Seri Kuliah Umum Filsafat
Pemikiran Hannah Arendt, Judith Butler, Seyla Benhabib & Ziba Mir-Hosseini
Teater Salihara | Rabu, 06, 13, 27, 28 April 2011 | 19:00 WIB
Terbuka untuk umum | Pendaftaran selambatnya 05 April 2011 melalui daftar@salihara.org
Demokrasi Kebebasan dan Kesetaraan Menurut Seyla Benhabib
Pembicara: Gadis Arivia (Dosen Filsafat Universitas Indonesia dan Pendiri Jurnal Perempuan)
Kamis, 28 April 2011, 19:00 WIB
Dalam kaitannya dengan program Dwibulan Perempuan, program kuliah di Komunitas Salihara menyuguhkan pemikiran dan gagasan dari para pemikir, filsuf, dan aktivis perempuan yang datang dari beberapa disiplin ilmu dan tradisi yang berbeda.
Hannah Arendt adalah seorang filsuf dan pemikir teori politik yang mengulas akar-akar totalitarianisme pada rezim Stalin dan Nazi. Kedua rezim ini dikenal memiliki kebencian terhadap satu kelompok (Yahudi), yakni kebencian yang sebenarnya bersumber megalomania. Bagi Arendt, kebebasan adalah dasar dari politik. Namun ia punya kritik terhadap kebebasan yang liberal karena kebebasan menurutnya selalu bersifat publik. Akar kebebasan yang dianut oleh Arendt adalah republikan klasik.
Judith Butler adalah seorang filsuf post-strukturalis yang memberi sumbangan pada feminisme, teori queer, etika dan politik. Bukunya yang menyedot perhatian adalah Gender Trouble (1990) yang mengenalkan ”teori performativitas” untuk mengulas jender dan seksualitas: bahwa tidak ada identitas jender yang asli, semuanya dibentuk melalui ekspresi dan ”pertunjukan” yang terus diulang hingga terbentuk ”identitas jender”. Jender dan seksualitas menurut Butler seperti drag contest, lomba kecantikan yang dilakukan oleh waria untuk membuktikan mereka adalah wanita yang sebenarnya.
Seyla Benhabib, seorang filsuf Yahudi-Turki, yang menggabungkan pendekatan teori kritik dan teori feminisme. Benhabib mengenalkan ”teori-teori demokratis” yang menekankan pada diskusi antar-budaya dan perubahan sosial. Benhabib menolak apa yang disebut sebagai”budaya yang murni”. Baginya, budaya terbentuk melalui dialog dengan budaya lain. Budaya manusia, menurutnya, selalu mengalami perubahan yang konstan yang terbentuk melalui batas-batas imajiner. Di sinilah kebebasan menjadi dasar bagi individu yang berhubungan dengan kelompok dan budayanya, serta kesetaraan yang berkatan dengan hak-hak kelompok dan budaya minoritas.
Ziba Mir-Hosseini adalah seorang pemikir, muslimah feminis dan aktivis dari Iran. Mir-Hosseini telah mengeluarkan buku-buku yang berkaitan dengan isu penikahan, Islam dan jender, serta Islam dan demokrasi di Iran. Buku terakhir yang ia tulis, Control and Sexuality, merupakan studi atas bangkitnya undang-undang yang mengatur moralitas hingga hukuman zina bagi perempuan di beberapa negara berpenduduk muslim seperti di Iran, Indonesia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
Program ini ditaja oleh Hivos.
English







Discussion 0 Comments