Instalasi

Festival Salihara 2010

Gajah dan Menapaki Jejak

Teater Salihara

 

Gajah dan Menapaki Jejak Dua pematung ini menggunakan dua material yang berbeda. Joko Dwi Avianto menggunakan bambu, yang identik dengan alam yang tumbuh seakan-akan tanpa campur-tangan teknologi, sementara Hedi Hariyanto menggunakan kaleng atau botol plastik bekas minuman ringan, yang merupakan hasil dari dunia industri (peleburan kaleng dan minuman ringan). Keduanya sama-sama menanggapi satu perubahan yang terjadi di sekitar kita. Alam yang terus dirangsek oleh industri dan, sebaliknya, industri yang terus-menerus mencoba memanjakan hidup kita. Joko yang lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini membangun gajah dari bambu yang dirancang sehingga berkelindan sedemikian rupa.

Tapi gajah dalam instalasi Joko adalah gajah yang mengalami pemiuhan sedemikian rupa. Ia menyerupai bayi jangkrik raksasa dengan belalai yang melengkung-kaku. Tubuhnya diekspose sehingga tampaklah jalinan bambu apus yang rumit sekaligus tertib. Pada bagian badan, terutama. Sementara kakinya tampak lurus-kaku, jauh dari kesan kaki gajah yang selama ini kita kenal. Pada akhirnya, yang lurus memang akan menyanggah yang ruwet dan berkelindan, dan keduanya sama-sama membangun tampakan luar yang menyihir mata.

Bambu adalah material yang telah dipilih pematung kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 1976, ini dalam sejumlah instalasi sebelumnya, di samping rotan, tali, dan kawat. Pada happening art Apa Ini, Apa Itu di Klungkung, Bali, 29-31 Desember 2009, Joko juga menggunakan bambu yang menghubungkan dua pohon kelapa di studio I Wayan Sujana Suklu. Bambu-bambu itu dirangkai sedemikian rupa membentuk keranjang yang membebat dua pohon kelapa yang berdekatan. Instalasi itu bukan hanya menyuratkan kekuatan tetapi juga keramahan terhadap alam.

Hedi
Sementara Hedi Hariyanto, yang pernah belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menampilkan instalasi seni judul Menapaki Jejak. Ia membuat terowongan berukuran 153 cm x 180 cm, seluruhnya dibangun dari kaleng-kaleng minuman ringan atau botol-botol plastik air mineral. Terowongan itu ada dua. Yang pertama sepanjang 308 cm dan yang kedua 410 cm. Di dalamnya ada semacam tangga di mana pengunjung bisa menapaki terowongan kaleng itu dan menikmati kekuatan rupa dari aneka kaleng yang disusun rapi—mengingatkan kita pada 100 Cans Andy Warhol. Pesannya cukup jelas. Dalam dunia kapitalisme mutakhir, kita sebenarnya meneruskan atau mengikuti apa yang telah ditempuh orang lain, terutama dalam soal mengonsumsi makanan dan minuman. Semua itu terjadi karena rayuan iklan, tentu saja.

Hedi Hariyanto yang lahir di Malang, 18 November 1962, selama ini dikenal sebagai pematung yang sangat peka terhadap persoalan sosial-budaya yang terjadi di Indonesia. Sejumlah instalasinya, sebutlah Where is My Mom merupakan kritiknya terhadap kebiasaan para bunda yang lebih suka memberikan susu bikinan pabrik ketimbang ASI -nya sendiri. Ia telah mencatatkan sejumlah prestasi penting dalam kariernya sebagai pematung. Misalnya, pada 1990 ia digelari Pematung Terbaik oleh kampusnya ISI Yogyakarta. Pada 2005 ia memenangi kompetisi monumen Kudus Kota Kretek di Kudus, Jawa Tengah.


Foto: Salihara/Witjak

Discussion 0 Comments

Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.