Serambi Salihara

Pembicara: Danisworo dan Suryono Herlambang
Moderator: Marco Kusumawijaya
Terbuka untuk umum
Pendaftaran selambatnya 20 Juli 2010, melalui dita@salihara.org

event/diskusi/arsitektur-kota_featured.jpg

Gagasan kota modern di Indonesia bermula di zaman Soekarno. Tahun 1960-an menyaksikan berdirinya Hotel Indonesia, Sarinah, Senayan, Masjid Istiqlal, dan pelbagai gedung lainnya selaku elemen kota. Pemerintahan Soeharto yang ditandai dengan masuknya kapital berskala besar kemudian meneruskan pembangunan kota secara lebih intensif dan ekstensif. Mal, apartemen, dan superblok mulai tumbuh dan sekaligus memindahkan sejumlah aktivitas  ke dalamnya. Sementara itu pemerintah Orde Baru juga mencoba menempatkan identitas pada unsur-unsur kota. Contohnya adalah pembangunan Bandara Soekarno-Hatta dengan gaya tradisional, atau atap yang khas pada Stasiun Gambir.

Betapapun, yang sungguh mengejutkan adalah kondisi kota pasca-Reformasi 1998, yang tumbuh bak monster. Superblok yang dibangun para pengembang nampak makin masif dan menjangkau kawasan baru yang semula adalah pinggir kota. Ini juga mendorong dibangunnya kota-kota baru, atau kota-kota mandiri. Dan superblok kini tak lagi menampung dua atau tiga aktivitas, melainkan lebih dari sepuluh aktivitas sekaligus ke dalamnya, semisal menggabungkan hotel, apartemen, mal, tempat hiburan, tempat kebugaran, tempat ibadah, dan seterusnya . Fenomena kota masa kini, di mana produksi ruang terus diciptakan, menimbulkan perilaku baru para konsumen ruang, dalam hal ini warga kota. Tempat-tempat ibadah, ruang-ruang terbuka, dan lain sebagainya  yang semula berada di ruang-ruang publik, menyempit menjadi ruang-ruang terbatas, dan dimiliki orang per orang. Lalu, ke mana kota akan terus berkembang? Akankah ia menghadapi semacam khaos pada suatu hari?

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.