Etika Jawa

 

Etika Jawa[1]
Oleh: Franz Magnis-Suseno[2]

Franz Magnis-Suseno 

Pengantar

  1. Etika Jawa bukan sebuah sistem eksplisit, melainkan sebuah pola kultural. Tidak ada “orang Jawa” secara murni. Seperti orang-orang lain, orang Jawa mengembangkan sikap-sikap etis berhadapan dengan tantangan yang ada, banyak di antaranya sudah tidak bergerak dalam kerangka tradisi Jawa.
  2. Akan tetapi, sesuatu dari pola kultural itu dapat diperkirakan masih, secara mendalam, mempengaruhi perasaan dan sikap-sikap—terutama sikap-sikap spontan—mereka yang menjadi besar dalam kebudayaan Jawa.
  3. Etika Jawa bukan sesuatu yang unik. Unsur-unsurnya terdapat dalam banyak—kalau bukan semua budaya di dunia—tapi dengan pembobotan yang berbeda. Dapat di­andaikan bahwa banyak unsur “etika Jawa” juga dihayati oleh budaya-budaya Indone­sia, khususnya yang dekat dengan Jawa.


[1] Makalah seri keempat Kuliah Umum Filsafat Etika dari Yunani Klasik hingga Jawa di Teater Salihara, 23 Februari 2013, 16:00 WIB. Makalah ini sudah disunting.

[2] Franz Magnis-Suseno, S.J. adalah Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Bukunya, antara lain, Etika Dasar (1987), Etika Jawa (1996), dan Menalar Tuhan (2006).

 

Selanjutnya Unduh Makalah

Discussion 0 Comments

Leave a comment


Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.