
RABI’AH al-‘Adawiyah boleh jadi tidak setenar para sufi lain seperti Jalaluddin Rumi, al-Ghazali, dan Abdul Qadir al-Jaelani. Namun, walau tidak sekondang sufi lain, bukan berarti Rabi’ah tidak mendapat tempat dalam kalangan pegiat tasawuf. Rabi’ah al-‘Adawiyah sering disandingkan dengan sufi-sufi perempuan lain yang sering tertukar karena namanya mirip seperti Rabi’ah binti Ismail yang menikah dengan Ahmad bin Abi Hawari. Pembeda utama Rabi’ah al-‘Adawiyah dengan sufi perempuan, juga para sufi laki-laki lain, adalah tasawuf cintanya kepada Sang Khalik.
Rabi’ah al-‘Adawiyah menempatkan relasi antara manusia dengan tuhannya dalam sebuah hubungan percintaan. Ibadah kebanyakan orang, secara sadar atau tidak, banyak hadir dalam bentuk relasi hamba dengan tuan. Memohon, meminta, mengharap dan segala macam penempatan diri layaknya seorang hamba kepada tuannya. Tak sedikit pula yang membangun relasi dengan tuhannya bak seorang pedagang. Karena sudah melakukan suatu pekerjaan, maka terobsesi mendapat imbalannya. Padahal, sudah semestinya hubungan antara sang pencipta dan ciptaannya bersih dari pamrih.
Rabi’ah yang hidup semasa dengan kisah 1001 Malam menyodorkan bentuk lain relasi manusia dengan tuhannya. Bukan lagi sekadar ibadah yang sarat dengan relasi timbal balik khas hamba atau pedagang. Rabi’ah menyorong mahabah sebagai bentuk relasi antara manusia dengan tuhannya. Dalam mahabah, hubungan antara manusia dengan tuhannya tidak lagi dikangkangi oleh pamrih-pamrih duniawi. Relasi transenden dalam mahabah tidak lagi memusingkan tindakan atas nama ketaatan ini akan menghasilkan imbalan. Mahabah lebih menekankan kecintaan manusia kepada penciptanya.
Kecintaan itu mesti tulus setulus-tulusnya. Setulus cinta agape yang tak berharap timbal balik dalam bentuk apa pun dan apa pun akibatnya. Bukan seperti percintaan eros yang masih menyelipkan harapan timbal balik dan nafsu atau percintaan philia dengan tuntutan kesamaan rasa. Rabi’ah dalam satu syair cintanya sempat menegaskan jika ibadah cinta yang dia lakukan ingin menghindar dari neraka, maka dia mempersilahkan Tuhan melemparkan dirinya ke neraka. Begitu juga jika apa yang dia lakukan karena berharap surga, dia malah meminta Tuhan agar surga itu dijauhkan dari dirinya.
Mahabah Rabi’ah dan kisahnya inilah yang menjadi napas dari buku bertajuk Syahadat Cinta Rabi’ah al-‘Adawiyah. Buku karangan Mohamad Guntur Romli itu pada Rabu (18/01) lalu menjadi bahan perbincangan dalam acara Musyawarah Buku di Serambi Salihara. Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia dan ahli tasawuf Luqman Hakiem menjadi pembicara dalam acara tersebut. 
’’Pilihan Rabi’ah al-‘Adawiyah untuk menjadi seorang sufi sama sekali tidak mudah. Dia hidup pada masa golden age Islam di mana hedonism mulai marak dan dia tak mau masuk ke dalam hedonisme dengan memilih hidup sebagai seorang sufi,’’ kata Musdah Mulia. Musdah memberi catatan bahwa buku Syadahat Cinta Rabi’ah al-‘Adawiyah menjadi sebuah tamparan bagi kehidupan beragama pada umumnya di Indonesia yang masih banyak terjebak pada kesalehan-kesalehan normatif.
’’Banyak dari kita yang merasa sudah religius karena setiap malam menjalankan salat sementara tidak peduli dengan tetangga yang untuk makan saja kesulitan,’’ kata Musdah. Celakanya, tambah dia, kesalehan normatif semacam itu telah terlembaga sedemikian rupa akibat metoda ajar pengajaran agama baik secara formal maupun informal. Pendidikan agama saat ini di Indonesia masih lebih banyak terfokus pada persoalan-persoalan bagaimana menghapalkan ayat atau doa tanpa giringan untuk mengamalkan ayat dan doa itu sendiri dalam keseharian.
’’Gagasan mahabah berupa pendekatan kepada Tuhan melalui cara mencintainya yang diusung Rabi’ah al-‘Adawiyah dengan sendirinya akan menutup ruang-ruang dalam diri akan cinta kepada persoalan lain selain Allah. Tidak ada lagi cinta kepada partai, materi dan hal-hal duniawi lainnya,’’ beber Musdah. Dia menyebut tulisan Guntur Romli dalam Syahadat Cinta Rabi’ah al-Adawiyah bisa menjadi sumber alternatif masa depan kehidupan beragama yang selama ini lebih banyak berbasis pada aspek fiqih saja.
Musdah menyebut, sampai saat ini sebagian besar pemahaman agama di Indonesia memang masih berbasis pada aspek fiqih semata hingga menyebabkan pemahaman terhadap esensi agama sering luput. Padahal, fiqih sebenarnya adalah instrumen untuk mengenal esensi dari ajaran agama. ’’Kebanyakan kita mengenal Islam dari aspek fiqhiyah. Sangat elementer dan sifatnya masih kulit. Belum pada esensi. Itu pun, sebagian dari kita sudah mengklaim sebagai pemilik surga. Apa nggak aneh?’’ kata Musdah yang lantas menegaskan esensi dari agama adalah terbentuknya kehidupan religius dan kemudian menjadikan manusia peduli terhadap persoalan kemanusiaan.
Luqman Hakiem yang menjadi pembicara kedua dalam Musyawarah Buku Syahadat Cinta Rabi’ah al-‘Adawiyah punya pandangan sendiri terhadap sufi perempuan itu. ’’Rabi’ah al-‘Adawiyah sering dianggap sebagai sufi pertama yang mengangkat tema cinta. Sebenarnya, tema cinta sudah sangat sentral sejak zaman nabi. Kemunculannya berbarengan dengan tema-tema tasawuf lainnya,’’ ujar Luqman.
Luqman menegaskan, cinta dalam mahabah Rabi’ah al-‘Adawiyah bukanlah sebuah diktum tentang cinta dalam arti romantisme semata. ’’Rabi’ah mungkin menjadi ikon cinta dalam dunia sufi. Tapi, tetap perlu diingat bahwa cinta yang Rabi’ah al-‘Adawiyah usung bukan sekadar romantisme saja, namun kondisi yang disebut fana’, hanyut dan melebur dalam Ilahi ,’’ tegas Luqman. (*)
Hendromasto, Salihara
Antara Ibadah dan Mahabah Rabi’ah al-‘Adawiyah
24 Januari 2012
| (0 view)
English







Discussion 0 Comments