Dari Burham Menjadi Pujangga

Kakek buyut Raden Mas Burham, nama kecil Ranggawarsita, adalah Pangeran Wijil dari lingkungan ulama Kadilangu, Demak Bintara. Beliau adalah pelestari Kitab Jayabaya Kidung, dengan menuliskannya kembali dari tradisi lisan. Jika silsilah Pangeran Wijil ini diteruskan ke atas lagi, ayah Pangeran Wijil adalah Tumenggung Tirtawiguna, kakeknya adalah Tumenggung Sujanapura, seorang  pujangga di Kraton Pajang. Yakni era Sultan Hadiwijaya (1580-an).

Tumenggung Sujanapura adalah putra dari Panembahan Tejowulan di Jogorogo (sekitar kota Sragen sekarang). Panembahan Tejowulan adalah putra dari Raden Arya Pamekas. Raden Arya Pamekas adalah putra dari Raden Patah atau Bagus Kasan atau Syah Alam Akbar 1. Bagus Kasan, atau Raden Patah, atau Pangeran Jinbun, ini adalah putra dari Prabhu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit.

            Keturunan dari Pangeran Wijil adalah Raden Ngabehi Yasadipura I. Raden Ngabehi Yasadipura I berputra Raden Ngabehi Yasadipura II pujangga di lingkungan Kraton Surakarta. Namun Yasadipura II ini juga seorang senapati tempur era perang sabilolah Dipanegara (1825-30). Beliau memimpin pertempuran di wilayah timur pesisir utara Jawa, bergelar Raden Tumenggung Sastranegara. Seusai peperangan, Tumenggung Sastranegara tertangkap oleh kumpeni dan dihukum mati di Batavia. Beliau dimakamkan dengan nama kecilnya—yakni Sayyid Abubakar—di kompleks pemakaman keramat Luar Batang, Jakarta.

            Sesungguhnya peran Mas Burham tak beda dengan ayahnya, Sayyid Abubakar,  maupun leluhur-leluhurnya. Nama Ranggawarsita berasal dari kata rangga-warsita. Rangga berarti senapati, panglima, komandan pertempuran. Warsita adalah wacana, wejangan, pengetahuan hidup, episteme. Nama ini secara langsung menunjukkan bahwa para pemimpin tanah Jawa mengubah strategi peperangannya melawan kumpeni. Selepas peperangan fisik di perang Jawa/Dipanegara, maka peperangan dengan kumpeni berubah bentuk menjadi peperangan pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa Mas Burham diberi gelar R Ng. Ranggawarsita, bukan Yasadipura III. Dan hal ini terbukti dengan bangkitnya semangat menuliskan kembali peninggalan pengetahuan Jawa. Bersamaan era atau masa dengan R Ng. Ranggawarsita adalah Kangjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IV (1809-81)[1] dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.

            Perlawanan epistemik ini diikuti pula dengan strategi para pemimpin tanah Jawa untuk mengirimkan ulama-cendikiawannya ke sekolah-sekolah di mancanegara. Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat, mengirimkan para ulama-cendikiawannya ke Mekah untuk menyempurnakan pengajaran dan penyebaran agama Islam. Di Mekah mereka membantu proses belajar-mengajar di Gedung Wakaf Mataram, sedangkan di tanah air mereka menyempurnakan pendidikan pesantren internal kraton. Daroel Oeloem di lingkungan Kraton Ngayogya dan Mambaoel Oeloem di lingkungan kraton Surakarta. Pura Mangkunegaran (Surakarta) dan Pakualaman (Ngayogya) mengirim ulama-cendikiawannya ke Nederland. Di sana mereka mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan western. Di tanah air, mereka merintis berdirinya sekolah-sekolah western bagi pribumi.

            Namun strategi kebudayaan peradaban Jawa (Nuswantara) ini sepertinya diketahui oleh kumpeni. Mereka menghadapi ekspansi pengetahuan tradisi ini dengan antisipasi berupa gerakan etische politiek. Yakni semacam gerakan “balas budi” semu, dengan mendirikan sekolah rendah untuk pribumi. Namun sifat sekolah ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai negri rendahan dalam lingkungan administrasi kumpeni. Kumpeni menembak mati R Ng. Ranggawarsita yang dianggap terlalu berbahaya bagi kolonialisme. Maka sang panglima peperangan pengetahuan Jawa itu gugur pada 24 Desember 1873, atau 5 Dulkangidah 1802 Jawa. Beliau mengikuti jejak ayahnya dan leluhur-leluhurnya sebagai rangga atau komandan pertempuran. R Ng. Ranggawarsita di makamkan di desa Palar, kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.(*)

 



 

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.