Tari - Festival Salihara 2010

Wiwiek Sipala (Makassar & Jakarta, Indonesia)

Akkarena Sombali (Pembukaan Festival)

Teater Salihara


Akkarena

Pakarena adalah tarian Makassar yang ditengarai telah berkembang sejak abad ke-14 Masehi. Ia berawal dari mitos perpisahan dewa-dewi penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi). Dewa-dewi itu turun dari kahyangan dan tinggal bersama penduduk bumi untuk mengajarkan manusia tata cara hidup, bercocok tanam, beternak, berburu, bermusyawarah, hingga bergotong royong. Saat perpisahan terjadi, para penghuni bumi menyampaikan terima kasih mereka melalui gerakan-gerakan yang sejak saat itu disebut Pakarena.

Gerakan-gerakan dalam Pakarena merupakan kontras antara musik yang rancak, ritmis dan dinamis, dengan gerakan yang lemah-lembut, pelan tapi tegas. Secara tradisional, pementasan Pakarena dimulai pada pukul 4 sore sampai subuh. Dalam pentas yang lengkap, para pemusik Pakarena memainkan tetabuhan Gandrang Pakarena yang lambat laun berganti sesuai dengan pergantian waktu. Pada awal pementasan, musik yang dimainkan cenderung riang gembira, bagian kedua (sampai menjelang tengah malam) cenderung kontemplatif, khusyuk dan syahdu, sementara bagian ketiga lebih tenang dan seolah penuh harapan menyongsong hari baru.

Pakarena terbagi atas 12 babak. Meskipun di tiap babak tampak gerakan yang nyaris sama, terkandung makna yang berbeda-beda. Gerakan pada posisi duduk menjadi pertanda awal dan akhir tarian ini. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik-turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

Akkarena Sombali adalah hasil pemaknaan ulang Wiwiek Sipala sejak pertama kali mendalami Pakarena pada 1963. Sombali yang berarti kembara, menyiratkan bentuk Pakarena yang merupakan gabungan dari sejumlah varian Pakarena yang telah dikenal luas, yang kemudian dilahirkan kembali sebagai tafsir baru, dengan memasukkan sejumlah unsur yang merupakan telaah pribadi. Ia adalah Pakarena yang sama, namun menjelma liyan karena dilahirkan di tanah lain.

*Acara ini khusus Undangan

Photo: PKJ / TIM

Discussion 1 Comments

  1. Fahrul says:
    Bagaimana cara mendapatkan undangan?
Leave a comment



Input Text Above

Please Wait

We are processing your request.

Please do not refresh this page.