Wajah Baru Rasa Lama Trafficking



Diskusi trafficking
Trafficking sudah ada sejak zaman nabi. Sepanjang perjalanan sejarah dan sependek ingatan manusia, trafficking telah berganti rupa dengan segala bentuk-bentuk baru. Bagi perempuan, pergantian wajah trafficking di tiap zaman pada dasarnya tetap saja meninggalkan satu ciri penindasan yang konstan. Penindasan terhadap perempuan tetap eksis walau zaman telah berganti.

Kebangkitan kaum perempuan di berbagai belahan dunia sepanjang beberapa dekade terakhir tidak lantas menempatkan mereka benar-benar bebas dari ketidakadilan. Keberadaan pemimpin perempuan dalam struktur Negara juga tak memberi jaminan perempuan bisa lepas dari ketidakadilan. Malah, tak sedikit pemimpin perempuan yang masih mengalami gegar gender hingga berlaku tak adil kepada sesama perempuan.

’’Dunia telah berubah dengan cepat. Ada struktur sosial dan struktur ekonomi baru dengan para kapitalis baru dan proletar baru. Tapi, jejak patriarki masih tetap ada dalam struktur apa pun yang baru itu,’’ tandas Zillah Eisenstein dalam diskusi Trafficking Gender dari Bronx ke Jakarta di Serambi Salihara, Rabu (11/01) lalu. Bersama feminis asal Solo, Dewi Candraningrum, Eisenstein mengupas peran dan posisi perempuan di dunia saat ini.

Eisenstein selama ini dikenal produktif menulis buku yang melacak kebangkitan neoliberalisme di Amerika Serikat dan juga di seluruh dunia. Dia mendokumentasikan kematian demokrasi liberal dan mempelajari tumbuhnya globalisasi imperialisme dan militerisme. Eisenstein juga telah menulis tinjauan kritis tentang serangan atas tindakan afirmatif (affirmative action) di Amerika Serikat, bias maskulin di bidang hukum, krisis kanker payudara dan AIDS, rasisme dalam patriarki dan penstrukturan patriarki dalam ras, nasionalisme baru, dan multikulturalisme dalam korporasi.

Diskusi traffickingBuku-bukunya yang terbaru antara lain The Audacity of Races and Genders: A Personal and Global Story of the Obama Election (2009); Sexual Decoys, Gender, Race and War in Imperial Democracy (2007); Against Empire, London (2004); ManMade Breast Cancers (2001); Hatreds: Racialised and Sexualised Conflicts in the 21st Century (1996); Global Obscenities: Patriarchy, Capitalism and the Lure of Cyberfantasy (1998).

Eisenstein yang menyandang gelar Profesor Ilmu Politik di Ithaca College di New York ini mengingatkan, perubahan struktur sosial dan ekonomi yang terjadi mau tak mau harus diikuti oleh perubahan atau penyesuaian dinamis pola gerak para aktivis perempuan. Ada tiga hal penting yang dia tekankan agar keberadaan perempuan tidak lantas terlindas dan makin tertindas oleh perubahan struktur sosial dan ekonomi.

’’Perlindungan terhadap perempuan, pemenuhan hak bagi perempuan dan kreativitas kemanusiaan adalah tiga hal yang harus selalu diperhatikan dalam perubahan-perubahan tersebut,’’ tegas Eisenstein. Tiga hal tersebut wajib selalu menjadi perhatian mengingat dalam perubahan-perubahan yang kini terjadi, ketiganya sering tertinggal. Atas nama perlindungan terhadap perempuan, para perempuan malah dikekang. Atas nama pemenuhan hak perempuan, ekspresi kebebasan mereka malah terpasung. Dan hanya dengan kreativitas kemanusiaan saja keduanya bisa lebih terjamin semestinya dalam sebuah perubahan struktur sosial dan ekonomi.

’’Perubahan struktur sangat nyata. Lihat saja, banyak orang kaya baru. Banyak kelas menengah baru dan proletar baru. Perempuan ada di dalam semua kelas itu. Dan celakanya, jejak-jejak khas patriarki tetap langgeng,’’ sambung Dewi. Dia memberi contoh keberadaan pekerja domestik rumah tangga di Indonesia. Sampai saat ini, mereka masih belum diakui sebagai pekerja formal. Dalam pekerjaannya, pemenuhan hak atas mereka juga sering luput. Ketidakadilan juga menjadi menu harian mereka. Padahal, di tempat kerja mereka, tentu ada perempuan yang bisa jadi sebenarnya paham tentang hal-hak perempuan. Dewi menyebut banyak orang kaya baru di Indonesia yang banyak menggunakan jasa pekerja domestik rumah tangga dan banyak berlaku tak adil hingga tak memberi perlindungan.


Hendromasto, Salihara

Tulisan ini dimuat juga di Jawa Pos, Minggu 15 Januari 2012

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.