Panggung Malam Para Empu 1

Bienal Sastra Salihara 2013 merangkak mendekati puncak pada Sabtu (26/10) malam lalu. Malam itu digelar pembacaan sastra bertajuk Malam Para Empu 1.

Selengkapnya

Seri Zodiak dari Kelas Penulisan

Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif yang digelar Komunitas Salihara sebagai bagian dari Bienal Sastra Salihara 2013 menghasilkan 90 cerita dari para pesertanya.

Selengkapnya

Lakon Seusai Tsunami dan Krisis Nuklir

Terjangan tsunami di wilayah Jepang pada 11 Maret 2011 yang memantik krisis nuklir di Fukushima adalah titik tolak instrospektif bagi Hiroshi Koike tentang hubungan manusia dengan alam. Sutradara teater dan pertunjukan seni asal Jepang yang lama memimpin Pappa Tarahumara itu lantas berusaha menafsir ulang bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan alam, termasuk menyoal apa itu manusia dan posisinya di alam semesta. Bersama Hiroshi Koike Bridge Project, kelompok yang dibentuknya setelah membubarkan Pappa Tarahumara, ia menyuguhkan teater tari bertajuk The Restaurant of Many Orders di Teater Salihara, Sabtu-Minggu (19/20) lalu.

Selengkapnya

Kritik Sastra dalam Dua Kubu

Kritik sastra di Indonesia setidaknya telah berkembang sejak 1930-an ketika para sastrawan generasi Pujangga Baru mengerjakannya di beragam media saat itu. Dalam perkembangannya kritik sastra yang ada memang bukan melulu memperkenalkan karya kepada khalayak pembaca, seraya mencari kaitannya dengan kehidupan si pengarang dan konteks zamannya, tetapi juga medan bagi penerapan teori-teori sastra yang ada.

Selengkapnya

Kembang, Binatang, dan Serat Jaka Tingkir

Bienal Sastra Salihara 2013 menyuguhkan kehadiran kembang dan binatang dalam karya-karya Andina Dwifatma dan Mugya Syahreza Santosa. Bersama mereka tampil pula Brenda A. Flanagan, sastrawan sekaligus pengajar penulisan kreatif yang banyak meraih penghargaan di Amerik Serikat. Mereka bertiga tampil di Teater Salihara dalam pembacaan sastra bertajuk “Kembang dan Binatang”, Rabu (14/10) lalu. Bersama mereka turut tampil Sruti Respati dan Endah Laras yang menyuguhkan pembacaan Babad Jaka Tingkir di awal dan di akhir acara.

Selengkapnya

Memoar Masa Kanak dan Sang Liyan

Masa kanak punya beragam warna. Momen sedih dan gembira adalah bagian penting perjalanan seorang manusia menuju kedewasaanya. Tak peduli apakah pada saat dewasa nanti seorang anak menjadi tokoh atau bukan, masa kecil pada dasarnya adalah babak awal lembaran hidup menuju babak-babak berikutnya. Di pentas baca dan musik “Memoar Masa Kanak Para Tokoh” Bienal Sastra Salihara 2013, Minggu (06/10) lalu, Daoed Joesoef, Ahmad Syafi’i Maarif, Franz Magnis-Suseno dan Mochtar Pabottingi membagi kisah kanak-kanak mereka. Agam Hamzah dengan gitar akustiknya menjadi pembuka dan penutup pembacaan sastra malam itu.

Selengkapnya

Pembatalan Lokakarya Sirkus Sosial Pancatantra: Sirkus dan Dongeng

Kami kabarkan bahwa salah satu mata acara Bienal Sastra Salihara 2013, Lokakarya Sirkus Sosial Pancatantra: Sirkus dan Dongeng, yang rencananya akan berlangsung di Studio Tari, Anjung Salihara, Kamis-Sabtu, 24-26 Oktober 2013, dibatalkan.

Selengkapnya

Tentang Perdebatan Ide Tak Kunjung Purna

Seri kuliah Umum Bienal Sastra Salihara 2013 di Serambi Salihara Sabtu (05/10) lalu mengusung materi bertajuk Tanding Ide: Dari Polemik Kebudayaan hingga Sastra Kontekstual, dengan pembicara Hilmar Farid dan Sony Karsono. Sesuai judulnya, secara runut kedua pembicara menyampaikan perdebatan-perdebatan panjang di seputar sastra dari masa lalu hingga kini. Kedua pembicara senada menyebut pentingnya melihat latar di sekitar munculnya perdebatan-perdebatan ide tersebut. Mulai dari kehidupan politik hingga keadaan ekonomi.

Selengkapnya

Pembacaan Karya di Bienal Sastra Salihara

Bienal Sastra Salihara 2013 bertajuk “Sirkus Sastra” Sabtu (05/10) lalu menampilkan pembacaan karya sejumlah sastrawan. Tema karya yang dibacakan di Teater Salihara adalah Kota dan Yang Tersembunyi. Sastrawan Bamby Cahyadi, Deddy Arsya, Joko Pinurbo, dan Maria Peura (Finlandia) menjadi penampil secara bergantian. Selain pembacaan, rangkaian nada dari Risa Sarasvati ikut meramaikan acara ini.

Selengkapnya

Tiga Model Kritik Sastra

Kritik sastra memiliki fungsi penting bagi sastra di suatu masa dan dan perkembangan sastra di kemudian hari. Kritik yang kuat dan dalam dibutuhkan sebagai proses perkembangan sastra di masa berikutnya. Sebuah kritik ibarat pecut agar karya sastra merespons dengan menuju kebaruan-kebaruan yang dimaksudkan. Di Indonesia, kritik sastra muncul seiring generasi pengarang Pujangga Baru yang mencoba lepas dari pakem-pakem sastra tradisional menuju sastra Indonesia modern.

Selengkapnya

First  |  Previous |   7  8  9  10  11  12  13  14  15  16   | Next  |  Last  
Halaman 12/44

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.