Shop

Blog Title: 
Wajah Baru Teater
Blog Body: 

Didi Petet, Alex Komang, Butet Kertaradjasa, Christine Hakim, Slamet Rahardjo--sekadar menyebut beberapa nama--adalah beberapa dari sekian banyak aktor yang berangkat dari dunia teater. Dua nama terakhir lahir dari Teater Populer, grup teater modern Indonesia yang dibentuk oleh Teguh Karya, sutradara terkemuka di era 1970-1980an.

Dalam perkembangan teater di Indonesia, aktor juga punya kontribusi yang penting, di samping nama-nama sutradara atau pendiri grup teater seperti W.S. Rendra di Bengkel Teater, Arifin C. Noer di Teater Ketjil, Putu Wijaya di Teater Mandiri, Nano Riantiarno di Teater Koma dan lain-lain. Karena aktor yang secara langsung berhadapan dengan publik teater.

Zaman berganti, tetapi teater terus melahirkan aktor-aktor penting. Untuk nama-nama yang lebih kemudian kita mengenal Sha Ine Febriyanti, Sita Nursanti, hingga Rendra Bagus Pamungkas dan Putri Ayudya yang pernah bermain di film Wage.

Mereka yang berangkat dari teater, selain mampu memerankan banyak karakter, juga sangat leluasa menguasai panggung dan penonton. Jika anda menyaksikan Monolog Sutan Sjahrir di Teater Salihara tahun lalu, anda bisa melihat keterampilan Rendra Pamungkas memerankan Sutan Sjahrir, setelah sebelumnya ia sukses memerankan W.R. Supratman dalam film Wage.

Aktor yang lahir dari teater punya jalan proses berbeda dengan mereka yang tumbuh langsung dalam dunia film. Para aktor teater harus mempersiapkan pertunjukan hingga berbulan-bulan sebelum pementasan, dari proses membaca naskah (reading) hingga blocking. Tidak ada proses pemotongan (cut) apabila seorang aktor lupa teks dari naskah, serta tidak ada proses penyuntingan (editing) seperti halnya film. Teater adalah peristiwa langsung, “kini dan di sini”. Teater kuat dalam proses. Hal itulah yang menarik ketika menonton teater.

Sebagai generasi hari ini tentu kita bertanya-tanya, siapakah teater dari generasi hari ini yang bisa ditonton?

 

Perkembangan Teater Hari Ini

Menariknya, perkembangan teater di Indonesia hari ini mengarah kepada dua kutub yang seakan bertolak belakang: realis dan nonrealis. Realis menonjolkan seni peran, seorang aktor memerankan karakter secara wajar sesuai naskah. Sementara istilah yang kedua lebih menampilkan eksplorasi (atau koreografi) tubuh aktor yang kadang tidak mudah diterima dan kian menjauhi nalar realisme.

Teater realis bertopang pada naskah yang kuat dari alur cerita sampai penokohan. Kita bisa mempelajari perkembangannya dari naskah-naskah Yunani klasik hingga kontemporer Barat. Sementara nonrealis adalah serangkaian aksi yang melayani hasrat purba tubuh untuk “mengatakan sesuatu”, yang populer juga dengan sebutan “teater tari” (tanztheater).

Yang jadi pertanyaan kita bersama adalah apakah istilah yang kedua didukung oleh pembacaan kritis dan meluas terhadap khazanah teater yang ada, baik dalam khazanah nasional maupun internasional? Dengan perkembangan tersebut, apakah seni peran dalam teater akan tamat?

 

Helateater Salihara

Komunitas Salihara hendak melahirkan bakat-bakat baru dalam teater dan seni peran. Selain mengadakan Kelas Akting Salihara setiap tahun, kami juga mengadakan Undangan Terbuka (Open Call) yang membuka kesempatan bakat-bakat baru teater Indonesia (di bawah usia 35 tahun) untuk tampil dalam program Helateater Salihara 2019.

Empat kelompok terpilih tahun ini adalah Padepokan Seni Madura (Sumenep), Forum Aktor Yogyakarta, Teater Pintu (Jakarta) dan Teater Gedor (Bandung). Mereka akan mengadaptasi naskah-naskah karya Eugene O’neill, Harold Pinter, Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero ke dalam konteks budaya dan sosial daerah tertentu di Indonesia. Padepokan Seni Madura, misalnya, akan memindahkan peristiwa di dalam naskah yang terjadi di Spanyol ke dalam budaya lokal di Sumenep, Madura.

Menonton teater yang dipentaskan oleh generasi hari ini sesungguhnya adalah menyaksikan bagaimana teater akan tumbuh dan berkembang di kemudian hari. Zaman berganti, tentunya publik teater juga akan ikut berganti. Helateater adalah ajang bagi anak muda berkreasi.

Di era pasca-kebenaran (post truth) seperti hari ini, menonton teater dapat juga membantu kita melihat realita di luar keseharian kita. Melalui kewarasan dan kegilaan, serta interaksi dan peristiwa yang dibangun oleh para aktor di atas panggung, kita turut serta mengalami semua hal tersebut secara langsung. Dari hal itu pula, tentunya akan membuat kita lebih cerdas di dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat menyaksikan Helateater Salihara 2019.

Blog Image: 
Blog Type: