Shop

Blog Title: 
PERTANGGUNGJAWABAN DEWAN JURI UNDANGAN TERBUKA HELATARI SALIHARA 2019
Blog Body: 

Kami menerima 35 proposal yang datang dari pelbagai kota di Indonesia—setelah masa penerimaan karya diperpanjang: Banda Aceh (1), Pariaman (1), Riau (1), Bangka Belitung (1), Lampung (1), Jakarta (9), Banten (1), Sukabumi (1), Bandung (6), Yogyakarta (2), Solo (4), Wonogiri (1), Klaten (2), Gresik (1), Bali (1), Balikpapan (1), Pontianak (1)

Melalui undangan terbuka Helatari 2019 kami hendak menjaring koreografer dan kelompok-kelompok tari yang anggotanya relatif muda (maksimal berusia 30 tahun). Tujuan kami adalah mendukung pertumbuhan bakat-bakat baru dalam dunia tari Indonesia. Karya-karya yang masuk terdiri dari karya perdana dan karya lama.

Salah satu masalah yang kami hadapi dalam tahap pertama penjurian adalah tertib administrasi. Meski menawarkan konsep yang menarik, beberapa dari pelamar kurang patuh terhadap persyaratan yang sudah ditetapkan. Terutama mengenai batasan umur, jumlah awak produksi maupun batasan usia tim produksi. Berdasarkan seleksi persyaratan administrasi itulah kami melanjutkan penilaian karya.

Sebagaimana batasan yang kami tetapkan yaitu garapan karya baru yang berangkat dari khazanah tradisi maupun kontemporer, 35 proposal yang masuk menawarkan pendekatan-pendekatan yang cukup beragam, misalnya tema-tema tentang realitas tubuh sebagai alat atau media utama. Ada pula konsep yang mengamati dan mengembangkan lebih lanjut motif tari tradisi, adaptasi kesenian rakyat hingga unsur budaya lokal dan kebiasaan setempat. Beberapa koreografer bahkan mencoba memaknai kembali filosofi adat suku tertentu. Selain itu ada yang memilih merespon isu kerusakan alam dan lingkungan, hingga isu sosial tentang interaksi manusia dengan teknologi yang menimbulkan pergeseran kultur atau masalah pertentangan yang menghasilkan keseimbangan dalam masyarakat. Kami harus berhadapan pula dengan pelamar yang ingin mengaplikasikan relasi dan fungsi dalam rumus matematika pada ketubuhan penari, sementara gagasan lain menciptakan analogi antara karakter dan proses pembuatan makanan khas suatu daerah yang membentuk citarasa dengan proses pengolahan karya tari.

Penilaian didasarkan pada ekspektasi atas karya yang akan dibuat dalam Helatari 2019 dengan bercermin pada karya-karya yang pernah dihasilkan sebelumnya. Sebagian besar mengambil aspek tradisi sebagai pijakan dasar, namun amat disayangkan bahwa para koreografer tersebut kurang menggali lebih jauh unsur kebaharuan dalam berkarya; motif gerak, ritme dan pola lantai yang klise menghasilkan komposisi yang kurang menggigit. Fenomena ini terjadi juga untuk karya kontemporer yang tidak berangkat dari tradisi.

Akhirnya, kami memilih nama-nama berikut ini—yang diurutkan secara alfabetis—sebagai pemenang Undangan Terbuka Helatari Salihara 2019 dan akan tampil dalam Helatari Salihara yang akan berlangsung pada Juni-Juli 2019:

 

Anis Harliani Kencana Eka Putri dengan karya berjudul HOLY BODY (durasi 20 menit)

Karya tari ini adalah proses riset koreografi berkelanjutan. Gagasannya berasal dari pengamatan koreografer tentang situasi ‘tari pesanan’ di kota asalnya yang cenderung mensyaratkan bentuk dan ukuran tubuh ideal dengan maksud agar penari perempuan dapat dengan mudah diangkat dalam gerakan ‘lifting’, selain juga karena efek estetis yang memuaskan tatapan mata pemirsa. Kegelisahannya berlanjut ketika ia melakukan praktek latihan ‘squat’ untuk menurunkan berat badan, apalagi ia mulai jarang menerima panggilan ‘tari pesanan’. Situasi ini mulai memunculkan pertanyaan tentang ‘tubuh yang ideal’ dalam konteks estetika tubuh tari.

Eksperimen ini berawal ketika koreografer menyadari aktivitas tubuh pada saat melakukan ‘squat’ selama 20 menit. Tubuh lalu diandaikan sebagai sebuah kamera yang merekam dan mencoba menelusuri ‘biografi tubuh’. Ragam gerak yang berbeda dijadikan ide koreografi. Tujuan tubuh yang ideal dan gerak yang berulang menjadi temuan pertama yang kemudian ingin diperluas dengan menelusuri biografi tubuh sesama pelaku tari.

Ayu Permata Sari/Ayu Permata Dance Company dengan karya berjudul “X” (durasi 20-30 menit)

Ide koreografi “X” adalah pengembangan dari motif “samber melayang”, salah satu motif yang terdapat pada tari Sigeh Punguten, sebuah tarian dari Lampung yang merupakan tarian persembahan atau penyambutan untuk orang-orang terhormat. Berangkat dari motif-motif dasar “samber melayang”, koreografer menangkap esensi bertolak belakang dalam pola-pola tersebut (buka-tutup, kencang-kendor, perempuan-laki-laki, terang-gelap, bumi-langit dsb). Esensi tersebut dianggap sebagai sebuah keseimbangan dan sifat saling mengisi. Konsep karya ini cukup menantang karena dilakukan tanpa musik dengan kostum keseharian yang sederhana.

Eyi Lesar dengan karya berjudul AD INTERIM (durasi 25-30 menit)

Karya ini mengangkat tema perbedaan dan sifat bertolak-belakang yang menjalin harmoni keseimbangan hidup. Seorang penari tunggal atau duet akan berkolaborasi dengan musisi yang menggunakan teknologi sensor gerak. Ekspresi yang dihasilkan merupakan perpaduan antara gerak, musik dan tata cahaya.

Para pemenang Undangan Terbuka Helatari Salihara 2019 akan dihubungi Komunitas Salihara untuk proses kontrak dan lain sebagainya.

Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat.

 

Jakarta, 25 Februari 2019

 

Dewan Juri

Tony Prabowo

Nirwan Dewanto

Ening Nurjanah

 

Blog Image: 
Blog Type: