Bukan Jazz Biasa

 

JIKA dulu musik jazz memiliki citra sebagai genre musik yang “eksklusif” dan hanya bisa dinikmati segelintir orang, maka kini ia mengalami perubahan. Musisi jazz bermunculan dan beragam pertunjukan jazz di Indonesia, dari yang berskala kecil sampai yang internasional, semakin sering diselenggarakan dan dipadati pengunjung. Menyambut pergantian tahun, Komunitas Salihara turut meramaikan kancah musik jazz dengan menyelenggarakan pertunjukan jazz yang tidak menggunakan format band biasa—di luar perpaduan gitar, bass, trompet, dan drum.

Empat musisi yang tampil dalam rangkaian program Jazz Buzz adalah nama-nama yang sudah tak asing lagi di dunia jazz Indonesia: Dony Koeswinarno, Tohpati Ario Hutomo, Bintang Indrianto, dan Dewa Budjana. Mereka juga dikenal banyak melakukan penjelajahan dalam komposisi musik dan aransemen. Untuk Jazz Buzz ini, keempat musisi itu akan tampil dengan berbagai bentuk dan karakter musik jazz menggunakan instrumen yang jarang dipadukan dalam genre musik ini; seperti gitar dan cello, atau marimba dan kontrabass. Format band yang eksperimental ini juga menuntut para musisi membawakan karya-karya baru yang dibuat khusus untuk tiap pertunjukan, sehingga akan tampil berbagai warna dan suara jazz yang unik dan berbeda dari yang biasa dipentaskan.

donny koeswinarno

Malam tadi, Dony Koeswinarno sudah mengawali Salihara Jazz Buzz. Malam ini, giliran Tohpati Ario Hutomo yang meramaikan Salihara Jazz Buzz.

Dalam pertunjukan ini, Dony Koeswinarno tampil bersama kelompok musik yang ia dirikan: Telon. Dibentuk pada awal 2010, kelompok ini memainkan karya sendiri yang mengandung beragam unsur musik. Para musisi yang terlibat memiliki latar belakang musik berbeda-beda sehingga karya yang dihasilkan kelompok ini banyak meramu dan mencampurkan beragam unsur musik dan bebunyian.

Trio ini membawakan musik yang berlandaskan pada melodi jazz, sambil memberi warna baru dengan melodi etnik Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa. Hal ini bisa dilihat dari instrumen yang dipilih—bunyi vibrafone, misalnya, bagi Dony memiliki asosiasi dengan bunyi gender, alat musik tradisional Jawa. Dony yang memainkan flute/saksofon berkolaborasi bersama Muhammad Adriansyah dengan vibrafonenya dan Indrawan Tjhin sebagai pemain kontrabass.

tohpati

Beda lagi dengan Tohpati Ario Hutomo yang tampil malam ini. Tohpati Ario Hutomo adalah seorang penulis lagu dan gitaris jazz yang karyanya banyak memadukan unsur-unsur musik modern dan tradisional Nusantara. Tohpati pernah menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Festival Band se-DKI pada usia 14; dan pada 1989 ia terpilih menjadi Gitaris Terbaik Festival Band se-Jawa. Pada tahun yang sama, ia juga mendapatkan gelar Gitaris Terbaik dalam Yamaha Band Explosion tingkat Nasional. Tahun 1993, ia bergabung dalam grup Simak Dialog yang beranggotakan Riza Arshad, Arie Ayunir, dan Indro Hardjodikoro. Bersama Simak Dialog, Tohpati telah merilis tiga album: Lukisan, Baur, dan Trance/Mission. Selain itu, Tohpati juga tergabung dalam Trisum bersama Balawan dan Dewa Budjana; dan juga dalam Tohpati Ethnomission—didirikan pada 2009 dan merupakan proyek untuk mengusung kolaborasi antara instrumen musik tradisional dengan yang modern.

Dalam pertunjukan ini, instrumen gitar akan mengisi bagian akustik sedangkan cello akan lebih memainkan efek perkusif. Duo ini membawakan sejumlah komposisi baru yang dibuat khusus untuk pertunjukan ini, selain memainkan komposisi lama yang diaransemen ulang. Melodi jazz akan tetap mendominasi keseluruhan karya yang dibawakan kali ini. Tohpati akan membawakan komposisi jazz bersama Dimawan Kresno Adji yang memainkan cello. (*)

Hendromasto, Salihara

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.