Antara Shakespeare dan Bali


Lear Asia adalah sebuah lakon yang ditulis oleh Rio Kishida dengan mengacu pada King Lear karya William Shakespeare. Penulis lakon dan skenario film asal Jepang itu menampilkan perebutan kekuasaan dalam konteks budaya Asia. Di tangan Ignatius Arya Sanjaya dan Teater Studiklub Bandung, Lear Asia kembali ditafsirkan dengan menggunakan simbol budaya Bali sebagai pijakan artistiknya.

Lear Asia
Lear Asia dari STB lantas menjadi sebuah pertemuan antara lakon yang merujuk pada karya Shakespeare itu dengan kentalnya nuansa Bali. STB dengan lakon Lear Asia akan kembali dipentaskan di Teater Salihara pada 15-16 Juni setelah pentas terakhirnya di Bandung sekitar tiga tahun lalu.

’’Tidak ada idiom atau kultur tertentu yang muncul dalam naskah Lear Asia. Dia sangat terbuka. Teks naskah sangat puitis dan saya ingin mengimbanginya secara visual,’’ kata Sutradara STB Ignatius Arya Sanjaya. Berdasar naskah semacam itulah lantas dia memutuskan untuk mengusung Bali beserta segala simbol-simbol kebudayaannya sebagai pijakan artistik memanggungkan Lear Asia.

Di atas panggung, piranti artistik pementasan seperti kostum, musik, hingga karakter para tokoh sangat terasa Bali. Ada tokoh Raja yang diambil dari tari Jauk, Abdi Raja dari tari Baris, hingga Putri dengan merujuk pada Legong Kraton. Musik pengiring lakon juga berasal dari irama dan bunyi khas Bali walau tidak berasal dari alat musik pulau Dewata. ’’Saya tidak lantas memaksakan alat musik harus dari Bali,’’ sambung Ignatius.

Lear Asia berlisah tentang Putri Sulung merebut kekuasaan yang semula hanya dititipkan oleh Raja, ayahnya. Demi melancarkan niat busuknya, ia juga membunuh Putri Bungsu, adiknya, dan semua kekejian ini membuat sang ayah gila. Di akhir cerita Putri Sulung dikhianati oleh Panglima yang juga menjadi kekasihnya.

Pengkhianat terakhir ini pun disingkirkan dan membuat sang Putri hancur, kesepian, dan penuh curiga. Di samping bahasa yang puitis, lakon ini juga menampilkan kompleksistas jalinan cerita. Juga, tegangan antara kesetiaan dan pengkhianatan, darah dan kesucian, si sulung dan si bungsu, masa lalu dan masa datang. (*)

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.