Improvisasi dalam jazz bukanlah barang haram dan bukan perkara mudah. Dalam jazz, improvisasi akan melapangkan jalan munculnya kesegaran-kesegaran bagi jazz itu sendiri. Kesegaran tersebut tentu juga mengakomodir unsur-unsur. kekinian dan kebaruan, bukan sekadar mengulang yang pernah ada.
Pemilihan format ensemble yang tak biasa digunakan dalam memainkan jazz juga bisa menghasilkan sebuah kesegaran dan sesuatu yang lain.
Sebuah trombone yang dimainkan dengan cara tak biasa dalam sebuah komposisi sarat improvisasi oleh Vinko Globokar misalnya. Improvisasi yang dia lakukan dan kemudian dia usung dengan nama Free Jazz adalah sebuah contoh betapa improvisasi dalam jazz terbukti menghasilkan karya-karya segar. Vinko dengan Free Jazz-nya kemudian dikenal sebagai salah satu musisi dalam sub genre jazz, avant garde jazz.
Komposisi yang lain dari kebanyakan komposisi hasil improvisasi juga ditunjukkan oleh Jen Shyu. Penyanyi dan musisi keturunan Taiwan-Timor Timur yang lahir di Illinois dan kemudian berakttivitasdi New York ini memiliki sederet karya tak biasa dengan kesegaran tersendiri. Pada beberapa nomor komposisi dalam album Jade Tounge misalnya. Shyu tidak hanya melakukan improvisasi pada musik, tapi juga pada cara menyanyinya. Gaya menyanyi khas Tiongkok Shyu sandingkan dengan improvisasi musikalitas, termasuk menggunakan alat musik tradisional Tiongkok. Hasilnya adalah komposisi-komposisi jazz yang sangat segar dan beda.
Improvisasi dengan menggunakan karya yang sudah ada kemudian ditafsir ulang sedemikian rupa juga bisa menghasilkan kesegaran dan kekinian yang kental. Jaques Loussier dengan improvisasi jazz pada karya-karya Bach misalnya. Art Ensemble of Chicago yang banyak disebut sebagai salah satu tonggak avant garde jazz dan menyebut karya-karyanya sebagai sebuah ancient to the future juga menjadi contoh tentang improvisasi yang merujuk masa lampau bisa berbuah kesegaran.
Dalam Salihara Jazz Buzz, para musisi akan menggunakan format mixed ensemble yang tak biasa atau jarang digunakan. Tentu akan ada kesegaran lain yang dihasilkan dari mereka.
Dony Koeswinarno yang tampil bersama Telon misalnya. Bersama kelompok musik yang dia dirikan itu, Dony mencoba menemukan kesegaran jazz melalui munculnya unsur-unsur melodi etnik Indonesia. Saxophone, vibraphone dan kontra bass adalah tiga alat yang Dony gunakan bersama Telon untuk mendapatkan nuansa suara-suara baru. Termasuk suara dari vibraphone (mallet instrument) hingga mendapatkan bunyi mirip gender dalam gamelan Jawa.
Beda lagi dengan Tohpati Ario Hutomo. Gitaris ini memilih gitar akustik dan midi bersama cello. Gitar akustik dengan midi jelas memberi ruang untuk mendapatkan suara-suara tak biasa dan celah keluwesan berimprovisasi. Cello yang digunakan untuk mendampingi gitar akustik juga bukan hanya hadir sebagai pelengkap. Penggunaan cello dengan teknik tertentu akan menghasilkan suara yang tidak biasa dan berguna untuk mewujudkan komposisi segar dan lain.
Cara yang tidak biasa untuk mendapatkan kebaruan jazz dilakukan oleh Bintang Indrianto. Bintang mengusung puluhan penyanyi koor dalam karyanya kali ini. Bintang juga menghadirkan unsur-unsur teatrikal. Sedikitnya, ada tujuh scene di atas panggung yang akan Bintang tampilkan. Perpaduan unsur teater dan paduan suara tersebut Bintang balut dengan komposisi-komposisi yang menggunakan bass, keyboard, gender, dan seruling.
Improvisasi serius juga dilakukan Dewa Budjana untuk mendapatkan karya-karya komposisi jazz tak biasa. Dia mencoba menelisik dan mendapatkan kesegaran baru jazz dengan menggunakan perkusi, seruling, gitar, dan bass. Dengan format akustik, Budjana juga mengajak serta pesinden Sruti Respati dalam membawakan karya-karyanya kali ini. (*)
Tony Prabowo, Kurator Musik
English







Discussion 0 Comments