Mendaras Puisi
Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Joko Pinurbo, Remy Sylado
Teater Salihara | Terbuka untuk umum
Pendaftaran selambatnya 18 Agustus 2010, melalui dita@salihara.org
Iman adalah salah satu ilham utama dalam kesusastraan. Kerap kali sastrawan Nusantara digerakkan oleh tawaran kebenaran agama. Tapi agama tak selalu menjadi panglima atas karya. Sebagian penyair menghidupkan latar belakang agamanya sebagai bahan alamiah bagi sajak-sajaknya, tanpa pretensi berdakwah. Di sini, khazanah keagamaan pun lebih merupakan kekayaan ketimbang dogma. Dalam program bulan puasa ini, Komunitas Salihara menampilkan acara baca puisi oleh empat penyair papan atas Nusantara, yang menggarap tradisi keagamaan tempat mereka lahir dan tumbuh, tanpa menundukkan sastra di kaki panglima agama.
Acep Zamzam Noor lahir di keluarga pengelola Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Selepas SMA di lingkungan pesantren, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sebagai pelukis dan sastrawan, ia telah melanglang buana. Acep dikenal akan kelincahannya dalam menarikan tema-tema urban maupun pesantren, religius maupun sekular.
D Zawawi Imron mengalami pendidikan Sekolah Rakyat di era penjajahan, lalu melanjutkan ke Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep. Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilalang mengilhami sutradara Garin Nugroho membuat film layar lebar dengan judul sama. Ia mendapat beberapa penghargaan bagi karyanya yang sangat kental dengan religiusitas Islami tanpa kehilangan humor.
Joko Pinurbo pernah mengenyam pendidikan calon pastor di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Ia melanjutkan ke IKIP Sanata Dharma Yogyakarta Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Puisi-puisi Jokpin sarat dengan suasana keagamaan dalam ruang-ruang intim dan domestik, yang hadir dalam ironi.
Remy Sylado adalah seniman serba-bisa. Ia dikenang sebagai pelopor gerakan ”Puisi Mbeling” di tahun 70-an, suatu aliran puisi yang memberontak terhadap kaidah estetika sebelumnya. Ia mengenal bahasa-bahasa alkitab – Arab, Ibrani, Yunani – di Seminari Theologia Baptis Semarang, yang mengantarnya pada pemahamaan teks-teks religius. Meski demikian, ”mbeling” atau nakal dan menyempal selalu lekat dalam penggarapan khazanah keagamaan dalam karyanya.
English







Discussion 3 Comments