembung. Koons pada awalnya membuat inflatables dalam ukuran mini hingga pas untuk hiasan meja. Dalam perkembangannya, Koons juga membuat inflatables dalam ukuran jumbo hingga menyerupai patung-patung besar yang lazim menghiasi galeri hingga museum.

Singgungan antara mainan dan ranah seni rupa berujung kontroversi muncul pada 1994 oleh Tom Sachs lewat Hello Kitty Nativity. Sachs menempatkan figur Hello Kitty dan karakter- karakter khas The Simpsons sebagai pengganti Yusuf, Maria, dan tiga orang Majus dari timur di sebuah kandang domba. Hello Kitty Nativity menjungkirbalikkan bentuk-bentuk miniatur regular khas Natal tentang kelahiran Kristus. Bintang Timur yang bersinar di atas kandang domba Betlehem juga Sachs ganti dengan logo kuning terang milik gerai cepat saji Mc Donald. Sebagai sebuah karya seni, Sachs sempat mengalami masalah saat produsen Hello Kitty menganggapnya tak punya izin menggunakan figur mainan itu sebagai bagian dari ekspresinya dalam Hello Kitty Nativity.

Dalam catatan Scott, art toys mengalami titik lenting yang sangat penting pada 1997. Saat itu, Todd Mcfarlane di Amerika Serikat dan Michael Lau di Hongkong secara hamper bersamaan mengenalkan figur-figur mungil berkarakter unik. Todd mengusung figur GI Joe yang terinspirasi dari komik dan Lau mengusung figur anak muda berandalan lengkap dengan asesorinya. Dari dua belahan dunia yang berbeda, Todd dan Lau menyuguhkan napas baru dalam singgungan antara seni dan mainan. Karya seni yang kebanyakan sulit ditenteng, perlu perawatan dan penyimpanan khusus ekstra serius, hingga membutuhkan kernyit dahi untuk menikmatinya melebur menjadi sebuah karya praktis, unik, lucu dalam art toys besutan Lau dan Todds.

Di Indonesia, art toys belum segempita seperti di belahan dunia lainnya. Pada dasarnya, mainan yang lahir melalui proses serius akan menghasilkan sebuah mainan bukan main-main. Keseriusan menuangkan ide beserta orisinalitasnya hingga detil penggarapan sebuah mainan dengan sendirinya berbuah karya unik dengan nilai tambah yang bukan sekadar pembeda dengan mainan-mainan lainnya. Mainan-mainan minim main-main semacam inilah yang akan diluncurkan dalam We Are Resin di Gerai Salihara pada Sabtu, 17 Desember 2011 nanti.

We Are Resin adalah bagian pertama dari seluruh rangkaian peluncuran mainan untuk Gerai Salihara hasil kerjasama dengan My Tummy Toys. Ada lima perupa yang terlibat dalam pembuatan dan produksinya. Mereka adalah Arkiv Vilmansa, Brian Harsanto, Cikcuk, Marine Ramdhani dan Yudi Andhika. Mereka berlima adalah seniman yang aktif berkarya dan tinggal di Bandung. Selain patung, peluncuran juga diramaikan dengan karya-karya berupa art printing, lukisan dan benda-benda merchandise lainnya. Arkiv, The Beat Boxer, Cikcuk, Jouwe, The Yellow Dino adalah karakter-karakter yang akan meramaikan We Are Resin.

’’Memang tidak ada yang main-main dalam prosesnya,’’ ujar Yudi Andhika, salah satu seniman yang terlibat dalam We Are Resin. Yudi menyebut proses dan hasil pekerjaannya sebagai sebuah sculpture fun. Keseriusan pembuatan sosok-sosok mungil berupa patung dikerjakan melalui proses manual hand made. Proses tersebut mau tidak mau menuntut kedetilan penggarapan dan akurasi tinggi dengan tidak melepas sisi fun saat penggarapan dan hasil akhirnya. Proses tersebut menghasilkan patung-patung mini dengan karakter lucu dan boleh dibilang menggemaskan.

Sisi lucu dan menggemaskan dari sebuah mainan yang terjaga pada akhirnya menjadikan mainan-mainan ini layak masuk kategori untuk jadi barang koleksi. ’’Anak-anak juga ngerti kalau ini mainan dan bisa akrab. Yang dewasa bisa menjadikannya barang koleksi,’’ kata Marine Ramdhani, perupa yang sekaligus memproduksi secara terbatas mainan-mainan ini. Mainan ini pada dasarnya tidak ditujukan untuk anak-anak dan secara khusus membidik para kolektor. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit anak-anak yang menggandrunginya. Marine menyebut, peminat Arkiv, The Beat Boxer, Cikcuk, Jouwe, The Yellow Dino tidak hanya berasal dari Indonesia. Tak sedikit penggemar art toys dari Amerika Serikat yang menjadi peminat karakter- karakter ini.

Hendromasto, Salihara.


PELUNCURAN ART TOYS
We Are Resin
Arkiv Vilmansa, Brian Harsanto, Cikcuk, Marine Ramdhani, Yudi Andhika
Gerai Salihara | 17 Desember 2011, 17.00 WIB.

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.