Susahnya Mendekati Ranggawarsita dengan Jinarwa Jawi

Susahnya Mendekati Ranggawarsita dengan Jinarwa Jawi

 

KULIAH umum Salihara bertema Islam dan Mistisme Nusantara Sabtu (29/07) lalu menampilkan Herman Sinung Janutama sebagai pembicara. Pegiat budaya tersebut mengupas tema Ranggawarsita, Islam dan Kejawen. Dalam kuliahnya, Herman menampik persoalan kelindan antara Islam dan religiositas Jawa dalam konsep pemikiran, juga dia sebut, ajaran Ranggawarsita.  Menurutnya, dalam pemikiran Ranggawarsita, Islam dan Jawa tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Namun begitu, Herman tegas menyebut pemikiran dan ajaran Ranggawarsita bukanlah sebuah sinkretik antara Jawa dan Islam.

’’Saya tidak menginjak ranah pikiran sinkretik. Karena ia merupakan persenyawaan atau intersep dua himpunan berbeda. Melainkan saya mengikuti cara pandang leluhur. Bahwa Islam sejak dulunya disampaikan ke seluruh dunia mengikuti asas “bi lisani qoumihi” tidak melulu harus kaku mengikuti “lisaanan arobiyyan mubin”. Jadi, ia mengikuti asas di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,’’ beber Herman. Berdasar pemikiran semacam itu, maka dalam lingkungan Jawa terdapat pepatah wong jawa panggone semu. Semu artinya qiyas, konversi substitutif. 

Lantas, untuk memahami persoalan Jawa, dalam hal ini Ranggawarsita, maka perlulah dilakukan pendekatan melalui konsep-konsep paramasastra atau jinarwa Jawi. ’’Inilah yang disebut alam kapujanggan Jawi. Di dalamnya terdapat banyak model operasi demi menggali maknanya (jinarwa),’’ katanya.  Beberapa model dalam jinarwa Jawi seperti jinarwa dasanama, jarwadhosok, kiratabasa, dan garba lantas Herman suguhkan kepada peserta kuliah umum. Mulai dari sejarah Ranggawarsita muda hingga menjadi pujangga, lengkap dengan menyinggung silsilahnya, sampai dengan pemikiran-pemikiran Ranggawarsita Herman sodorkan lewat pendekatan Jinarwa Jawi.

Tidak ada yang salah dengan jinarwa Jawi yang Herman suguhkan. Namun, memahami pasemon atau semu alias qiyas, adalah persoalan yang tidak sederhana. Ketidaktepatan menangkap pasemon akan berakhir pada ketidaktepatan-ketidaktepatan berikutnya. Ketidaktepatan itu Herman tunjukan pada penjelasannya tentang pangeran, ngabehi, dan nama Ranggawarsita. Menurut Herman, Pangeran dalam tradisi Jawa sama sekali berbeda dengan Lord atau Count di belahan benua biru. Lord atau count, menurut Herman, semata-mata berlandaskan kepentingan ekonomi dan politik si pemilik gelar. Sedangkan Pa-ngeger-an yang kemudian menjadi Pangeran dalam tradisi Jawa merujuk pada kata asalinya (ngenger) yang berarti mengabdi hingga lantas pangeran pada budaya Jawa diartikan sebagai tempat mengabdi.

Benar bahwa pangeran berasal dari kata ngenger alias mengabdi. Namun, jelas tidak tepat jika kemudian pangeran dan lord atau count dibedakan secara tajam. Seorang pangeran Jawa tidak hanya menguasai tanah, tapi juga cacah. Cacah adalah pembilang untuk menyebut jumlah manusia penggarap luas tanah berdasar karya, bukan meter persegi, are atau hectare seperti Jawa kini. Cacah yang berarti manusia alias abdi adalah penggarap tanah milik pangeran. Sebagian hasil garapan diberikan kepada pangeran untuk disetorkan kepada kerajaan. Abdi tidak hanya punya tugas mengolah tanah. Saat sang pangeran butuh dukungan untuk berperang, maka mereka menjadi pasukan organik yang diandalkan selain juga bisa menyewa tentara bayaran.

Begitulah alam pangeran Jawa pada masa lalu. Hasil garapan abdi yang disetorkan itu tiada beda dengan pajak. Artinya, antara pangeran Jawa dan Eropa sama-sama melandaskan tindakannya atas motif politik dan ekonomi. Perdebatan keras antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa saat Perjanjian Salatiga 1757 tentang bersaran karya dan cacah adalah contoh dari kemiripan pangeran Jawa dan Eropa.

Ketidaktepatan berikutnya Herman tunjukkan pada persoalan gelar dan nama. Menurut Herman, gelar Ngabehi pada nama Ranggawarsita memiliki kesamaan dengan Hangabehi yang lazim diperuntukan kepada kerabat raja yang dituakan. Pangeran Gusti Bendara Pangeran Hangabehi Sandiya, ulama sekaligus sosok yang dituakan oleh Pangeran Mangkubumi alias Hamengkubuwana I, Sultan Jogja pertama. Tidak salah jika Hangabehi adalah nama untuk mereka yang dituakan di kalangan kraton. Pakubuwana XIII, raja kraton Solo saat ini sebelum naik tahta menggunakan nama Hangabehi karena beliau adalah putra paling sepuh alias tertua dari Pakubuwana XII.

Namun, menyamakan Ngabehi dengan Hangabehi jelas tidak tepat. Ngabehi adalah gelar bagi abdi dalem kraton berpangkan Kliwon. Seorang Kliwon juga disebut sebagai Penewu, dari kata sewu atau seribu. Artinya, seorang Penewu memiliki bawahan sebanyak seribu orang atau memiliki pekerjaan yang tingkat kesulitannya setingkat dengan pekerjaan seribu orang. Di bawah Ngabehi atau Penewu ada Jajar atau Penatus, dari kata atus atau ratusan.  Jajar atau penatus biasanya bergelar Raden Mas, Raden atau hanya Mas. Ngabehi seperti Ranggawarsita jumlahnya sangat banyak. Sedangkan pangeran atau kerabat raja bernama Hangabehi sudah pasti tidak akan banyak.

Dalam ada kebiasaan kraton, nama seseorang akan berubah seiring kenaikan pangkatnya. Seorang Ngabehi tidak akan memiliki nama sama dengan Raden Tumenggung walaupun si pemilik gelar adalah orang yang sama. Sastranegara, kakek Ranggawarsita, setelah bergelar Raden Tumenggung namanya menjadi Yasadipura II, menggunakan nama ayahnya atau buyut Ranggawarsita, Yasadipura I. Andai saja Ranggawarsita sebelum meninggal naik pangkat menjadi Raden Tumenggung, tentu namanya bukan lagi Ranggawarsita dan tidak lagi bergelar Ngabehi. Baik Yasadipura I dan II bukanlah seorang panglima perang Kraton Solo. Mereka adalah para abdi dalem yang berugas dengan urusan Kapujanggan, sastra dan segala perniknya. Ayah dari Ranggwarsita juga memiliki nama yang sama dengan anaknya namun beda gelar atau beda pangkat. Memahami Jawa (daam hal ini Ranggawarsita) melalui jinarwa Jawi memang tidak mudah dan sederhana. Apalagi jika pendekatan yang sama digunakan untuk memahami persoalah ketuhanan. (*)

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.