PENONTON sebuah pertunjukan tari modern biasanya akan duduk manis di bangku untuk menyaksikan para penari yang beraksi di atas panggung. Batas antara panggung, penari, dan penonton sangat tegas. Penonton tidak akan naik ke atas panggung, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, batas antara penonton dan penari tidak berlaku dalam Petals in the Crowd—Flowers of Lamentation Series II yang dibawakan oleh The ARTS FISSION Company yang berkolaborasi dengan kelompok seni dan desain :phunk (dua kelompok seni asal Singapura) di Teater Salihara 17—18 Februari lalu.
Koreografi garapan Angela Liong ini justru mendobrak batasan-batasan antara penonton dan penari di panggung—hal yang umum dalam tarian rakyat/tradisional di Indonesia. Penonton dibiarkan berdiri dan para penari bergerak luwes di antara penonton. Angela Liong punya alasan khusus mengapa sampai muncul ide memupus batas antara penonton dan penari itu.
’’Dalam sebuah pertunjukan, penonton sangatlah penting. Kami ingin melibatkan mereka lebih jauh tanpa tersekat oleh batasan-batasan formal pementasan yang selama ini ada,’’ katanya. Di luar itu, Angela punya alasan yang lebih bersifat filosofis. Penari di tengah penonton menjadi sebuah ketidakbiasaan seperti halnya sebuah tarian yang muncul di tengah keramaian. Menurut dia, ketidakbiasaan yang muncul dalam keseharian semestinya menjadi perhatian bagi orang-orang di sekitarnya.
Respons berupa perhatian atas ketidakbiasaan dalam suasana biasa seharusnya akan menghasilkan sebuah kehidupan yang lebih baik. Saat ini, banyak orang yang justru tidak mau tahu dengan ketidakbiasaan di sekitarnya hingga menjadikan kehidupan semakin buruk saja. ’’Kami tengah melempar sebuah ketidakbiasaan di situasi biasa. Jika kita terbiasa dengan ketidakbiasaan, kita akan memiliki rasa menghargai yang lebih. Tidak masa bodoh,’’ beber Angela. Dia menyebut, gerak berupa tarian di antara kerumunan orang atau penonton adalah sesuatu yang tidak biasa.
Puisi karya Ezra Pound, In a Station of the Metro (1913) dan puisi dari dinasti T’ang, Faces in Peach Blossoms diakui Angle menjadi inspirasi adanya hal-hal tidak biasa di tengah situasi biasa. ’’Seperti saat anda di sebuah terminal bus dan mendengar suara musik. Suara itu sebenarnya persoalan tidak biasa namun sudah menjadi hal biasa. Namun, tentu akan berbeda jika di sebuah terminal ada tarian,’’ katanya.
Dalam Petals in the Crowd—Flowers of Lamentation Series II, penonton dibiarkan begitu saja bergerak mengikuti susunan koreografi di tengah penonton. Panggung yang digunakan adalah juga lantai tempat penonton berdiri. Penonton dengan sendirinya bisa melihat sedekat-dekatnya detail gerak penari hingga mendengar jelas tarikan nafas para penari. ’’Para penari harus benar-benar memperhitungkan gerakan mereka agar tidak sampai menyentuh penonton. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dan harus dihitung dengan cermat, secermat hitungan matematika,’’ terang Angela.
Karya ini pada Agustus lalu sempat dipentaskan di Singapura. Angela mengakui bahwa konsep meniadakan batasa formal antara penonton dan penari dengan sendirinya membuat Petals in the Crowd—Flowers of Lamentation Series II selalu berbeda antara satu pementasan dengan pementasan lainnya. ’’Secara umum, koreografinya tentu sama. Tapi, untuk detail, kami tidak pernah bisa memastikannya sampai saat benar-benar saat mementaskannya karena sangat tergantung dengan situasi saat itu,’’ katanya.
Petals in the Crowd-Flowers of Lamentation Series II diiringi oleh musik langsung dari seorang disc jockey (DJ) dan permainan multimedia. Dua buah lentera berbahan kelambu tipis, yang lebih mirip kurungan, berukuran besar di pasang di tengah ruangan pementasan. Lentera kelambu tipis itu menjadi layar multimedia selain tembok ruangan. Gerak penari pada bagian awal sangat kental dengan ballet. Di tengah pementasan, gerak ballet semakin berkurang dan berganti dengan gerak spontan penari mengikuti dentuman musik DJ yang mirip dengan ramuan musik di tempat-tempat hiburan dunia gemerlap.
Penonton yang mendengar musik sang DJ secara otomatis akan ikut menggerakan tubuhnya. Minimal menganggukan kepala. ’’Musik live memegang peran penting dalam karya ini. Musik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang sudah akrab di telinga di mana pun anda berada. Suara yang familiar bersanding dengan tarian tidak familiar di tengah kerumunan orang,’’ tegas Angela.
Hendromasto Prasetyo, Salihara
Tarian Di Tengah Kerumunan
20 Pebruari 2012
| (0 view)
English







Discussion 0 Comments