Siaran Pers Komunitas Salihara

Berkenaan dengan laporan terhadap Saudara Sitok Srengenge, salah satu kurator Komunitas Salihara

Selengkapnya

Panggung IPAM 2013 di Salihara

Komunitas Salihara menjadi salah satu tuan rumah ajang Indonesia Performing Arts Market (IPAM) 2013. Sejumlah musisi dan penari.

Selengkapnya

Menimba Ilmu Lukis Hanafi

Sahabat Salihara menggelar perjalanan bersama. Studio pelukis Hanafi di Meruyung, Depok, menjadi pilihan.

Selengkapnya

Indonesia Dilihat dari Timur Suatu Pendekatan Sosiologis

Suatu analisis sosiologis mengenai masyarakat Indonesia Timur perlu dikontekstualisasikan ke dalam kerangka berpikir kontestasi antara apa yang global dengan apa yang lokal.

Selengkapnya

Memandang Indonesia dari Timur Lima Catatan Reflektif dari Jendela Timur Rumah Indonesia

Suatu waktu di saat konflik seorang pengungsi katakan bahwa ia akan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan lirik yang sudah berubah

Selengkapnya

Panggung Malam Para Empu 1

Bienal Sastra Salihara 2013 merangkak mendekati puncak pada Sabtu (26/10) malam lalu. Malam itu digelar pembacaan sastra bertajuk Malam Para Empu 1.

Selengkapnya

Seri Zodiak dari Kelas Penulisan

Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif yang digelar Komunitas Salihara sebagai bagian dari Bienal Sastra Salihara 2013 menghasilkan 90 cerita dari para pesertanya.

Selengkapnya

Lakon Seusai Tsunami dan Krisis Nuklir

Terjangan tsunami di wilayah Jepang pada 11 Maret 2011 yang memantik krisis nuklir di Fukushima adalah titik tolak instrospektif bagi Hiroshi Koike tentang hubungan manusia dengan alam. Sutradara teater dan pertunjukan seni asal Jepang yang lama memimpin Pappa Tarahumara itu lantas berusaha menafsir ulang bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan alam, termasuk menyoal apa itu manusia dan posisinya di alam semesta. Bersama Hiroshi Koike Bridge Project, kelompok yang dibentuknya setelah membubarkan Pappa Tarahumara, ia menyuguhkan teater tari bertajuk The Restaurant of Many Orders di Teater Salihara, Sabtu-Minggu (19/20) lalu.

Selengkapnya

Kritik Sastra dalam Dua Kubu

Kritik sastra di Indonesia setidaknya telah berkembang sejak 1930-an ketika para sastrawan generasi Pujangga Baru mengerjakannya di beragam media saat itu. Dalam perkembangannya kritik sastra yang ada memang bukan melulu memperkenalkan karya kepada khalayak pembaca, seraya mencari kaitannya dengan kehidupan si pengarang dan konteks zamannya, tetapi juga medan bagi penerapan teori-teori sastra yang ada.

Selengkapnya

Kembang, Binatang, dan Serat Jaka Tingkir

Bienal Sastra Salihara 2013 menyuguhkan kehadiran kembang dan binatang dalam karya-karya Andina Dwifatma dan Mugya Syahreza Santosa. Bersama mereka tampil pula Brenda A. Flanagan, sastrawan sekaligus pengajar penulisan kreatif yang banyak meraih penghargaan di Amerik Serikat. Mereka bertiga tampil di Teater Salihara dalam pembacaan sastra bertajuk “Kembang dan Binatang”, Rabu (14/10) lalu. Bersama mereka turut tampil Sruti Respati dan Endah Laras yang menyuguhkan pembacaan Babad Jaka Tingkir di awal dan di akhir acara.

Selengkapnya

First  |  Previous |   5  6  7  8  9  10  11  12  13  14   | Next  |  Last  
Halaman 10/42

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.